Selasa, 06 Juli 2010

MOPD yang Bermanfaat

MOPD yang Bermanfaat

Setiap awal tahun pelajaran, di sekolah, baik di SMP/MTs maupun SMA/MA/SMK, melekat sebuah kegiatan yang diprakarsai organisasi siswa intra sekolah (OSIS), yang dikenal dengan sebutan masa orientasi peserta didik (MOPD) baru, atau yang dulu disebut masa orientasi siswa (MOS) baru. MOPD bertujuan untuk mengenalkan calon peserta didik baru terhadap lingkungan sekolah, yang nantinya sebagai tempat untuk menggumuli ilmu. Lingkungan (dalam hal ini) tak hanya diartikan sebatas tempat, tetapi juga meliputi gerak hidup komunitas, sarana prasarana, bahkan suasana batin sekolah.

Artinya, calon peserta didik baru di samping, misalnya, (harus) mengenal kepala sekolah, guru, karyawan, kebun sekolah, lokasi ruang perpustakaan, laboratorium bahasa, dan komputer, juga harus mengetahui pengelolaan organisasi yang ada di sekolah, bagaimana hubungan guru dengan peserta didik, guru dengan guru, seperti apa ikatan antarpeserta didik, proses pembelajaran, tata tertib, dan sebagainya.

Calon peserta didik baru juga disadarkan bahwa semakin luasnya sebuah ”pergaulan”. Mereka diperjumpakan dengan ”sahabat” dari latar belakang yang semakin beragam dan dalam ruang lingkup yang semakin luas. Bisa saja asal sekolah, tempat tinggal, status sosial, agama, budaya, gender, suku, kompetensi, dan sebagainya. Idealnya, satu dengan yang lain dikondisikan saling mengenal. Membangun hubungan yang saling menghargai, menghormati, dan menjunjung kesetiakawanan.

Harapannya, agar calon peserta didik baru memiliki ”modal” awal untuk memasuki sekolah (baru). Rasa ”canggung” biar sedikit terkurangi. Ketika nanti memasuki proses pembelajaran di kelas pun tak mengalami ketegangan. Sebab, berada di situasi dan kondisi yang sama sekali baru sering menimbulkan perasaan-perasaan yang ”berbeda” dari biasanya, seperti cemas, tegang, khawatir, dan takut.

Hanya sayang, dalam MOPD, yang sebenarnya efektif untuk ”melekatkan” calon peserta didik dengan keberadaan lingkungan pembelajaran baru itu, hingga kini, masih dijumpai kemasan acara yang kurang mengutamakan nilai kesetaraan. OSIS, yang memiliki kerja ini, masih terkesan ”memperdaya” calon peserta didik. Betapa tidak, masih ada saja perintah untuk memakai topi dari bola plastik yang diberi pita untuk anak putra; untuk putri, disuruh mengenakan dua sampai tiga atau bahkan lebih pita di rambut. Memakai satu pita saja, kini, sulit kita jumpai. Apalagi memakai pita lebih dari satu. Bisa jadi ”muter” satu kampung pun barangkali tak menemukan anak gadis yang berpita begitu.

Rambut berpita, dulu, sering kita jumpai. Hampir setiap gadis kecil memakai pita rambut. Menambah kecantikan dan penampilan menarik. Kini, memakai pita rambut, apalagi yang masih manual dan berwarna mencolok, akan terkesan lucu. Maka, anak gadis seusia SMP dan SMA yang disuruh mengenakan pita dalam MOPD lebih banyak mau karena ”terpaksa”. Mereka cenderung nurut sama kakak kelas, asal tak menerima ”hukuman”.

Topi dari bola plastik yang diberi pita lalu dikenakan, jelas tak umum. Ini tindakan yang mengada-ada. Mempermalukan. Apalagi kalau piranti itu dipakai juga dalam baris-berbaris. Tentu jauh dari sikap menghargai.

Diakui atau tidak, perlakuan OSIS yang demikian itu, melenceng dari tujuan awal. Jika tujuannya mengenalkan calon peserta didik terhadap lingkungan pembelajaran baru, mestinya ada cara-cara yang lebih baik. Bukan menimbulkan sikap ”malu” dan rasa ”tertindas”, tetapi sebaliknya (justru) membawa suasana ”baru” agar calon peserta didik bahagia, senang, nikmat, yang pada akhirnya menemukan kebebasan beraktivitas penuh kreasi dan inovasi dalam kebersamaan.

Maka, penting kiranya pendampingan guru (dalam hal ini urusan kesiswaan dan pembina OSIS) secara sungguh-sungguh saat MOPD. Kegiatan-kegiatan yang bersifat rekreatif dan edukatif wajib dihidangkan. Yakni, kegiatan yang menyenangkan calon peserta didik dan sekaligus memberikan pembelajaran yang bermanfaat, baik bagi dirinya maupun masyarakat, bangsa, dan negara.

Tak masanya lagi MOPD menjadi ajang perploncoan; senior memperdaya yunior. Tapi, menjadi wadah membangun keakraban dalam membentuk pribadi yang berkarakter; komunitas yang memiliki sikap (saling) simpati dan empati; bahkan peduli terhadap sesama. Selamat ber-MOPD!

7 komentar:

  1. setuju pak, sekolah kami MOPD mulai tanggal 13 juli nanti.
    masih pakai verifikasi ya pak kalau mau komen?

    BalasHapus
  2. oooo ernyata enggak pakai verifikasi kata, dan ini memang berisiko spam, tapi tujuan kita khan mendapat masukan dan mendapat kritikan dari pengunjung sebanyak-banyaknya, kalau mau komen saja dipersulit...gimana kita mendapat masuukan ya pak

    BalasHapus
  3. bener pak..asal pendekatan pendidik dan didik yang baik MOPD dapat diarahkan ke arah yang posistif...

    BalasHapus
  4. sara baru tau kalo MOS udah ganti nama. semoga dari pergantian nama ini emang ada perubahan positif. orientasi berlandaskan akademik tanpe perpeloncoan.:)

    BalasHapus
  5. iy ney pak, skrg bkin acara MOPD merepotkan, ngga blh bgini ngga blh begitu, apa lagi ketua OSISnya (yg kbetulan saya yg menjabat.. hehe..) hrs mondar-mandir tny sma pembina ap blh gini ap blh gt sekaligus meyakinkan agar ide2 OSIS bs d setujui... y, alhasil saya & teman2 setuju dgn perpeloncoan yg tdk terlalu over :D

    BalasHapus
  6. Kadang perpeloncoan itu berakibat hal-hal yang tak kita inginkan....bagaimanapun guru harus ikut membantu menjaga lingkungan sekolah atas pelaksanaan MOPD ini agar benar-benar bermanfaat.

    Masalahnya, kadang hal tak terduga terjadi diluar lingkungan sekolah

    BalasHapus
  7. Sudah basi acara MOPD dengan model pepeloncoan ala militer, apalagi sampai mengada-ada yang justru jauh dari kesan edukatif.
    Setuju banget dengan entri ini.

    BalasHapus

""