Senin, 19 Juli 2010

Takut Orang Mati, Trauma Masa Kecil

Takut Orang Mati, Trauma Masa Kecil

Boleh jadi ada benarnya alasan yang dilontarkan oleh ipar saya beberapa waktu lalu. Pengalaman masa kecil yang sungguh mengesan, melekat, dan mengakar dalam lubuk jiwa terbawa hingga dewasa. Perlakuan-perlakuan orang tua terhadap anak di masa kecil, disadari atau tidak, membangun kepribadian diri, yang memungkinkan terus mewarnai hidup sampai tua. Padahal, konteks kehidupan masa anak-anak niscaya (jauh) berbeda dengan konteks kehidupan mereka, anak-anak itu, di saat usia telah dewasa.

Perlakuan orang tua yang cenderung protek terhadap anak tentu bermotif baik, tak ada yang memuat niat jahat. Misalnya, agar anak tak masuk angin dipakaikan jaket; agar tak demam dilarang hujan-hujanan ketika musim penghujan; agar tak kontap (panas tinggi sembari mengigau-igau) dianjurkan bermain di tempat yang rindang di bawah pohon. Akan tetapi, ada juga sekelompok orang yang menentang perlakuan orang tua terhadap anak yang demikian itu. Alasannya, anak tak akan memiliki ”kekebalan” tubuh, sebaliknya justru rentan terhadap penyakit. Anak juga menjadi kurang pergaulan (kuper), yang ujung-ujungnya berpribadi penakut, minder, nyali kecil, dan mudah putus asa.

Ipar saya, lelaki tegap dan gagah itu, ternyata, takut dengan orang mati. Hal itu saya ketahui lewat pengakuan isterinya kepada saya. Maka, ketika ibu pulang ke rumah Bapa alias meninggal dunia, ipar saya itu tak menampakkan batang hidungnya. Malah belakangan saya ketahui pergi ke rumah saudara yang tempatnya jauh dari rumah duka dengan alasan momong si bungsu yang (memang) masih kecil, meski sejatinya ketika itu si kecil tidak rewel. Jadi, ”langkah” yang diambil ipar saya itu hanya akal-akalan. Kalau menghindar tanpa membawa ”senjata” tentu akan menjadi bahan pembicaraan para pelayat, saudara, dan kerabat yang datang.

Semakin meyakinkan saya ketika ia, ipar saya itu, baru-baru ini berbicara sendiri kepada saya saat tetangganya ada yang meninggal dunia. Ceritanya, waktu itu ada acara di tempat lain dan mereka (ipar saya dan beberapa temannya) akan segera berangkat. Tapi, ada satu teman yang belum berkumpul. Lantas, mereka berinisiatif menjemput teman yang belum berkumpul itu. Sesampai di rumah teman yang ditunggu-tunggu itu, kondisi rumah ternyata dalam keadaan tertutup. Mereka berusaha memanggil-manggil, namun tak ada sahutan dari dalam rumah. Beberapa saat, anak tuan rumah itu datang dari sekolah, lalu membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Yang dijumpai adalah bapaknya berada di dekat pintu kamar mandi dalam posisi tertekuk. Beberapa orang (ipar saya dan teman-temannya) kemudian mengikuti masuk rumah ketika mendengar anak tuan rumah itu bersuara bermuatan tangis. Segera beberapa di antara mereka berusaha (sementara) menjelojorkan tubuh tuan rumah itu di lantai. Melihat kondisi demikian itu, ipar saya malah ngibrit (berjalan cepat seolah ada sesuatu yang memburu) ke luar. Pulang, tanpa terlebih dahulu pamit kepada teman-temannya. Ia benar-benar ketakutan.

Padahal, profesi yang ia jalani kini agaknya di antaranya memberi pelayanan dalam hal kematian. Karena fobia itulah, selama ini isterinya yang lebih proaktif. Ketika isterinya sibuk mempersiapkan jenazah dimasukkan ke peti mati, ipar saya justru menjauh dari posisi jenazah itu. Kalau dipaksakan ”menjenguk” jenazah, ia tak akan dapat tidur nyenyak semalam-malaman. Akan terus terbayang mayat itu. Bahkan, kalau malam hari ingin ke ”belakang” saja harus menyuruh isterinya mengantar. Ketakutan yang berlebihan terhadap orang meninggal itu dialaminya sejak kecil karena mungkin sebagai korban keyakinan orang tua.

