Jumat, 13 Agustus 2010

Belajar di Red Crispy

Belajar di Red Crispy

Satu hal yang tak saya duga adalah ketika saya menghubunginya lewat handpone. Ternyata, siang itu, saat libur kemarin sehari sebelum puasa, mereka habis makan di Red Crispy. Sebuah tempat makan dengan menu ayam goreng, sambal saos, nasi putih, serta minum seharga Rp5.000,00 makan di tempat. Yang, selama ini, di daerah saya, sedang heboh-hebohnya menjadi tempat makan favorit anak-anak, remaja, dan pemuda.

Sebagai orang tua, tentu mengharap dengan rasa cemas karena telah siang anak yang sedang bermain dengan teman-temannya tidak kunjung pulang. Padahal, waktu telah menunjukkan saat makan siang. Pikiran saya, ketika itu, jangan-jangan Yeye dan teman-temannya malah makan di rumah salah satu sahabat mereka. Tentu akan sangat merepotkan orang tua sahabat mereka itu. Apalagi kalau orang tua sahabat mereka itu sebagai pegawai. Tentu akan semakin merepotkan, karena baru saja datang dari kantor lantas (harus) langsung menyediakan makanan untuk beberapa anak. Agak mending kalau orang tua sahabat mereka itu sebagai ibu rumah tangga. Boleh dianggap agak tak merepotkan karena tentu ada waktu dan anak-anak sudah merasa senang bukan kepalang jika disediakan (mungkin) mie rebus/goreng saja.

Dan, kalau kemudian (ternyata) mereka makan di Red Crispy, itulah yang melegakan perasaan saya. Sebab, berarti mereka tidak merepotkan salah satu orang tua sahabat mereka. Rupanya tak hanya lega perasaan, tapi saya pun merasa bangga mendengar kabar bahwa mereka makan di luar rumah. Karena, saya pikir, ada tahap-tahap yang harus mereka lalui untuk dapat sampai pada mengambil ”keputusan” makan di Red Crispy.

Bagi saya, tahap-tahapan itu penting untuk dicatat karena di situlah (sebetulnya) Yeye dan teman-temannya itu mengeksplorasi pikiran dan perasaan. Saya tidak tahu apakah semua anak yang turut sepedaan bersama saat itu membawa uang atau tidak. Saya hanya dapat membayangkan bahwa ketika itu mereka mungkin mengadakan diskusi kecil-kecilan. Ada yang bertanya, ada yang menjawab. Satu dengan yang lain tentulah saling terbuka, (mungkin) termasuk berapa uang yang mereka bawa. Dan, di sinilah dituntut sebuah kejujuran/keterbukaan dari masing-masing pribadi.

Kalau ternyata di antara mereka ada yang tidak membawa uang atau membawa uang namun tidak cukup, saya berani pastikan mereka yang membawa uang lebih, pasti siap membantu. Saya yakin, mereka membantu tidak dengan berat hati, tapi penuh sukacita. Sikap ”kedermawanan” (atau lebih tepatnya: kesetiakawanan) boleh jadi telah anak-anak praktikkan jauh-jauh hari sebelum sekolah memberi pembelajaran. Anak-anak (ternyata) sangat pandai menciptakan ruang-ruang belajar sendiri secara mengejutkan. Mereka tidak perlu banyak berteori, tapi praktik langsung di laboratorium publik.

Tentu begitu juga ketika mereka berada di area Red Crispy. Ada banyak pembelajaran langsung yang mereka praktikkan. Mereka berjumpa dengan tukang parkir, yang tentu terjadi dialog antarmereka, meski sebelumnya (mungkin) tak pernah berjumpa apalagi berbicara. Kemudian, harus memarkir sepeda sesuai dengan aturan yang ada. Mereka menerima karcis, yang kemudian nanti (setelah selesai) mereka harus membayar ongkos parkir. Ada hukum-hukum yang harus mereka lewati untuk ”menyelesaikan” suatu kegiatan. Tidak tiba-tiba langsung selesai, tanpa melalui proses. Butuh waktu dan proses yang kadang melelahkan (semoga saja anak-anak itu memahami). Segala yang mereka lakukan saat itu sungguh-sungguh merupakan proses belajar yang harganya mahal andai diformalkan.

Ketika mereka sedang menikmati pesanan, yang saya bayangkan, tentu tidak serta merta seperti ketika mereka menikmati makanan di rumah masing-masing. Meskipun mereka memiliki gaya yang berbeda-beda, misalnya, ada yang saat makan biasa sambil berkecap-kecap, ketika makan bersama teman di Red Crispy, bunyi kecap-kecapnya itu bisa jadi hilang karena "pengendalian" diri. Atau, barangkali karena kebiasaan, makan sembari mengangkat kaki ke kursi tanpa disadari terbawa juga saat makan di Red Crispy, lantas temannya tahu dan mengingatkan. Yang bersangkutan akhirnya mengubah ke sikap yang lebih sopan saat makan. Nah, ini jelas sebuah pembelajaran yang bermakna. Sebab, tak jarang pembelajaran model ini malah mampu memberikan penyadaran; membawa perubahan yang menggoncang kesadaran kita.

3 komentar:

  1. Red Crispy, hmmm .... ternyata ada di kudus, ya, pak. pingin mampir ke sana kalau pas main ke kudus, hehe ... sepertinya sangat cocok buat keluarga.

    BalasHapus
  2. Hmm saya malah belum pernah makan di restoran ini.
    Anak memang perlu belajar makan bersama dengan teman-temannya..hal seperti ini akan merupakan pembelajaran bagi mereka

    BalasHapus
  3. Ayam crispy, di Bandung malah seperti 'snack', sebagai camilan :), jualannya pake gerobak yang ada kacanya...tapi tergantung pembelinya juga sih, mungkin saja dibawa pulang sebagai teman nasi. //salam kenal//

    BalasHapus

""