Jumat, 06 Agustus 2010

Belajar Mengasihi

Belajar Mengasihi

Telah agak lama kabar itu saya dengar dari isteri. Tapi, sejauh itu saya belum meyakini benar bahwa teman satu persekutuan itu ”dikeluarkan” dari tempat ia bekerja. Belum meyakini benar karena lembaga, tempat ia bekerja, itu berdiri dalam ajaran kasih, yang paling tidak nilai moral ”kasihilah sesamamu (manusia) seperti dirimu sendiri” telah menjadi semangat lembaga sosial itu. Namun, keyakinan saya tak terbohongi ketika saya bertanya kepada teman dekatnya. Yang, memang mengatakan benar-benar ia telah ”dikeluarkan” dari (mungkin) satu-satunya tempat merengkuh berkat setelah meninggalkan tempat bekerja yang pertama kurang lebih satu tahun lalu.

Harapan pindah dari tempat bekerja yang pertama ke tempat bekerja yang kedua itu, tentu ingin lebih baik. Jaminan untuk memenuhi kebutuhan keberlangsungan hidup lebih diperoleh. Tapi, harapan itu, kini, telah kandas di langkah-langkah awal oleh karena sakit yang dideritanya. Padahal, dugaan saya pasti ia telah senang mendapatkan pekerjaan itu sekalipun pekerjaan yang dilakukan itu berada di bawah ”tekanan” (mungkin lebih tepat dibaca: perlu ekstra hati-hati) seperti yang pernah dikatakan suaminya. Senang, karena dalam usia yang sudah cukup umur apalagi telah memiliki anak, mencari pekerjaan tidaklah mudah.

Mencari pekerjaan di zaman kini, sesederhana apa pun, harus berebut. Sebab, ”lahan” bekerja cenderung tak bertambah, tapi pencari kerja dari waktu ke waktu cenderung bertambah. Pertumbuhan yang tidak seimbang itulah yang menimbulkan banyak pengangguran, seperti yang dialami oleh teman sepersekutuan itu. Ia harus menganggur sebagai korban kesewenang-wenangan pemilik modal. Kalau tahu akan terjadi ”kecelakaan” demikian, meskipun tempat bekerja dahulu memberi penghasilan kurang, ia (tentu) akan tetap bertahan sebagimana yang didapat saat itu.

Namun, itulah kenyataannya, ia harus menelan pil pahit sepahit berita terakhir yang saya peroleh dari suaminya. Yaitu, (ternyata) ia, sang isteri, masih bekerja di tempat bekerja yang sekarang, hanya telah diberi kabar secara resmi sekalipun belum tertulis masa kontrak kerjanya akan tidak diperpanjang. Kabar yang sebetulnya ”mengiris” hati dan sungguh menggoncang jiwa. Apalagi, ketika oleh suaminya, sang isteri disuruh minta mundur secepatnya (awal Agustus ini), pihak lembaga sosial itu belum mengizinkan. Alasannya, belum ada tenaga baru yang mampu menggantikan posisi itu. Apakah hal itu bukan kenyataan yang amat menyiksa? Mau (segera) keluar baik-baik tak diizinkan. Tapi, di sisi lain, ia tak punya harapan lagi di lembaga itu. Mau keluar dengan cara kurang baik? Tidak mungkin, sebab, kata suaminya, langkah itu tentu akan memperburuk citra diri. Jadi, seperti inilah sebagai orang lemah cenderung tak memiliki posisi tawar terhadap pemilik modal.

Sakit benjolan yang ada di punggung bagian atas, dan bahkan kata suaminya, satu benjolan lagi di leher bagian depan telah pecah, mengantarkan sebuah lembaga sosial yang katanya ”dibangun” atas dasar kasih Kristus itu, tega mengambil kebijakan yang keluar dari zona kasih. Betapa tidak. Saya mengibaratkan teman sepersekutuan itu, sudah jatuh ditimpa tangga. Sakit yang ia alami, yang seharusnya mendapatkan perhatian itu, malah diperparah dengan kebijakan yang tidak berpihak.

Kebijakan itu diambil barangkali karena lembaga sosial (yang bergerak di bidang kesehatan) itu takut menanggung biaya andai saja penyakit teman saya itu parah. Beberapa kali lembaga itu memang telah memasilitasi beberapa karyawan tetap yang menderita penyakit ”mahal”, seperti kanker. Meski, biaya yang ditanggung tak selalu sepenuhnya. Artinya, ada penyakit tertentu yang biayanya ditanggung utuh, 100%; tapi ada juga penyakit tertentu pula yang ditanggung hanya sebagian, yang sebagiannya ditanggung oleh karyawan (sendiri) yang sakit. Pengalaman yang telah terjadi, yang mungkin dianggap ”merugikan” lembaga itu menjadi pengalaman ”terbaik” bagi lembaga tak hendak (lagi) menghadapi risiko.

Status karyawan kontrak yang masih disandang teman saya itu tentu lebih memudahkan lembaga pemberi kerja untuk mengambil kebijakan sepihak. Status kontrak, dalam hal apa pun, (sepertinya) memang kurang menempatkan sikap yang egaliter. Yang satu selalu menjadi yang lebih berkuasa, sementara yang lain cenderung terkuasai. Dalam hubungan yang demikian itu jelas kasih tak lagi memiliki ruang. Anda memiliki solusi?

2 komentar:

  1. memang dilematis, pak. di tengah persaingan kerja yang makin kompetitif, bukan hal yang mudah utk bisa mendapatkan pekerjaan, sementara di tempat kerjanya sendiri, ancaman sdh berada di depan mata, tapi blm juga diizinkan utk keluar. mungkin utk sementara kesabaran dan ketabahan yang bisa menjadi solusinya. mudah2an Tuhan memberikan jalan keluar terbaik.

    BalasHapus
  2. mas pintar memilih topik
    suka banget blue
    salam hangat dari blue

    BalasHapus

""