Senin, 26 Juli 2010

Pendidikan Karakter Perlu Proses Pembudayaan

Pendidikan Karakter Perlu Proses Pembudayaan

Sebagai guru dalam rentang waktu yang sudah relatif lama, saya merasa, selama keberlangsungan pembelajaran di sekolah yang saya alami, peserta didik, dari waktu ke waktu, agaknya mengalami penurunan kualitas keterlibatan penghayatan dalam proses pembelajaran. Di antaranya ditandai dengan rendahnya semangat belajar, tingginya sikap bergantung, menipisnya kepedulian terhadap lingkungan, dan semakin memudarnya rasa kesetiakawanan dan kebersamaan.

Meski tidak menimpa seluruh peserta didik, tapi sering kita jumpai sebagian besar peserta didik mau beraktivitas belajar jika diperintah terlebih dahulu. Malah saat diberi tugas pun, sering peserta didik bertanya dulu kepada gurunya. Apakah tugas itu nanti dinilai atau tidak/dikumpulkan atau tidak. Sikap yang tersembunyi di balik pertanyaan itu dapat diduga: mereka, peserta didik itu, malas berusaha dan belajar. Padahal, tugas yang diberikan seharusnya dipahami sebagai ”media asah” keterampilan hidup mereka.

Kita pun tak perlu kaget, misalnya, dalam satu kegiatan individu ditemukan hasil kerja yang serupa satu peserta didik dengan peserta didik yang lain. Seharusnya tak serupa sebab masing-masing peserta didik (memang) memiliki tingkat interpretasi tak sama. Kalau ternyata ditemukan tak berbeda (sama sekali) boleh jadi satu dua peserta didik menjadi modelnya, yang lain mencontoh. Itu artinya, ada sebagian peserta didik yang bergantung pada temannya. Jelas itu pembelajaran yang sama sekali tak menguntungkan.

Berapa banyak peserta didik yang mengacuhkan sampah yang berserakan di dekatnya? Tidak banyak jumlahnya, atau bahkan tidak ada sama sekali. Sampah dibiarkan begitu saja mengotori ruang kelas, mengotori teras kelas, halaman sekolah, dan sebagainya. Dan yang menyedihkan, meskipun telah dijadwal piket, tanaman pot yang harus disiram, ternyata diabaikan begitu rupa hingga tanaman pot itu mati kekeringan. Pada akhirnya, ketika wali/guru kelas bertanya, mereka, peserta didik itu, saling melempar tanggung jawab. Benar-benar kepekaan terhadap lingkungan telah hilang dari genggaman.

Di samping itu, tiba-tiba di rumah anak-anak bercerita kepada orang tuanya bahwa di sekolah ia berteman dengan si A, tapi tak berteman dengan si B. Lebih suka masuk kelompok ini daripada menggabung kelompok itu. Peserta didik telah membangun grup sendiri-sendiri. Memiliki teman kelompok sendiri. Kalau dimasuki oleh anak baru, misalnya, belum tentu diterima. Mereka menolak atau menerima. Mereka mendirikan sekat-sekat pertemanan. Dan, kenyataan itulah yang membawa mereka pada sikap kurang dapat menghargai orang lain. Nilai kebersamaan dihayati hanya untuk sekelompok orang saja. Belum bisa menerima semua sebagai bagiannya. Maka, tak jarang kita jumpai, misalnya, tawuran antarpelajar dan perkelahian pelajar.

Disadari atau tidak, sikap-sikap destruktif demikian itu melekat juga pada orang dewasa dan tak menutup kemungkinan telah merambah ke wilayah sebagian guru. Mudah kita lihat tayangan bentrok antarwarga, lempar batu antara kelompok masyarakat dengan aparat, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), guru yang malas mengajar atau mengajarnya asal-asalan, administrasi guru yang hanya copy paste, dan sebagainya-dan sebagainya.

