Selasa, 17 Agustus 2010

Belum Merasakan Kemerdekaan

Belum Merasakan Kemerdekaan

Sepulang mengajar, di sela-selanya memasak, isteri saya menuturkan kepada saya sebuah fakta kehidupan anak manusia yang dijumpainya selang beberapa saat. Anak manusia itu adalah tetangga baru kami. Beberapa minggu yang lalu baru menghuni rumah barunya, yang sebetulnya belum pas untuk dihuni. Karena, kamar mandi dan water closet (WC) belum ada. Padahal, kedua hal itu sangat vital kepentingannya di dalam rumah yang dihuni. Apalagi lokasi kampung kami jauh dari sungai yang bersih, yang umumnya dapat dipakai untuk kepentingan banyak orang, seperti mandi dan cuci.

Fakta kehidupan yang baru saja dituturkan isteri saya itu sebagai berikut. Awalnya, ada penjual sayur dan ikan keliling, yang memang telah menjadi banyak langganan ibu-ibu di kampung kami, termasuk isteri saya. Saat itu, tetangga kami itu, yang lelaki, bertanya kepada penjual sayur dan ikan mengenai ikan apa saja yang dijual. Dijawab oleh penjual sayur dan ikan itu, ada ikan bandeng dan lele. Kemudian, lelaki itu menanyakan harga ikan bandeng. Diketahuilah kemudian harganya Rp3.000,00. Itu saja ukuran ikan bandeng yang kecil. Tapi, tetangga kami itu tak jadi membeli karena (mungkin) menurutnya harganya masih terlalu mahal.

Malahan dia beralih menanyakan tentang sayur. Yang ada hanya sayur kangkung, seikat seharga Rp500,00. Ia akhirnya membeli satu ikat. Lantas, tempe satu iris agak panjang seharga Rp1.000,00. Tiba-tiba, dari tempat agak jauh, isterinya bilang bahwa bawang merah dan lomboknya habis. Akhirnya, lelaki itu pun membeli bawang merah dan lombok. Entah karena kasihan atau apa, akhirnya bandeng yang seharga Rp3.000,00 itu diserahkan oleh penjualnya dengan harga Rp2.000,00.

Karena selama terjadi transaksi antara penjual dan lelaki itu, isteri saya juga membeli keperluan untuk memasak di situ, tahulah bahwa tetangga kami itu menghabiskan uang kurang dari Rp5.000,00. Barang belanjaan itu, ditafsirkan oleh isteri saya, untuk keperluan makan satu hari. Begitu lelaki tetangga kami itu membawa pulang belanjaannya, penjual itu berkata kepada isteri saya bahwa setiap dia (baik lelaki maupun bininya) belanja maksimal Rp5.000,00. Tapi, itu lebih baik, demikian kata penjual itu, karena kalau tidak punya uang dia pasti mengutang belanjaan. Dan, penjual itu pasti tak kuasa menolak.

Belanja maksimal Rp5.000,00 sehari (di luar beras) itu, untuk mengisi perut lima anggota keluarga, tiga anak dan mereka berdua (suami dan isteri). Anak mereka yang pertama berusia sekitar tiga-empat tahun, sedangkan yang kedua kembar berusia sekitar satu-dua tahun. Ini fakta hidup, yang dapat kami jumpai di kampung kami. Dan, bukan tidak mungkin hal serupa dapat juga ditemukan di kampung/tempat lain.

Barangkali tidak terlalu berlebihan jika kenyataan hidup yang dialami oleh tetangga kami dan mungkin teralami juga oleh banyak anak manusia di lain tempat itu, akhirnya membawa pikiran saya untuk berani mengatakan: mereka belum merasakan kemerdekaan. Karena faktanya, mereka hidup dalam ”keterbatasan”. Kebebasan untuk memenuhi kebutuhan primer saja belum terengkuh. Mereka mandi dan keperluan ”ke belakang” lainnya, misalnya, harus mengungsi karena sumur dan WC belum dimiliki. Belum lagi keperluan makan sehari-hari yang (ternyata) amat memrihatinkan. Lima perut hanya diisi dengan nasi berlauk seikat kangkung, seiris tempe agak panjang, dan ikan bandeng kecil. Anak-anak mereka yang masih kecil itu hampir bisa dipastikan tak pernah kemasukan susu kecuali air susu ibu (ASI). Toh ASI-pun tentu kurang gizi karena asupan makanan sehat untuk ibunya juga minim.