Betapa tidak, ketika kecil di masa silam, jika ada orang meninggal di kampungnya, orang tua senantiasa memberikan ”pengamanan” terhadap anak. Saat jenazah diusung ke makam, anak-anak kecil pasti dicari sampai ketemu lantas ”dikurung” di dalam rumah. Pintu, jendela, bahkan jika telah ada gorden pun sekaligus ditutup. Anak-anak kecil disuruh diam bersembunyi dalam rumah. Bahkan, saya teringat, ketika masih kecil, kalau di desa saya ada orang meninggal digotong (dipikul) menuju makam melewati jalan depan rumah, buru-buru ada banyak ibu menyapu pinggir jalan depan rumah itu setelah jenazah dan para pelayat lewat. Hingga kini saya tak mengerti maksud ”sebenarnya” kedua perihal yang dilakukan oleh orang-orang tua itu. Paling-paling dalam pikiran saya hanya menduga-duga (itu pun setelah saya agak besar), mungkin saja agar tidak sawanen. Istilah sawanen yang saya tahu selalu dikaitkan dengan sakit, yakni sakit panas yang hingga mengigau-igau itu. Orang-orang tua kala itu seakan-akan yakin bahwa peristiwa kematian bisa saja membawa sial.

Barangkali kenyataan itulah yang dapat mengakibatkan anak-anak (desa) waktu itu selalu takut jika ada orang meninggal. Tak ada yang berani melihat orang meninggal, apalagi bermain di kuburan. Berbeda dengan anak-anak zaman sekarang. Ada orang meninggal, anak-anak zaman sekarang malah melihat, seperti melihat tontonan. Apalagi kalau yang meninggal seorang pejabat/orang penting yang cara pemakamannya disertai upacara kenegeraaan. Boleh jadi masyarakat termasuk anak-anak malah melihat dengan nikmat. Bahkan, khususnya di kota-kota besar, kuburan dapat menjadi area bermain anak-anak (mungkin karena memang tak ada ruang publik, tapi itulah realitas), atau mungkin tempat berteduh kaum gelendangan dan pengemis (gepeng).
Anak-anak masa kini tak lagi takut melihat orang meninggal. Sejauh saya tahu juga, kini, sepertinya orang tua tak lagi ”mengamankan” anak-anak mereka saat ada jenazah (entah) digotong atau di atas ambulan melewati jalan depan rumah. Sepertinya tak ada juga yang menyapu pinggir jalan yang baru dilewati jenazah. Dan, ipar saya pun berucap, kini telah mulai berani datang melayat orang meninggal meski belum berani melihat langsung tubuh orang meninggal, apalagi yang berada dalam peti mati.

4 komentar:

  1. wah, kalau di tempat saya namanya kena "sawan" itu, pak. orang2 yang mengalami phobi seperti ini biasanya akan mengalami hal2 yang aneh ketika melihat orang yang meninggal.

    BalasHapus
  2. saya malah takut mati pak..hehe

    BalasHapus
  3. Dulu sy pernah trauma setiap mendengar ada tetangga meninggal, Pak.
    Kini setiap ta'ziyah saya justru harus melihat si jenazah. Jika tidak, malah kebayang terus.

    BalasHapus
  4. Seperti yang dikatakan pak Sawali....saat kecil dijauhkan jika ada yang meninggal katanya kawatir kena sawan. Sampai sekarang tak tahu apa artinya sawan ini?

    Setelah tinggal di Jakarta, yang semuanya lebih transparan, maka anak-anak terbiasa melihat orang sakit, ke UGD maupun melayat teman yang meninggal.Justru melayat ini penting, mengingatkan kita bahwa kita juga akan sampai ke sana nanti.

    BalasHapus

""