Kelemahan sistemik yang merambah hampir ke seluruh eleman masyarakat itu diyakini banyak orang, termasuk pemerintah, karena pendidikan karakter yang kurang terakomodasi dalam kurikulum pendidikan. Pendidikan, selama ini, hanya berorientasi pada pengetahuan. Sikap, moral, dan mental kurang menjadi perhatian. Barangkali nilai-nilai kehidupan itu dipandang telah melekat dengan sendirinya di tiap-tiap orang, tanpa melalui proses pembudayaan. Padahal, nilai-nilai itu bagaimana pun juga penanamannya memerlukan proses pembudayaan, baik di sekolah, keluarga, maupun masyarakat.

Dan harus diakui meski selama ini orientasi pendidikan cenderung ke ranah pengetahuan, ternyata ilmu pengetahuan yang dimiliki peserta didik negeri ini masih ketinggalan jauh dari peserta didik negeri jiran. Lemahnya karakter (yang terlihat pada rendahnya semangat belajar, tingginya sikap bergantung, menipisnya kepedulian terhadap lingkungan, dan semakin memudarnya rasa kesetiakawanan dan kebersamaan), saya pikir, penyebab rendahnya kualitas pengetahuan peserta didik negeri ini. Pendidikan karakter dengan demikian (harus) dipandang sebagai pondasi pendidikan pengetahuan. Maka, apabila pendidikan karakter benar-benar telah merasuk dalam sanubari, mudahlah meraih dan ”tertiblah” memanfaatkan pengetahuan dalam keberlangsungan kehidupan.

Pendidikan karakter, yang oleh Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI, dicanangkan sejak 2 Mei 2010, memang harus direspon positif oleh setiap elemen masyarakat. Kementerian Pendidikan Nasional RI, misalnya, telah berinisiatif memasukkan nilai-nilai karakter itu ke dalam kurikulum pendidikan. Pendidikan karakater diintegrasikan ke mata pelajaran (mapel) yang diterimakan kepada peserta didik. Kalau dulu, pendidikan karakter penyampaiannya hanya melalui mapel Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dan Agama, kini, mapel Bahasa Indonesia, IPS, Bahasa Inggris, dan beberapa mapel lain memiliki tanggung jawab moral untuk memuat pendidikan karakter itu.

Akan tetapi, jika pembudayaan nilai-nilai karakter hanya memanfaatkan corong sekolah (yang sasarannya peserta didik), rasanya, upaya itu akan menemui kendala. Taruhlah misalnya, peserta didik telah memperoleh pendidikan karakter di sekolah, tapi ketika mereka berada di luar sekolah tak dijumpai praktik pendidikan karakter, maka sia-sialah pembudayaan nilai-nilai karakter di lembaga formal itu. Maka, Pembudayaan pendidikan karakter (juga) harus menjadi kurikulum pendidikan dalam keluarga dan masyarakat, baik lembaga swasta maupun instansi.

10 komentar:

  1. Kalau kupikir sebenarnya ini pun terkait dengan sulitnya paradigma pengajar, mereka hanya bertanggung jawab disekolah padahal bagaimanapun apa yang diajarkan nantinya harus dilaksanakan murid diluaran.

    Makanya menurutku tahap penilaian sebenarnya diluar bukan didalam sekolah.

    BalasHapus
  2. @ Arham:
    Terima kasih telah berkunjung, menjalin persahabatan.

    Itulah sebabnya, pembelajaran di sekolah kini memanfaatkan pendekatan kontekstual (yang dipelajari siswa di sekolah erat terkait dengan kenyataan di masyarakat). Dan, karenanya masyarakat, secara kultural, memiliki peran besar di dalam memberikan penilaian "keluaran" sebuah lembaga itu diterima masyarakat pemakai atau tidak. Kalau tidak diterima masyarakat pemakai, tentu lambat laun lembaga itu akan tenggelam dengan sendirinya, tergerus hukum alam.

    Salam kekerabatan.

