Minggu, 11 Juli 2010

Media (massa), Guru yang Jitu

Media (Massa), Guru yang Jitu

Anak kami, si bungsu, hampir tiga tahun usianya, telah dapat menyanyikan lagu dalam sinetron Kemilau Cinta Kamila (KCK) yang ditayangkan RCTI, meski tak utuh. Kakaknya tak pernah secara serius ”menggurui” (sebaliknya bahkan sering menggoda), apalagi kami. Ia dapat berguru langsung pada media yang ditontonnya. Kenyataan itu, tak hanya dialami oleh anak kami, banyak anak lain yang ternyata begitu responsif terhadap tayangan yang ada di media. Mereka begitu cepat mengenal bahkan menirukan lagu dan gerakan tokoh dalam tayangan televisi. Ingatan mereka begitu lengket sehingga tokoh yang pernah dijumpai di layar televisi, jika di lain waktu tokoh tersebut diiklankan di baliho di tepi-tepi jalan, anak akan langsung mengenal. Ia menunjuk-tunjuk sembari menyebut-sebut nama tokoh tertentu. Bahkan, mereka pun ingat jam tayangnya.

Begitulah anak-anak mudah menangkap materi ”pembelajaran” lewat media itu. Anak-anak lekas mengenal huruf-huruf, kata-kata, warna-warna, berbagai jenis makanan, minuman, pakaian, tokoh-tokoh sinetron, filem, dan sebagainya. Kalau dibandingkan dengan anak angkatan saya (dulu) dalam rentang usia yang sama, anak-anak masa kini jauh lebih cerdas. Cepat mengikuti perkembangan informasi yang terus tersebar lewat media. Tentu harus diakui ada banyak faktor yang turut menentukan, di antaranya, faktor gizi dan ketersediaan media.

Itulah sebabnya, kini, dijumpainya anak melakukan penyimpangan perilaku seks, misalnya, tak dapat dilepaskan dari peran media, lebih-lebih media eletronik. Begitu pula penyimpangan perilaku hidup yang (akhir-akhir ini merebak) dialami orang dewasa, kurang lebih berangkat dari hal yang sama. Media dengan demikian boleh jadi merupakan ”guru” yang efektif dalam menyematkan sikap, pandangan, prinsip, gaya, dan kebiasaan hidup masyarakat.

Hanya sayang, demi melayani pasar agar sebanyak-banyaknya mengeruk keuntungan, apakah secara politis atau ekonomis, media agaknya sering kurang proporsional dalam menayangkan sajian untuk publik. Sajian yang secara politis menguntungkan pihak tertentu, misalnya, jam tayangnya lebih banyak. Demikian juga yang secara ekonomis membuat pundi-pundi harta segera penuh, penayangannya dibuat sebombastis mungkin. Menarik masyarakat pasar, yang ujung-ujungnya penawaran iklan komersial terus membanjir.

Sementara itu, sajian yang bersifat edukatif di hampir semua media elektronik, jamnya nyaris tak ada. Atau jujur dikatakan, durasi yang disedikan sangat minim. Ini pun berlaku juga untuk iklan, baik di bidang kesehatan, pendidikan, maupun lingkungan, yang mungkin dikategorikan sebagai iklan pengumuman nonkomersial. Padahal, mengingat pengaruh media terhadap publik demikian kuat, seyogianya pembangunagan karakter lewat media jangan terabaikan. Lucunya, tayangan sinetron, misalnya, yang hingga ratusan episode, yang ternyata tak sedikit menghipnotis anak bahkan orang dewasa menjadi konsumeris, hedonis, dan egois justru semakin meruah.

Kini, peran media tak dapat disangkal (seakan) telah ”menggeser” peran guru dan orang tua/wali murid dalam menanamkan nilai-nilai dalam diri anak. Malah tak menutup kemungkinan, seperti yang telah disinggung di atas, orang dewasa pun ada juga yang keberadaan hidupnya ”dikendalikan” oleh media. Maka, hadirnya media yang memberi kontribusi positif terhadap pembangunan karakter lewat program-programnya sangat dirindukan.

5 komentar:

  1. Pak, beberapa hari yang lalu saya pingin menulis "Pak Sastro MENGGUGAT MEDIA", tapi masih terkendala kesibukan penerimaan peserta didik baru. saya setuju dengan pendapat sampeyan. YUK kita kampanyekan dankita dorong media untuk berlaku positif terhadap sumberdaya manusia ke arah positif. berbagai pertanyaan ke media telah ada di benak saya
    1. mengapa video mesum mendapat porsi yang banyak
    2. mengapa korupsi selalu di gemborkan
    3. mengapa perkelahian selalu dipertontonkan
    4. mengapa kekerasa menjadi santapan setiap pagi
    dan masih banyak lagi

    BalasHapus
  2. Setuju, televisi memang berbahaya krn daya
    serap orang terhadapnya luar biasa bagusnya

    BalasHapus
  3. itulah sebabnya, para pengelola media juga perlu memiliki kearifan, pak. kalau hanya ingin duitnya doang, sementara membiarkan anak2 menyaksikan tayangan yang kurang edukatif, bisa makin repot. ujung2nya malah guru yang disalahkan, haks.

    BalasHapus
  4. media merupakan alat ampuh untuk menyebarluaskan berbagai informasi bagi berbagai lapisan masyarakat. jadi, bila menginginkan warga bangsa ini baik, hendaknya media memberikan informasi yang positif.

    BalasHapus
  5. @Bu Bekti:
    Setuju Bu, mari kita suarakan, seperti ajakan Pak Budi!
    Salam kekerabatan.

    BalasHapus

""