Minggu, 29 Agustus 2010

Belajar Memberi Maaf

Belajar Memberi Maaf

Kami tadi malam berkunjung ke rumah saudara, kakak ipar. Si bungsu kami, yang berusia lebih kurang 2,5 tahun itu berjumpa dengan si bungsu, anak kakar ipar, yang usianya jauh sedikit lebih tua. Keduanya putri. Bermain boneka bersama. Mereka sangat menikmati permainan. Karena bonekanya dua, mereka membawa satu-satu. Si bungsu kami satu boneka; si bungsu kakak ipar satu boneka. Mereka berjalan kian-kemari sembari menggendong boneka. Dan, saya merasa, kerinduan si bungsu untuk bertemu kakaknya terjawab sudah.

Sejak sore si bungsu memang sangat ingin bertemu dengan saudaranya itu. Keinginannya bertemu saudaranya sering mengalahkan keleluasaan kami untuk melakukan semua aktivitas di rumah, seperti sore itu. Bersih-bersih rumah, mandi, dan makan, misalnya, harus kami lakukan dengan agak buru-buru. Karena, terus saja si bungsu mendesak-desak untuk segera pergi ke rumah kakaknya itu sembari merengek-rengek. Dan, jika telah demikian, tak lagi kami memiliki kebebasan. Semua, termasuk si sulung, harus menuruti kehendak si bungsu.

Tapi, telah menjadi kebiasaan mereka, jika bertemu dalam waktu relatif agak lama, ada-ada saja penyebab mereka harus saling menangis. Hal-hal yang sepele dapat saja menyebabkan mereka bertengkar. Akhirnya, masing-masing mengadu kepada orang tuanya, terutama ibu. Seakan-akan meminta pembelaan. Dan, jika sudah begitu, meski dalam saat sesingkat pun, mereka seolah menjadi seteru yang dahsyat. Seteru yang seakan tak bisa dipersatukan. Pengalaman itu saya pikir hampir teralami di alam kehidupan anak seusia mereka.

Yang menarik sebetulnya, sebegitu mudahnya mereka berseteru; tapi sebegitu gampang pula mereka bersekutu (kembali). Inilah dunia anak-anak yang sering kita jumpai. Saya tidak tahu, apakah karena perseteruan mereka yang hanya disebabkan oleh hal-hal sepele itu sehingga mudah dirujukkan, atau karena persoalan lain. Tapi, yang saya dapatkan, mereka (tampaknya) begitu mudah melupakan ”sakit hati”, ”benci”, ”khawatir”, ”takut”, ”kecewa” (sebagai akar perseteruan) sehingga sesegera menyampaikan maaf. Dan, itu sepertinya telah menjadi budaya anak-anak. Mudah membangun rekonsiliasi. Karena, akar perseteruan mudah mereka lupakan. Dan satu hal lagi, (tampaknya) mereka tak malu berbuat baik.

Sayang, budaya demikian sulit dijumpai di orang dewasa, (barangkali) termasuk saya juga. Melupakan "sakit hati”, ”benci”, ”khawatir”, ”takut”, ”kecewa” begitu sulitnya sesulit melepas maaf. Sehingga, tak jarang meskipun telah ada pihak yang menjadi "mediator", misalnya, perseteruan tetap saja ada. Padahal, disadari atau tidak, ada perseteruan berarti ada korban. Maka, betapa indahnya jika hari-hari yang selalu hadir berawal dari pagi yang bersih menyediakan waktu bagi kita ini, dimanfaatkan untuk saling mendahului memberi maaf.

5 komentar:

  1. wah bagus neh artikelnya sob....thx

    BalasHapus
  2. dunia anak2 memang selalu menarik, pak, canda, tawa, permusuhan menjadi dinamika yang biasa terjadi di dunia anak2. peran ortu agaknya memang sangat besar utk memberikan pencerahan kepada mereka.

    BalasHapus
  3. smoga aku termasuk orang yang suka meminta maaf dan bisa memaafkan orang lain
    makasih artikelnya
    salam
    :D

    BalasHapus
  4. maaf harus diajarkan mengatakan maaf. tapi sebelumnya juga diajarkan untuk tidak sering2 melakukan kesalahan..:)

    BalasHapus
  5. Kalau seluruh dunia ini diisi anak2, barangkali tak ada perang dan perselisihan yang berkepanjangan ya, Pak ?:)

    BalasHapus

""