Senin, 30 Agustus 2010

Bersama, Membangun Karakter Anak

Bersama, Membangun Karakter Anak

Barangkali tak ada satu pun guru, mungkin juga orang tua, ketika anak (didik)-nya ditugasi berperan dalam upacara, tapi tak datang tanpa alasan, membiarkannya begitu saja. Tentu akan ditegur, dinasihati, bahkan tidak menutup kemungkinan ”dianugerahi” sanksi. Apalagi jika tugas turut berperan yang diberikan itu seperti dalam upacara 17 Agustus kemarin, yakni upacara dalam rangka HUT ke-65 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dalam upacara-upacara rutin Senin saja, menurut saya, dapat dipakai untuk mengukur seberapa besar ”kesetiaan” anak didik menghayati nilai-nilai nasionalisme; apalagi seperti di upacara dalam rangka HUT ke-65 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia kemarin. Tentu jauh lebih ”terbaca” apakah anak didik itu sungguh-sungguh dapat menghayati nilai-nilai nasionalisme atau tidak. Ukuran sederhana yang barangkali dapat dipakai untuk menentukan di antaranya, adalah, jika anak didik (telah) disuruh mengikuti upacara di tingkat kecamatan mewakili sekolah, misalnya, namun tak datang tanpa alasan, sepertinya sah-sah saja jika anak didik itu dikategorikan sebagai anak didik yang kurang dapat -untuk menghindari pemakaian kata tidak- menghayati nilai-nilai nasionalisme.

Begitu juga tentu jika ada dijumpai guru, pejabat, atau aparat lainnya, yang ditugasi untuk turut upacara serupa mewakili instansinya, namun tak datang tanpa alasan (resmi). Mereka dapat juga dikatakan sebagai guru, pejabat, atau aparat lainnya, yang kurang dapat -untuk menghindari pemakaian kata tidak- menghayati nilai-nilai nasionalisme. ”Perlakuan” yang sama tentunya harus dikenakan kepada mereka oleh atasan, apakah dalam bentuk teguran, nasihat, atau sanksi.

Di sekolah, tempat saya mengajar, anak didik yang diberi tugas mengikuti upacara di kecamatan mewakili sekolah, 17 Agustus yang lalu, baik yang bertugas pagi maupun sore, yang tidak datang tanpa keterangan; dianugerahi ”tindakan” oleh sekolah. Beberapa ada yang bertugas sebagai anggota tim paduan suara; beberapa ada yang bertugas sebagai peserta upacara. Ada yang laki-laki, ada yang wanita. Mereka menerima ”tindakan” yang sama.

Ada dua ”tindakan” yang diterimakan kepada anak didik tersebut. Pertama, mereka secara sendiri-sendiri disuruh membuat surat pernyataan yang harus ditandatangani dan diketahui orang tua serta surat pernyataan tersebut harus diantarkan oleh orang tua sendiri ke sekolah. Kedua, mereka dibebani menyumbangkan rumput gajah mini satu meter per dua anak didik untuk ditanam di taman sekolah. Kedua ”tindakan” itu paling lambat harus diserahkan ke sekolah tiga hari sejak ”tindakan” itu diterimakan.

Penerimaan ”tindakan” itu diawali dengan pemberian pembinaan. Pembinaan sengaja dilaksanakan di tengah-tengah lapangan sekolah diwujudkan seperti waktu ketika upacara 17 Agustus-an dilaksanakan, yakni pagi hari ketika matahari terik. Yang diinginkan tentu, di samping biar anak didik tersebut turut juga merasakan betapa panasnya ketika mengikuti upacara; pun biar mereka menerima sanksi moral karena tentu saja teman-teman mereka melihat terutama ketika jam istirahat.

Dan, boleh jadi, baik ”tindakan” yang diterimakan maupun pembinaan yang diberikan tersebut malah memberi pembelajaran (juga) kepada anak didik yang lain yang melihat untuk tidak melakukan perbuatan (pelanggaran) serupa di lain kesempatan.

Kalau ”tindakan” yang diterimakan jenis kedua mudah dipenuhi oleh anak didik sesuai dengan rentang waktu yang ditentukan; tidak demikian ”tindakan” jenis pertama. ”Tindakan” jenis pertama, hingga batas rentang waktu yang ditentukan, baru sebagian anak didik memenuhinya. Orang tua mereka mengantarkan surat pernyataan itu ke sekolah. Mereka termasuk orang tua yang responsif terhadap persoalan yang dihadapi anak. Mereka tak hanya sekadar mengantarkan surat pernyataan lantas pulang, tapi sekolah (sengaja) mengajak membangun komunikasi terkait dengan keberadaan anak mereka.

Hanya sayang, tampaknya tak semua orang tua mau ”terbuka” akan keberadaan anaknya. Artinya, ada beberapa orang tua yang cenderung menutup-tutupi ”kelemahan” anaknya. Barangkali dikira hal demikian itu akan dapat ”menolong” anaknya. Padahal justru akan semakin ”menjerumuskan” anaknya ke hal yang tidak benar. Karena ketidakterbukaan orang tua akan sesungguhnya keberadaan anak, menjadikan sekolah (baca:guru) sulit mengambil cara membina anak tersebut. Dan, bukan tidak mungkin guru akhirnya malah membiarkan begitu saja anak tersebut. Karena, harapan untuk bersama-sama membangun karakter anak terintangi oleh sikap orang tua (sendiri).

Berbeda dengan orang tua yang bersikap terbuka. Orang tua yang mau membuka secara gamblang keberadaan anaknya, baik maupun buruknya, akan sangat membantu guru dalam menentukan langkah untuk membina/membimbing anak (didik) tersebut. Komunikasi yang saling terbuka akan dapat membawa kebersamaan dalam membangun karakter anak (didik).

Anak didik yang hingga batas rentang waktu yang ditentukan belum dapat memenuhi ”tindakan” jenis pertama, dibina ulang di lapangan sekolah. Dari pembinaan ulang itu ditemukan beberapa anak didik yang ternyata belum membuat surat pernyataan karena takut kepada orang tua mereka. Tapi, karena ”tindakan” itu bagian dari sebuah pembelajaran yang harus dihadapi anak didik tersebut, tetap dianjurkan untuk mengomunikasikannya dengan orang tua. Akan tetapi, ada juga anak didik yang menyampaikan (bahkan ada yang dengan menangis) bahwa orang tua mereka tidak dapat mengantarkan surat pernyataan itu ke sekolah karena bekerja di luar kota, sebagai tukang batu, buruh pabrik, dan bahkan ada yang menuntut agar ada surat panggilan resmi dari sekolah dulu. Ah, betapa sulitnya orang-orang tua anak ini diajak untuk bersama-sama membangun karakter anak mereka.

3 komentar:

  1. padahal anak adalah titipan tuhan..........jadi kita wajib menjaga serta merawatnya dengan baik............................

    BalasHapus
  2. Sekolah memang kadang serba salah ya, Pak.

    BalasHapus
  3. Sebetulnya untuk membangun karakter anak diperlukan kerjasama antara orangtua dan guru....juga lingkungan sekitar

    BalasHapus

""