Jumat, 23 Juli 2010

Ketika Mencermati si Kecil Belajar Bahasa

Ketika Mencermati si Kecil Belajar Bahasa

Sering kita jumpai anak bawah tiga tahun (batita) berkosa kata banyak. Setiap kata yang terucap dari mulut orang lain, baik langsung maupun lewat media (audio), ia tirukan. Sebisa-bisanya meniru. Kadang pengucapan kata tiruan itu kurang tepat. Terdengar lucu karena bisa jadi, misalnya, kata mancing berbunyi mancin, kata laler terucap lalel, dan sebagainya. Fenomena demikian kita jumpai pada banyak anak.

Hanya yang sering terjadi, sadar atau tidak, orang yang lebih dewasa dan telah mengerti benar pengucapan kata-kata, justru terbawa ke ”alam” ucapan anak-anak itu. Turut mengucapkan kata secara kurang tepat. Mungkin membeo gaya pengucapan anak dianggap sebagai bentuk perhatian, ungkapan kasih sayang, menghayati emosi anak, atau sekadar bermain-main.

Memang harus diakui bahwa pembeoan seperti itu mampu membangun hubungan lebih komunikatif, akrab. Karena, Anak akan langsung mengerti apa yang diucapkan oleh orang dewasa yang berbicara itu. Apa yang didengar persis dengan apa yang sering ia ucapkan. Persamaan ucapan itu memiliki nilai ikatan pengetahuan yang erat. Anak tidak akan salah mengerti. Coba kalau misalnya maksud yang serupa, tapi kata yang digunakan terucap secara berbeda, tentu anak akan mengalami kesulitan memahami. Yang, akhirnya menimbulkan komunikasi yang terputus.

Akan tetapi, di sisi lain, pembeoan (yang dilakukan orang dewasa) dalam rentang waktu yang berlarut-larut ternyata menutup kemungkinan anak untuk memperoleh pelafalan benar atas kata dalam waktu yang relatif lebih singkat. Dalam pikiran anak mungkin sikap berbahasa yang dilakukan selama ini telah dianggap benar. Dan karenanya ia tak mau berubah. Padahal, (jelas) ini bukan sebuah pembelajaran yang menguntungkan.

Yang menguntungkan mungkin apabila orang dewasa melafalkannya dengan cara yang benar sejak awal ketika membangun komunikasi dengan si kecil. Mancing ya mancing, misalnya, atau laler ya laler. Si kecil awalnya tentu akan merasa kesulitan dalam meniru pelafalan kata secara benar itu. Tetapi, tak apa. Sebuah perubahan memang menuntut adanya risiko. Dan, saya berpikir, risiko si kecil untuk mengubah kebiasaan melafalkan ”kata” secara salah menjadi benar, tidaklah berakibat fatal. Kesulitan itu hal yang biasa karena sulit bukan berarti tidak bisa sama sekali. Pasti bisa, hanya mungkin perlu bersabar sedikit karena sebuah proses selalu membutuhkan waktu.

Memang benar jika si kecil melafalkan kata-kata tertentu sering memunculkan ”kelucuan” yang kita rindukan. Ada kekhasan yang unik dari ucapan si kecil. Yang, bisa saja menjadikan kesuntukan pikiran dan kelelahan fisik kita hilang. Lantas muncul kesegaran kembali, yang memungkinkan kita beraktivitas aktif lagi. Tapi, agaknya kurang pas kalau hendak membangun kesegaran kita kembali lantas membiarkan si kecil berlafal salah berlama-lama bahkan kita (sengaja) membeonya. Sikap demikian barangkali malah akan memperlambat pengenalan anak terhadap pengucapan kata secara benar.

Si bungsu, yang usianya kurang dari tiga tahun, memang lucu ketika mengucapkan kata coklat seperti yang biasa diucapkan kakaknya, karena ternyata agak aneh; demikian juga saat mengucapkan kata klimis. Kakaknya memang sering mengucapkan kata coklat secara cepat sehingga huruf e yang seharusnya berada di antara konsonan k dan l, hilang. Dan, hilangnya satu abjad itu ternyata berakibat si bungsu hanya dapat mengucapkan cokat; serupa juga kata klimis menjadi kimis. Terhadap kata-kata yang di dalamnya ada konsonan dobel kl ternyata juga sulit dilafalkan secara benar. Misalnya, klakson dan klepon, jadinya kakson dan kepon.

Saya mencoba memberikan contoh mengucapkan kata klimis, klakson, dan klepon dengan pengucapan agak lambat karena sengaja di antara konsonan kl saya sisipi abjad e. Jadi bunyinya, kelimis, kelakson, dan kelepon. Ternyata si bungsu bisa mengikuti ucapan itu. Saya sadar bahwa pelafalan demikian itu salah, karena yang benar memang klimis, klakson, dan klepon (tanpa abjad e). Tapi, bagi saya sebagai tahap awal untuk mengenalkan pengucapan menuju pelafalan yang sebenarnya tidaklah salah jika memberi umpan terlebih dahulu. Tentu lebih baik si bungsu mengucapkan kelimis daripada kimis, kelakson ketimbang kakson, dan kelepon daripada kepon. Sementara itu, pengucapan coklat menjadi cokelet tak menimbulkan masalah karena memang demikian seharusnya. Yang masih menjadi persoalan hingga kini adalah saat mau mengajarkan pengucapan laler, yang selalu (saja) diucapkan lalel. Berkali-kali lalel...lalel....lalel.... Tapi, menarik memang ketika mau mencermati si kecil belajar bahasa.

5 komentar:

  1. Orangtua atau pemomongnya sering menganggap lafal anak yang salah sebagai hal lucu...malah jadi nama panggilan orang akhirnya berganti seperti nama yang dipanggil anak saat kecil, bukannya kok dibetulkan.

    BalasHapus
  2. saat anak belajar berbicara, saat itu juga otaknya paling maksimal untuk mencerna. ia akan terus berusaha belajar tentang dunia baru. lucu emang kalo melihat dia belajar, semoga aja kelak jadi anak yang berbakti

    BalasHapus
  3. agaknya anak2 batita memang masih mengalami hambatan dalam melafalkan bunyi2 konsonan, pak. diperlukan pendekatan tersendiri dari orang tua dalam menumbuhkembangkan kemampuan berbahasa, khususnya dalam pelafalan. orang tualah yang menjadi referensi utama di anak dalam berbahasa.

    BalasHapus
  4. Postingan yang menarik..
    Di sini untuk anak Indonesia yang sedang belajar lucu juga Pak.
    Mereka instingnya langsung berbahasa Inggris karena lingkungan, tapi orang tua seperti saya tetap memaksakan bahasa Indonesia jadi lucu kadang mereka berbahasa Indonesia dengan logat Inggris, kadang memakai bahasa Inggris berlogat Indonesia dan kadang mencampur-campurkan keduanya :)

    Nanti saya ceritakan kapan2 di blog saya :)

    BalasHapus
  5. hahahahha.... kita yg dewasa yg ikut2an imut, habis kadang pelafalan mereka begitu menggemaskan sehingga kita ikut terjebak di dunia mereka. tapi yg gawat jika proses pembeoan itu merekam kata2 jorok dan kasar yg tanpa sadar sering kita ucapkan

    BalasHapus

""