Kamis, 29 Juli 2010

Rokok: Dua Sisi yang Paradoks

Rokok: Dua Sisi yang Paradoks

Sembari menanti isteri sedang mengikuti pengenalan program studi (PPS) di salah satu akademi kebidanan (Akbid) di Pati, Jawa Tengah, saya bercengkerama dengan dua orang yang baru sama sekali berjumpa. Perjumpaan kami yang relatif lama tak membosankan karena banyak hal yang dapat kami bicarakan, dari persoalan kebijakan-kebijakan Akbid setempat, klenik, politik, hingga rokok. Perbincangan mengenai rokoklah yang sangat menarik perhatian saya karena kedua orang tersebut ternyata penyandu rokok, sementara saya sama sekali tak suka merokok.

Oleh karena itu, sebagai bentuk menjaga ”keakraban” perjumpaan itu, saya ”bertahan” untuk tetap berada di tengah-tengah mereka yang tak henti-hentinya menyedot dan mengempruskan asap rokok, yang membebaskannya terbang berputar-putar lantas menghilang di udara. Saya tak menunjukkan sikap tak suka meskipun banyak orang bilang bahwa perokok pasif (seperti saya) itu justru lebih rentan terhadap ”racun” dalam rokok ketimbang penyuka rokok. Untung hingga catatan ini saya tulis, tak ada tanda-tanda buruk pada diri saya dampak dari asap rokok, yang senantiasa melekat pada kedua sahabat baru saya itu.

Sahabat yang pertama, masih sangat muda, sekitar 35 tahun, mengaku sehari habis rokok enam bungkus. Rokok yang ia suka Senior, yang katanya sebungkus isi 12 seharga Rp5000,00. Berarti untuk rokok saja, sehari ia harus menyediakan uang sebanyak Rp30.000,00. Baginya itu mungkin bukan persoalan yang perlu dipertimbangkan, karena sosok muda yang di periode 1999 hingga 2004 menjadi anggota DPRD di salah satu kabupaten di Jawa Tengah itu, kini, sejak 2008 menjabat kepala desa (bahasa kampung saya, petinggi) yang berbengkok banyak. Kalau Senior pas habis, ia berganti ke Djarum Super, yang harganya sedikit lebih mahal. Tidak bisa berganti ke rokok yang lain. Sebab, jika dipaksakan selain Senior atau Djarum Super, katanya kurang mantap dan dapat menimbulkan rasa tak nyaman di tenggorokan.

Diakuinya, kalau sampai telat merokok karena persediaan habis dan belum membeli, kepalanya pusing dan tidak konsentrasi, karenanya semua aktivitas tak dapat dilakukan dengan lancar. Bahkan, jika habis makan tak disambung merokok, ia ingin muntah. Sebaliknya, merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika habis makan disusul merokok. Saya berpikir, seolah-olah, makan, (baginya) bukanlah sesuatu yang dibutuhkan, tapi merokoklah yang dibutuhkan. Maka, tak keliru jika ia mengatakan bahwa meskipun tak makan sehari, tapi tetap merokok di hari itu, ia tetap dapat menikmati ”hidup”.

Hanya sayang, diakuinya, kopi tak menjadi kesukaannya. Padahal, demikian ia menjelaskan, penting bagi perokok minum kopi karena kopi yang mengandung kafein itu (ternyata) dapat membersihkan nikotin yang telah menyebar ke seluruh jaringan tubuh akibat merokok.

Sahabat yang kedua, usianya termasuk lanjut karena telah 60 tahun. Sehari, ia habis empat bungkus. Kebetulan rokok kesukaannya sama dengan petinggi yang masih cukup muda tadi, yakni Senior. Berarti untuk rokok saja, sehari ia menghabiskan uang Rp20.000,00. Bekerja sebagai satpam yang ditekuninya selama kurang lebih 28 tahun itu, ternyata masih lebih pendek jika dibandingkan dengan usia merokoknya. Ia merokok sejak sekolah rakyat (SR). Saya tidak tahu apakah bapak itu suka minum kopi atau tidak. Yang saya tahu di meja tempat ia berjaga sebagai satpam saat itu, hanya ada segelas teh. Tapi, ia berkata bahwa susu soda pun mampu menggelontor nikotin dalam tubuh. Olehnya dijelaskan pula bahwa jika ia telat merokok, tiba-tiba muncul rasa bingung. Selain Senior, akan membuat tenggorokannya terasa gatal dan kering, bahkan dapat sakit batuk.

