Jumat, 16 Juli 2010

Tentang Kaus Kaki

Tentang Kaus Kaki

Hampir setiap bertemu anak SMP (negeri atau swasta) di jalan, ketika berangkat atau pulang sekolah, di daerah saya, kaus kaki yang dikenakannya tak selalu tertib. Ketaktertiban itu terlihat dari cara memakainya yang tidak sewajarnya. Ada yang ditarik ke dalam, sehingga yang seharusnya tempat bersarang tumit berada di telapak kaki, kaus kaki dengan demikian menjadi tampak lebih pendek, yang akhirnya logo sekolah nyaris tak terbaca. Ada juga yang dengan sengaja melipat bagian atas ke dalam, sehingga seperti kasus yang pertama, kaus kaki menjadi terlihat pendek, tapi logo sekolah masih bisa terbaca.

Anak-anak SMA dan yang sederajat meskipun mungkin berkasus sama, tapi lebih beruntung karena mereka, khususnya yang laki-laki, mengenakan celana panjang. Juga yang wanita jika memakai rok panjang hingga tumit, mereka ”aman-aman” saja. Tapi, anak SMA wanita yang bawahan mereka pendek, menampakkan pemandangan yang tak jauh berbeda dengan anak SMP, masih banyak dijumpai kaus kaki yang dipakai tidak sewajarnya.

Alasan mereka, beberapa yang pernah saya tanya, adalah kurang percaya diri (PD) karena menurut mereka ”terlalu” panjang, sehingga terlihat lucu, kuno, dan (pokoknya) tak nyaman. Padahal, ukuran kaus kaki untuk anak-anak sekolah tentunya telah dibuat sedemikian rupa, tak seperti ukuran kaus kaki pemain sepak bola. Tapi, itulah anak, selalu ingin yang ”agak” berbeda. Padahal, saya sendiri melihat anak yang mengenakan kaus kaki sewajarnya terlihat jauh lebih rapi, elegan, arif, alami, dan sopan ketimbang anak yang mengenakannya secara tidak wajar.

Perilaku seperti itu pun dialami juga oleh anak-anak didik di sekolah, tempat saya mengajar. Itulah sebabnya, senyampang masih di awal tahun pelajaran baru, kami ”mengobarkan” lagi semangat untuk tertib, yang dulu sudah pernah dikobarkan. Berangkat dari mengenakan kaus kaki secara wajar. Tampaknya hal demikian memang sederhana, sepele, dan kurang bermanfaat. Buat apa perihal kaus kaki saja diurus, apakah tak ada urusan yang lebih penting. Mungkin (juga) benar kurang penting jika kaus kaki sekadar dilihat dari perannnya yang hanya membungkus sebagian kaki. Tapi, akan ”terbaca” bermanfaat kalau dikaitkan dengan sikap, perilaku, dan semangat menghargai.

Betapa tidak, kaus kaki yang tempatnya berada di kaki bagian bawah dan terbungkus sepatu itu ternyata membawa efek yang kurang baik jika dikenakan secara tidak wajar, baik bagi kaus kaki itu sendiri, anak maupun orang tua. Ketika saya menjumpai anak memakai kaus kaki secara tak wajar, lantas saya suruh membukanya, yang tampak adalah kaus kaki telah rusak. Karena bagian ujung dilipat, sehingga, seperti di awal tulisan ini telah disinggung, tempat bersarang tumit berpindah ke telapak kaki, jadilah ”terbentuk” tempat-tumit baru. Jika sepatu itu kemudian (harus) dikenakan secara wajar, maka jelas tak terlihat ”cantik” lagi. Kaus kaki tentu akan mlorot, atau paling tidak, bekas tempat- tumit baru itu akan sangat mengganggu pemandangan.

Anak-anak agaknya memang perlu banyak belajar (mungkin juga orang dewasa) bagaimana menghargai keberadaan sesuatu, sekalipun itu misalnya, sebuah kaus kaki. Sebab, logika yang wajar pastilah mengamini pemikiran: apabila seseorang dapat menghargai sesuatu yang (begitu) sederhana, kata pujangga, niscaya hidupnya bergelimang cinta damai.

Kaus kaki yang dalam hitungan usia seharusnya masih bagus, karena pernah dipakai secara tidak wajar alias dipaksakan itu, jadinya tak bagus lagi. Anak tak akan merasa nyaman jika disuruh memakainya secara benar. Ujung-ujungnya orang tua yang terkena batunya, yakni membeli lagi yang baru. Jelas ini terkait dengan hukum ekonomi. Mengenakan kaus kaki secara tidak wajar ternyata berbanding lurus dengan hidup boros, jauh dari sikap menghemat.

