Sabtu, 03 Juli 2010

Menghargai Potensi (Dasar) Anak

Menghargai Potensi (Dasar) Anak

Orangtua harus lebih terbuka. Tidak memaksakan kehendaknya untuk anak. Sering hanya karena melihat keberhasilan orang lain di bidang tertentu, orangtua serta merta menyuruh anak untuk ”meniru” yang dicapai orang tersebut. Padahal, mungkin saja, anak tidak memiliki potensi untuk meraih hal itu. Misalnya, orangtua melihat bahwa pegawai bank itu sepertinya hidup makmur, lantas anaknya disuruh (begitu saja) masuk sekolah akuntansi/ekonomi, atau sekolah lain yang terkait dengan perbankan. Lebih celaka kalau orangtua tak mau tahu bahwa sebenarnya anaknya justru memiliki potensi di bidang seni, misalnya, yang jika dikembangkan sejak dini tidak menutup kemungkinan membawa sukses hidup di hari kelak, bahkan dapat saja melebihi kemakmuran pegawai bank.

Kalau pola pikir orangtua yang demikian tak diubah, di samping potensi (dasar) anak tak berkembang, juga pendidikan yang dijalani tak dapat ”berjalan” wajar. Tak berkembang karena potensi (dasar) yang dimiliki anak tak diberi ”ruang” agar teraktualisasi secara baik. Bisa-bisa potensi (dasar) itu justru terkubur. Yang, pada akhirnya menyodorkan ”keburaman” masa depan. Sementara, dikatakan tak ”berjalan” wajar karena boleh jadi pendidikan yang diikuti anak oleh karena ambisi orangtua, hanya dipandang sebelah mata. Dalam arti, tak dilakukan anak secara sungguh-sungguh. Hal demikian jelas berakibat fatal karena tentu menghasilkan capaian yang tak maksimal. Yang, bermuara pada ketidakpastian masa depan.

Justru, kini, semestinya (semacam tuntutan) orangtua berupaya menggali potensi (dasar) anak sejak dini. Oleh karena itu, pemahaman bahwa setiap manusia dianugerahi potensi dasar khas oleh Sang Khalik perlu dimiliki setiap orangtua. Pemahaman tersebut menjadi dasar agar orangtua tak terjebak pada ambisi kehendak sendiri. Akan tetapi, benar-benar memerhatikan keberadaan anak dengan cermat, di antaranya lewat kebiasaan, perilaku, perbuatan, dan kesukaan/hobi yang dilakukan, demi menemukan potensi (dasar) yang dimiliki anak. Sebab, sangat jarang anak memiliki kepedulian menemukan potensi dasarnya (sendiri) karena ”sifat anak-anak” yang memang cenderung tak acuh itu. Peran orangtua dengan demikian sangat dominan.

Penemuan potensi (dasar) anak, yang bersifat khas dan unik itu, tentu akan memudahkan dalam memilih lembaga pendidikan yang sesuai. Dengan demikian dua hal diperoleh sekaligus untuk mendorong pertumbuhan potensi (dasar) anak. Pertama, dengan diperolehnya ”ruang” aktualisasi yang representatif (lewat lembaga pendidikan/pengembangan) akan sangat mendorong potensi (dasar), yakni bakat/talenta anak berkembang pesat. Kedua, pendidikan yang dijalani anak karena sesuai dengan keinginannya, bukan karena (sekali lagi) ambisi orangtua, secara psikologis, akan mempercepat juga berkembangnya potensi (dasar) yang dimiliki.

Apalagi komunitas yang memiliki misi dan orientasi yang sama, seperti sekumpulan anak penggemar karya ilmiah remaja (KIR), penyuka musik, pegiat pramuka, pencinta bahasa Inggris, pelaku teater, diakui atau tidak, secara kolektif tentulah menyemburkan spirit kemajuan bagi anggota kelompok. Dan, potensi (dasar) anak tentu akan lebih bisa berbiak dengan maksimal dan karenanya berkualitas baik.

Pemikiran ini dimunculkan, sebetulnya, berangkat dari ”kegelisahan” betapa, kini, mencari pekerjaan telah dirasakan begitu sulit. Tentu ke depan akan semakin sulit. Sebab, ada kecenderungan lapangan pekerjaan tak bertambah, sementara jumlah angkatan pencari kerja dari tahun ke tahun semakin meningkat. Dan, Minimnya peluang kerja pasti berimplikasi pada meningginya tingkat selektivitas penerimaan tenaga kerja. Itu berarti akan menyisakan banyak angkatan kerja, yang pada akhirnya tak mendapatkan pekerjaan.