Dan, saya berani berkata bahwa mereka ”semakin” belum merasakan kemerdekaan karena pada suatu ketika di rumahnya berkumpul beberapa orang, mungkin teman kerja sang lelaki, mengadakan ”pesta” minuman keras. Saya yakin, perilaku ”menyimpang” sang lelaki (bapak tiga anak dan suami seorang isteri) itu telah biasa. Dan, kebiasaan ”menyimpang” itu, disadari atau tidak, turut menjajah hidupnya, hidup isterinya, dan hidup anak-anaknya. Betapa tidak? Andai saja, dia, sang lelaki itu, mau memanfaatkan uang hasil kerjanya sebagai sopir truk (yang boleh kita pahami sebagai ”pahlawan” keluarga) untuk kepentingan-kepentingan yang bermakna bagi keluarga, ”kebebasan” tentu akan mereka rasakan. Hidup sejahtera barangkali tak jauh dari impian, tapi nyata dalam keseharian.

Maka, biarlah tema HUT ke-65 Proklamasi Kemerdekaan RI tahun ini, yang berbunyi ”Dengan Semangat Proklamasi 17 Agusutus 1945, Kita Sukseskan Reformasi Gelombang Kedua Untuk Terwujudnya Kehidupan Berbangsa yang Makin Sejahtera, Makin Demokratis, dan Makin Berkeadilan”, menginspirasi segenap warga bangsa untuk menjadi pahlawan bagi diri sendiri, keluarga, dan bangsanya.

4 komentar:

  1. Memang menyedihkan mas. Adik saya terpaksa membeli sayuran dari tukang sayur gara2 penjualnya menangis, ibu2 di kompleks tak ada yang beli sayur karena harga2 naik...terpaksa adik saya membeli karena kasihan si penjual tak punya uang dan dagangan tak laku.

    Di sisi lain, ada seorang ayah yang melarikan diri ke minuman keras, ini benar2 keterlaluan...juga orang punya anak banyak, namun tak mampu, padahal mestinya bertanggung jawab bahwa melahirkan dan membiayai anak perlu biaya. Saya berani punya anak saat telah bekerja, sebagai pegawai tetap, dan suami juga bekerja. Anak kedua juga berjarak umur yang cukup, karena selain biaya mahal juga perhatian kita sulit tebelah jika anaknya berendeng.
    Memang sulit, semua menjadi lingkaran setan....dan hanya kita sendiri yang bisa mengatasi persoalan, karena tak bisa setiap kali menyalahkan pemerintah saja.

    BalasHapus
  2. kita emang sudah sepatutnya bangga karena negara kita udah gag terjajah oleh negara lain, tapi ironisnya malah keadaan yang terpuruk ini yg menjajah kita. iri banget melihat negara yg belakangan merdeka tapi mereka lebih maju..:(

    BalasHapus
  3. wah blue tak bisa comand karena blue sendiri yg dekat dengan mereka yg _(maaf sangat maaf) dari kelas bawah.........
    iris banget
    makanya blue sendiri berbagi sesuatuntya dengan tulisan sulisan blue...........
    semoga bangkit dari keterpurukkan
    salam hangat dari blue

    BalasHapus
  4. Pak, sampean itu selalu bisa mengemas hal sederhana menjadi tulisan yang bisa dijadikan bahan renungan bersama.Ngiri aku....
    mungkin ini bagian dari janji UUD'45 bahwa fakir miskin dipelihara oleh negara, ya sampai kapanpun fakir miskin akan tetap banyak karena diternakkan oleh negara

    BalasHapus

""