Jumat, 09 Juli 2010

Teman Sebaya, Sumber Belajar yang Berarti

Teman Sebaya, Sumber Bejalar yang Berarti

Tak jarang saya menerima keluhan orang tua/wali murid tentang anaknya yang sulit dinasihati. Menurut mereka, nasihat guru lebih mujarab ketimbang nasihat orang tua/wali murid (sendiri). Mungkin pandangan demikian benar jika yang dihadapi anak-anak yang masih duduk di taman kanak-kanak (TK) atau sekolah dasar (SD). Anak-anak yang masih tergolong kecil ini memang mudah menuruti gurunya daripada orang tua/wali murid. Apa yang dikatakan guru, seolah magnet. Melekat kuat di benak dan otak mereka. Orang tua/wali murid akan terlalu sulit menghapus kesan yang telah mendarah daging itu.

Bahkan, meskipun yang dikatakan guru itu mungkin salah, pembenaran yang ditunjukkan orang tua/wali murid sering tak diacuhkan. Kalau dipaksakan, tangis mereka meledak. Orang tua/wali murid tak mampu (lagi) memberi pengaruh. Akhirnya (hanya) mengalah begitu rupa. Maka, jangan heran ketika anak-anak kecil itu dianggap sedang ”menyusahkan” orang tua/wali murid, sering orang tua/wali murid menerapkan senjata pamungkas, yang berupa ungkapan klasik, yakni: ”saya beri tahukan sama guru!”. Umumnya, anak-anak kecil itu lantas diam, menurut, atau tak berkutik.

Kenyataan tersebut, sangat berbeda jika yang dihadapi adalah anak-anak yang mulai beranjak remaja bahkan pemuda, SMP atau SMA. Kebanyakan mereka cenderung abai terhadap nasihat, apakah nasihat dari orang tua/wali murid atau guru. Nasihat boleh saja meluncur dari lubang mulut, tapi belum tentu yang dinasihatkan itu dipraktikkan dalam kesehariaan. Mereka menelan nasihat dari lubang telinga kiri, tapi keluar dari lubang telinga kanan. Jadi, tak ada perilaku yang berubah meski telah dinasihati. Ya... lebih menuruti gerak hati dan pikiran sendiri.

Salah satu penyebabnya mungkin (saja) mulai beranjak remaja bahkan pemuda itu masa dalam fase menemukan jati diri, atau paling tidak masa dalam menuntut kesamaan dengan sesama remaja/pemuda lain. Padahal, realitasnya, kini, remaja/pemuda atau anak baru gede (ABG) senantiasa dimanja keadaan yang serba gemerlap. Yang, barangkali faktanya memang bertolak belakang dengan pergumulan hidup sebagian besar generasi tua (baca: orang tua/wali murid dan guru), yang lebih mengarah pada kesederhanaan. Jelas dua kutub yang berbeda itu sulit untuk diperjumpakan.

Yang nyaris menjadi ”korban” tuntutan kesamaan dengan sesama ABG lain adalah anak kami yang pertama, yang kini hendak memasuki bangku SMP. Betapa tidak, ketika melihat teman-teman SD-nya, yang sebentar lagi masuk SMP banyak yang memiliki sepeda baru yang rata-rata bermerek, lantas terpikat. Ingin juga akhirnya dibelikan sepeda serupa sepeda milik teman-temannya. Bahkan, ketika dijumpainya ada beberapa temannya yang mengendarai motor sliwar-sliwer di jalan depan rumah, terbaca di raut wajah anak kami keinginan serupa, yakni tergoda naik motor.

Keinginan pertama, yakni memiliki sepeda baru, yang paling tidak semerek dengan sepeda teman-temannya, kami ”rintangi” dengan penjelasan sebagai pertimbangan. Sepeda, yang kini ia miliki masih relatif baik meski tak semerek sepeda temannya. Baik, karena catnya masih lumayan kempling, tidak kusam-kusam, karena belinya baru dua tahun silam. Juga masih layak untuk dinaiki selama tiga tahun ke depan. Cukup mengganti keranjang depan yang telah mulai peyok-peyok dan karatan karena air hujan, serta sedel belakang yang di beberapa bagian ada yang sobek-sobek. Di samping itu, saya saksikan kepadanya bahwa masih banyak murid saya bersekolah menaiki sepeda yang jauh lebih buruk dibanding dengan sepedanya. Apalagi, tiga tahun ke depan, ketika hendak memasuki bangku SMA, barangkali perlu motor. Ini pertimbangan ekonomis dan kebersahajaan.