Pekerjaan yang harus dijalaninya selama 12 jam sehari itu (kalau jadwal siang 07.00 – 19.00; kalau malam 19.00 – 07.00) kuat hanya ditemani dengan rokok. Artinya, jika dapat jadwal siang, makan cukup sekali (saja) pagi hari, namun kuat bertahan sampai malam hanya dengan rokok.

Pikir saya (kemudian), ternyata, rokok memiliki ”energi” sugesti yang luar biasa bagi penyuka rokok. Memberikan kekuatan yang seakan-akan melibihi energi yang dihasilkan, misalnya, oleh nasi, roti, dan telur. Bahkan, beberapa seniman besar mengakui bahwa merokok dapat memberikan ruang hadirnya inspirasi bagi sebuah karya besar. Merokok justru ”memberikan” semangat beraktivitas, bekerja, dan hidup.

Hal yang jelas-jelas kontradiksi dengan ilmu kesehatan. Secara medis, merokok tidak menyehatkan atau merokok mengganggu kesehatan, baik bagi laki-laki maupun wanita. Itulah sebabnya, perusahaan rokok senantiasa menerakan tulisan peringatan tentang akibat merokok dalam kemasan rokoknya. Di rumah-rumah sakit pun, kini, telah banyak slogan larangan merokok. Bahkan, tak hanya di rumah sakit, tapi di tempat-tempat publik lainnya seperti terminal, stasiun, dan bengkel disediakan ruang khusus untuk merokok. Maksudnya, agar kebebasan merokok tetap terjamin, tapi tak merugikan orang lain yang tidak merokok.

Akan tetapi, kita masih sering menjumpai orang merokok di area bebas rokok (artinya tentu bukan bebas merokok, tapi tak boleh merokok). Seperti, yang diakui oleh salah satu sabahat baru saya itu. Suatu ketika, ia sedang bezuk salah satu warganya yang sakit, opname di sebuah rumah sakit. Karena terdesak ingin merokok, ia pun merokok saja di salah satu tempat di rumah sakit itu meskipun ia telah membaca sebuah slogan ”Terima Kasih Anda Tidak Merokok”. Ketika ada perawat lewat, ia ditegur supaya mematikan batang rokoknya karena, di samping memang tempat itu sebagai zona bebas rokok, juga merokok dapat mengganggu kesehatan. Tapi, tanpa diduga oleh sang perawat, mantan anggota dewan itu berkata, ”Mbak, justru kalau saya tidak merokok akan sakit.” Ah!

6 komentar:

  1. walah, saya juga belum bisa menghentikan kebiasaan buruk itu, pak, hehe .... saat ngeblog, si pembakar dada itu juga mesti ada di atas meja, haks.

    BalasHapus
  2. Tapi lebih mengasyikkan to, Pak.

    BalasHapus
  3. Walah..padahal ga ada enaknya ya rokok itu, yang jelas menghabiskan uang banyak.
    Saya pernah membuat tulisan di
    http://edratna.wordpress.com/2007/06/21/buah-simalakama-keberadaan-industri-rokok/

    BalasHapus
  4. hmm, terkadang kalau dugem blue sedikit merokok meski setengah batang saja............hehehe
    jangan meniru blue y........heheeh
    salam hangat dari blue

    BalasHapus
  5. saya bukan perokok tapi saya acungi jempol buat iklan2 rokok, kreatif2 abis.

    saatnya kita lindungi perokok pasiff

    BalasHapus
  6. Saya dulu perokok berat, Om...
    Sehari habis dua bungkus sejak SMA hingga lima tahun silam, saya berhenti..

    Puji Tuhan!

    BalasHapus

""