Sabtu, 17 Juli 2010

Kesaksian Teman

Kesaksian Teman

Tuntutan kebutuhan hidup, dari hari ke hari, cenderung meningkat. Apakah itu berkenaan dengan kebutuhan pokok atau sekunder. Yang akhir-akhir ini dirasakan semacam teror adalah begitu mendadaknya harga kebutuhan pokok melecit. Baru saja diisukan ada kenaikan gaji pegawai negeri sipil (PNS), misalnya, harga barang-barang dan jasa segera mendahului naik. Tapi, karena memang kebutuhan tertentu itu tak bisa ditunda, mau tidak mau, masyarakat berusaha mengejar memenuhinya. Walaupun barangkali kualitas barang dan jasa yang diperoleh lebih rendah. Yang terjadi kemudian pembicaraan seputar harga kebutuhan hidup merebak di masyarakat. Menjadi bahan diskusi di kampus-kampus; bahan omongan di warung-warung; bahan pergunjingan di tempat-tempat umum; bahkan tak menutup kemungkinan menjadi bahan peletup pertengkaran di rumah tangga.

Seperti biasa, yang berwenang (lalu) bersikap rensponsif. Segera menanggapi persoalan yang berkembang di masyarakat. Lembaga yang berwenang kemudian ”mengumumkan” tindakan gerakan operasi pasar. Hanya karena tindakan itu terpublikasikan lebih cepat, maka ketika pejabat turun ke pasar, tak ditemukan gejala apa-apa. Seolah-olah semua perputaran perekonomian di pasar ”beres”, berjalan seperti biasa. Tak ada penjual beras, terasi, dan gula, misalnya, tertangkap tangan saat melayani pembeli dengan harga yang tinggi. Yang berwenang lalu dengan berwibawa mengadakan jumpa pers di hadapan wartawan. Intinya, tak ada gejala tidak wajar di perputaran perekonomian pasar publik.

Orang-orang akhirnya kembali memasuki gerak kehidupan masyarakat seperti hari-hari kemarin, tetap dalam kesulitan-kesulitan. Maka, untuk bisa eksis, ”peluang” yang memungkinkan memberi hasil sekalipun bertentangan dengan hati nurani, tetap dijalani. Tak peduli norma agama, hak asasi manusia, apalagi risiko hukum. Semua itu bak tahi kuda, terinjak-injak di jalan tak berguna dan karenanya sedikit pun tak ada (lagi) perintang kala orang melakukan perbuatan demi menjaga stamina hidupnya.

Jangan-jangan kesaksian teman saya beberapa waktu yang lalu itu (memang) memiliki kaitan erat dengan realitas hidup manusia seperti tergambar di atas. Ketika ia hendak pulang kerja dengan motor kimkonya, tiba-tiba matanya tertuju pada seorang anak gelandangan sedang berjalan di tepi jalan raya Kudus-Pati, Jawa Tengah. Ketertarikannya itu rupanya karena si kecil gelandangan itu diikuti sebuah mobil carry. Tak jauh dari kios penjual buah-buahan, carry itu berhenti persis di sisi si kecil gelandangan. Pikir teman saya, ibu yang turun dari carry itu hendak membeli buah. Tapi, ternyata tidak. Justru ibu itu terlihat serius berbicara dengan si kecil gelandangan itu. Akan tetapi, tak lama kemudian ibu itu naik carry lagi dan carry pun meluncur lambat di jalan beraspal hitam searah jalur yang nanti (akan) dilewati teman saya.

Boleh jadi naluri teman saya, yang sebagai seorang ibu, begitu sensitif, didekatilah si anak gelandangan itu. Terlibat dalam perbincangan sebentar. Poin perbincangan itu adalah si anak gelandangan menolak ketika diajak naik carry oleh si ibu. Di samping itu, dugaan teman saya benar bahwa rumah si anak gelandangan itu berada di rumah penampungan gelandangan dan pengemis (gepeng), yang dibangun oleh dinas sosial. Karena lahan rumah penampungan gepeng dilewati teman saya, ditawarilah si anak gendangan itu mbonceng kimko. Si anak gelandangan itu ternyata tak mau dengan alasan tidak kenal teman saya.

Akhirnya teman saya mengurungkan niatnya. Ia menghargai penolakan si anak gelandangan itu. Bahkan, keputusan yang diambil si anak gelandangan itu, demikian teman saya bersaksi, patut diteladani oleh anak-anak lain. Jangan mudah terpengaruh tawaran, pemberian, atau ajakan orang yang belum dikenal. Jangan-jangan orang yang belum dikenal itu memiliki niat jahat. Ingin mendapatkan hasil secara finansial, misalnya, menjual anak itu, atau bisa saja menjual organ tubuh anak itu demi kepentingan (maaf) medis, yang memang beberapa media pernah memberitakan.

Mungkin, kini, yang menjadi sasaran orang tak bertanggung jawab demi memperoleh keuntungan tak hanya anak-anak orang kaya. Anak-anak orang miskin bahkan anak-anak gelandangan pun jadi. Dan, barangkali benar bahwa demi menutup kebutuhan hidup orang dapat berbuat apa saja, sekehendaknya, tanpa peduli apa pun. Orang-orang, kini, telah banyak yang kehilangan benak.

5 komentar:

  1. Duh...kok serem banget sih pak....
    Harga2 memang melangit...buat pensiunan sepertiku menjadi berat...

    BalasHapus
  2. wah topiknya masih seputar harga naik menjelang hari raya ya? masalah ni di negeri ini emang sangat kompleks dan ribet, sangat sulit nyari titik temu dan solusinya,

    BalasHapus
  3. jaman sekarang memang serba salah, orang harus lebih waspada, apa yg tanpa baik dan memberikan tawaran yg terbaik terkadang harus kita curigai..... serba salah, mau gimana lagi, banyak kejadian2 di TV yg bercerita tentang pelecehan seksual dan penjualan anak2 jalanan demi kepentingan pribadi, naluri mereka yg terbiasa ditempa oleh kehidupan jalanan membuat mereka jauh lebih waspada...... kehidupan sudah semakin sulit untuk dipercaya :(

    BalasHapus
  4. sepertinya ini kejadian rutin dan hal biasa di negeri ini. petani, pegawai kecil selalu pada posisi kalah dan rugi. lagi-lagi yang untung adalah makelar

    BalasHapus

""