Pertimbangan itu agaknya kurang berefek. Karena, (ternyata) masih terbaca keinginannya harus dituruti. Hal itu tampak di antaranya dari sikap keseharian di rumah, yang kurang familiar. Dimintai tolong membantu pekerjaan di rumah, misalnya, responnya dingin. Bahkan, secara tak terduga, ketika suasana komunikasi di rumah terbangun, pembicaraannya menjurus-jurus ke arah temannya yang memiliki sepeda baru. Betapa jelas bahwa keinginannya itu tetap menggelayut kuat dalam benak.

Keinginan kedua, yaitu mengendarai motor, yang tak seberapa mengacaukan pikirannya, tidak kami tanggapi serius. Cukup menyampaikan ungkapan, ”belum waktunya”, menjadikan keinginannya mengendor. Boleh jadi juga dari pengalaman langsung atau lewat media publik mengenai akibat pelanggaran lalu-lintas, (agaknya) lebih mudah menyadarkannya.

Lalu, hal yang tak terkira hadir juga pada akhirnya, serupa mujizat. Berawal dari ketika anak kami yang pertama itu saya ajak untuk menghadiri gladi bersih acara perpisahan sekolah. Karena saat itu saya lebih terkonsentrasi pada pengisi acara, yakni para murid, jadi sedikit terabaikan keberadaannya. Namun ketika saya keluar ruangan, terlihat ia, anak kami itu, (telah) menyatu dengan beberapa murid. Mengobrol dengan santai, terbukti ada senyam-senyum dan kadang tertawa bersama. Saya biarkan, lantas saya masuk lagi pada kesibukan serupa.

Beberapa hari kemudian, isteri saya berujar bahwa si Sulung tak lagi menginginkan sepeda baru. Katanya, cukup mengganti keranjang dan sedel belakang yang kurang nyaman dipandang itu. Ia akan memanfaatkan phoenix jengki warna biru itu dalam aktivitas bersekolah. Tak terlihat raut wajah yang memberat saat mengutarakan hal itu kepada ibunya. Ikhlas, terbuka, dan suka cita yang terasakan. Rupanya sebuah pembelajaran berarti telah dipetiknya tanpa sengaja ketika ia sedang menyatu dengan beberapa murid saya saat gladi bersih perpisahan itu berlangsung.

Kepada ibunya disampaikan bahwa salah satu murid saya (saat itu) ada yang berseloroh ketika seorang anak laki-laki mengendarai motor tua melintas di antara mereka. ”Itu lo, seperti Bimo, kamu contoh, sekalipun bapak dan ibunya dokter, sepeda motornya jelek. Jangan seperti kita-kita yang selalu menuntut orang tua saja!”.

Pernyataan yang tampaknya demikian sederhana dari seorang anak, bukan orang tua/wali murid apalagi guru itu, ternyata mampu ”menggugah” sikap positif yang selama itu tertidur. Anak kami menjadi terbuka dan menerima keadaan yang sederhana. Puji Tuhan!

6 komentar:

  1. syukurlah kalau memang menemukan jawabannya sendiri, itu barangkali yang disebut sebagai suatu fase mencari jati diri, dia ingin menunjukkan bahwa dia bisa berpendapat. ketika pendapat itu dia peroleh dari pengalaman berkesan tentu akan menjadi tonggalk positif ke pendapat-pendapat beikutnya

    BalasHapus
  2. cuma mencoba pakai openID kok pak, saya belum pernah, dan ini yang pertamakali

    BalasHapus
  3. @Pak Budi:
    Tapi komen saya bisa masuk, kan Pak?

    BalasHapus
  4. Sebagai orangtua memang harus memahami tahapan karakter anak, juga bekerja sama dengan guru.
    Kedekatan anak dengan orangtua akan memudahkan komunikasi....apalagi jika orangtua juga dekat dengan guru/wali kelas anak

    BalasHapus
  5. Memang benar Pak ...Teman sebaya adalah sumber belajar yang berarti.
    Ini pengalaman pribadi ..ketika masih anak anak dulu saya adalah minderan ( Enggak PD)
    Namun dengan belajar kepada Anak yang lain yang jauh kurang beruntung akhirnya saya menguatkan diri untuk tidak minder....dan ini butuh waktu lama.
    Kebetulan Orang Tua mendukung so..sekarang malah jadi malu maluin kali...he he...

    BalasHapus
  6. bener sekali, pak sungkowo. menjelang masa adolesensia, agaknya anak2 menjadikan teman sebaya sbg referensi. tinggal bagaimana kita membimbingnya agar ndak sampai mereka gamang menemukan jati diri.

    BalasHapus

""