Di sinilah letak pentingnya orangtua menggali potensi (dasar) anak sekaligus menjauhkan sikap ambisi pribadi. Manakala potensi (dasar) anak mendapat pengakuan orang lain, lebih-lebih orangtua, tentu akan sangat membangun kepercayaan diri terhadap apa yang dimiliki. Pangakuan itu dapat berupa, tidak hanya memfasilitasi pengembangan potensi (dasar) anak, tetapi juga ”menghargai” keberadaan anak dengan cara memupus keinginan-keinginan pribadi. Jelasnya, orangtua harus bersikap mau ”mengalah” demi ”kemenangan” anak.

Melalui ikhtiar orangtua seperti itu, niscaya potensi (dasar) anak yang khas dan unik, yang telah ditumbuhkembangkan itu, dapat digunakan sebagai ”modal” hidup. Sekalipun anak (yang sudah remaja/pemuda) tak mendapatkan pekerjaan di lembaga swasta atau instansi, misalnya, ia berpeluang membuka usaha sendiri. Bahkan, bukan tidak mungkin dengan ketekunan dan motivasi, yang tidak hanya dari orangtua, tetapi dari berbagai pihak, usaha yang digeluti dapat berkembang pesat. Yang, ujung-ujungnya dapat menyerap tenaga kerja. Semoga.

7 komentar:

  1. mengenai potensi dasar anak, saya tertarik dengan teknologi scan sidik jari untuk mengetahui potensi anak. bila saja harganya tidak mahal, teknologi ini pasti sangat bermanfaat sekali bagi seluruh rakyat indonesia.:)

    BalasHapus
  2. Menggali potensi dasar anak ini susah-susah gampang apalagi orangtua sering mencampur adukkan keinginan dalam hati dengan realitas. Saya dulu menilainya dari hasil penilaian tes psikologi, dan wawancara psikolog dengan anak.

    Btw, banyak perusahaan, saat ini menerima lulusan S1 dari berbagai latar belakang pendidikan. Jadi, seperti Perbankan, tak harus kuliah ekonomi, sekarang banyak bankir yang asalnya dari lulusan teknik, psikologi, sospol, pertanian dll. Dan mereka bisa mencapai jajaran Direksi Bank.
    (sekedar info)

    BalasHapus
  3. saya sebagai calon orangtua sangat berterimakasih dengan adanya artikel ini ^^.... ijin copy ya :)

    BalasHapus
  4. @Tukang Colong:
    Ini sebuah info yang sungguh menarik, siapa tahu ke depan, banyak orangtua atau lembaga di Indonesia (akhirnya) memiliki demi generasi. Kalau pun tidak, sepertinya "ilmu titen" orangtua dapat dipakai untuk menyimpulkan ke arah mana anak berpotensi.

    @Bu Edratna:
    Terima kasih atas info yang disertakan, Bu.

    @Om Firdaus:
    Ya, Om, silakan fotokopi! terima kasih perhatiannya.

    BalasHapus
  5. jadi inget lirik2nya kahlil gibran, pak, "anakmu bukanlah anakmu". konon, anaklah yang punya hak utk melepas anak panah yang hendak mereka tuju.

    BalasHapus
  6. @Tukang Colong:
    Menarik jika memang perangkat itu dapat terpenuhi. Tapi kalau tidak, cara tradisional pun boleh dipakai, yakni "ilmu titen" (pencermatan perilaku/kebiasaan). Ortu dapat memanfaatkan "ilmu titen" itu untuk menyimpulkan potensi anak.

    @Bu Edratna:
    Terima kasih atas infonya, Bu.

    @Om Firdaus:
    Silakan, Om, dikopi! Terima kasih atensinya.

    @Pak Wali:
    Benar, Pak, ortu tinggal mengikuti dari "kejauhan" sembari menyediakan ruang sasar dengan tepat.

    BalasHapus
  7. Di sini orang sangat peduli dengan potensi anak, Pak. Banyak dari mereka yang memilih untuk berhenti sekolah seandainya menemukan potensi anak yang memang tidak cocok dan tidak ditemukan di sekolah, misal olahraga meski nanti ketika sudah mentok karir olahraganya, mereka dengan mudah kembali ke sekolah :)

    BalasHapus

""