Apalagi jika demi menegakkan ketertiban dan kerapian, sekolah mengambil tindakan tegas terhadap anak didik yang berulang-ulang melakukan perilaku yang tak dikehendaki sekolah. Telah diperingatkan (barangkali berkali-kali), misalnya, pun tak berubah sikapnya. Oknum anak didik tetap memakai kaus kaki secara tidak wajar. Tindakan terakhir, sekolah menyita kaus kaki dan sepatu sekaligus. Sebab, meskipun kaus kaki telah pernah disita, anak yang sama tak jarang melakukan perilaku melanggar tata tertib serupa. Lantas kalau (kemudian) yang boleh mengambil hanya orang tua, maka jelas orang tua harus ”berkorban”. Waktu, tenaga, pikiran, bahkan perasaan. Apalagi jika orang tua anak sebagai pegawai/karyawan. Hanya untuk mengambil kaus kaki dan sepatu yang disita sekolah harus minta izin terlebih dahulu kepada pemimpin kantor. Mau beralasan tidak sebenarnya, beban moral; jika berterus terang, jelas perlu menanggung rasa malu.

Kaus kaki ternyata mampu juga membangun citra diri. Taruhlah, misalnya, kaus kaki itu sama sekali masih baru. Kalau ada seorang anak didik cara memakainya tidak wajar, orang yang melihat, apakah itu guru, orang tua atau yang lain, pastilah akan memberikan penilaian bahwa anak didik itu kurang tertib. Namun, jika kaus kaki dipakai secara wajar meskipun telah usang dan karenanya mlorot, tampak tidak rapi lagi, orang yang melihat akan tetap memberi apresiasi positif terhadap si pemakai. Maka, jika dijumpai semua anak didik dari sekolah tertentu berkaus kaki (yang tentu juga disertai mengenakan semua pakaian) secara wajar, masyarakat akan memberikan sebuah pencitraan baik terhadap sekolah itu. Meskipun, harus diakui ada juga sekolah yang tak mempermasalahkan perihal pakaian, tapi intelektual.

8 komentar:

  1. Di SMP tempat saya mengajar siswanya bercelana panjang, siswinya berpakaian muslim. Tetapi parahnya ada saja siswi yang berperilaku menyimpang(roknya dibikin mlorot sampai di tengah2 pantat yang dililit sabuk besar).

    BalasHapus
  2. iya pak..bener itu...penting juga untuk menanankan tertib berbusana even kaus kaki yang kfg dianggap sepele oleh sebagian orang...

    BalasHapus
  3. benda apa pun, termasuk kaus kaki, kalau diposisikan di tempat yang tidak sewajarnya, kata orang tua, jadi ndak elok, pak, hehe ...

    BalasHapus
  4. bener tuh, kasian banget orang tua. udah beli kaos kaki mahal-mahal, eh malah diinjek injek. hehehe..

    BalasHapus
  5. gag cuma kaos kaki pak, semu aturan yang dibuat selalu cob dilanggar.

    BalasHapus
  6. Sorry kalau saya agak berbeda dalam berkomentar, Pak.

    Tapi saya tak setuju bahwa kaos kaki atau apapun itu melulu mewakili jati diri dan profil siswa.

    Saya lulusan SMA De Britto yang sangat longgar dalam hal seperti itu.. dan justru dari kelonggaran yang diberikan itu kami dididik untuk tetap bisa memiliki jati diri dan profil yang baik meski kami bebas :)

    Alhasil, uniknya, banyak para siswa yang tetap memilih necis dan rapi tanpa perlu diwajibkan :)

    BalasHapus
  7. Saya mungkin termasuk orang yang tak terlalu memperhatikan kaos kaki.....
    Wahh jadi sekarang pengin memperhatikan...karena selama ini setiap kali mengobrol atau berhadapan dengan orang, saya hanya melihat wajah terutama mata.

    BalasHapus
  8. @Om DV:
    Sudah saya jelaskan di bagian ujung tulisan itu, Om, bahwa ada sekolah-sekolah yang tak mempermasalahkan perihal pakaian, tapi intelektual.

    Melalui berbagai media, SMA De Britto, memang saya tahu sekolah yang memiliki kekhasan. Bahkan beberapa gurunya yang menulis di Kompas, pada fotonya terlihat berambut gondrong.

    BalasHapus

""