    BalasHapus
  3. saya sangat setuju kalau hal ini mengaitkan banyak pihak, namun sebelumnya sebagi bagian dari korp guru, saya juga sering merasa prihatin pada diri saya dan teman-teman sejawat yang hanya mengedepankan "pasang tampang serem" saat mengajar, tetapi ketika di masyarakat guru tersebut jauh dari apa yang dikatakannya ketika di dalam kelas. keteladanan, saya sering menggaris bawahi dan selalu mengajak rekan-rekan sejawat untuk memberikan keteladanan di kelas dan di masyarakat, sehingga pendidikan karakter yang dimaksud benar-benar sebagai sebuah amalan, bukan sekedar penilaian

    BalasHapus
  4. memang benar, pak, selain penanaman nilai2 karakter dan kepribadian melalui ranah pendidikan, lingkungan tempat anak2 hidup dan bergaul secara sosial juga sangat penting peranannya. selain itu, juga butuh keteladanan dari tokoh2 yang secara sosial memang layak menjadi teladan. semoga ide pendidikan karakter ini benar2 bisa membumi di negeri ini.

    BalasHapus
  5. memang yang bapak rasakan, sering pula saya rasakan di lingkungan saya. sungguh memprihatinkan memang. untuk itu, pendidikan karakter sepertinya tidak bisa ditunda lagi. dan ini tentunya membutuhkan kesadaran berbagai pihak (sekolah, keluarga, dan masyarakat), agar karakter generasi sekarang yang terlanjur serba instan (gak perlu dan gak mau susah untuk mendapat hasil yang melimpah)dapat segera dibenahi.

    BalasHapus
  6. Saya ingat, saat peratma kali berhubungan dengan psikolog gara2 si sulung bandel di sekolah...psikolog mengatakan...

    "Ibu mendidik anak dengan cara modern, suasana demokratis, namun kenyataan dilapangan masih banyak guru yang sikapnya seperti guru zaman ibu masih sekolah dulu..."

    Dulu, mungkin kami tak ada masalah dengan guru galak, guru otoriter dsb nya...namun cara mendidik anak sekarang memang beda. Hal ini tak hanya dijumpai pada suasana kelas, namun juga situasi di kantor. Dulu, rasanya saya takut sekali sama manager, rasanya jabatan tsb sudah tinggi banget...saat saya menjadi manager, bahkan general manager....ehh anak buahku santai aja....jadi memang pimpinan, guru juga harus ikut berubah..menjaga agar situasi pembelajaran dll menjadikan semangat, saling hormat, walau kondisi lingkungan lebih terbuka, sangat berbeda dibanding zaman dulu.

    BalasHapus
  7. "Nice artikel, inspiring ditunggu artikel - artikel selanjutnya, sukses selalu, Tuhan memberkati anda, Trim's :)"

    BalasHapus
  8. @Yohan:
    Terima kasih telah berkunjung, menjalin kekerabatan.
    Tuhan pun memberkati Anda.
    salam kenal dan kekerabatan.

    BalasHapus
  9. saya sudah merokok sejak di bangku SMP :( Alhamdulillah sekarang saya sudah bisa berhenti, dan banyak manfaat yg bisa saya dapatkan ketika berhenti merokok. walau belum pernah memakai narkoba saya merasa efek kecanduan merokok hampir seperti narkoba, lalu kenapa pemerintah tidak berani mengambil sikap tegas terhadap rokok. sebagai mantan konsumen saya juga merasa menjadi korban dari rokok

    BalasHapus
  10. kadang saya juga berpikir, mengapa pola pemikiran anak sekarang berbeda dengan semasa saya bersekolah dulu. Apa iya pola asuh orang tua dan guru zaman kecil kita dulu memang sudah tidak layak diterapkan pada zaman sekarang? Pendidikan anak menjadi tanggung jawab seluruh elemen baik di rumah, sekolah, maupun di masyarakat. Sedangkan penanggung jawab utamanya adalah orang tua anak itu sendiri.

    BalasHapus

""