Kamis, 12 Agustus 2010

Bersama-sama, Mengembangkan Kecerdasan

Bersama-sama, Mengembangkan Kecerdasan

Saya izinkan Yeye sepeda-sepedaan bersama teman-temannya. Dia tampak begitu bahagia. Saya rasa kebahagiaannya itu sebesar kebahagiaan saya ketika melepaskannya. Mengapa? Sebab, saya memercayai bahwa aktivitas yang dia lakukan itu akan membawa banyak perubahan pada dirinya. Tidak hanya membuat dia sehat dan memiliki banyak sahabat, tapi memperoleh beragam pengetahuan selama melakukan aktivitas itu. Hal yang bagi saya menyenangkan adalah beberapa kecerdasan dia, juga teman-temannya (tentunya), akan semakin terasah.

Saya berkeyakinan bahwa ketika mereka berkumpul dalam aktivitas yang sama, satu sama lain, akan saling memerhatikan. Kalau biasanya saat sendiri, mereka hanya memerhatikan dirinya sendiri. Kepekaan memerhatikan orang lain tumbuh secara spontan ketika berkumpul dengan sahabat. Apalagi aktivitas yang mereka lakukan adalah bersepeda bersama, yang saya tahu jalan yang mereka lalui tidaklah sepi. Di keramaian jalan itu, mereka tentu tak seenaknya mengayuh sepeda. Itulah sebabnya, saya perkirakan paling tidak dua kecerdasan yang harus mereka kembangkan dalam aktivitas itu.

Pertama, kecerdasan intrapersonal, yaitu kecerdasan yang terkait dengan bagaimana seseorang mampu mengendalikan diri sendiri. Keinginan-keinginan yang bersifat pribadi dan diperkirakan dapat mengganggu kenyamanan bersama pasti dikendalikan. Ego pribadi dieliminasi demi menjaga kenyamanan bersama. Pada titik inilah Yeye, juga teman-temannya, mengasah kecerdasan intrapersonal mereka. Meski tak ada yang mengawasi, mereka (tentu) membangun keteraturan dalam bersepeda. Berurutan satu-satu/dua-dua melewati jalur tepi. Mereka juga akan mengambil jalur-jalur yang mudah dilalui dan cepat sampai ke tujuan. Juga, tentu berhati-hati serta saling mengingatkan jika di antara mereka ada yang kurang hati-hati. Di sinilah kecerdasan mereka terasah.

Kedua, kecerdasan interpersonal, yaitu kecerdasan yang terkait dengan bagaimana seseorang mampu membangun hubungan secara baik dengan orang lain. Ketika saya bertanya, bagaimana nanti dapat bertemu dengan teman-teman, lalu beraktivitas bersama? Yeye menjawab bahwa dia janjian bertemu di depan sekolah, tempat mereka bersama-sama menimba ilmu. Mengadakan janji dengan sahabat, jika kita mau jujur, (ternyata) bukan perkara yang mudah. Sebab, jika janji kurang ditepati, membuat sahabat yang diberi janji itu bisa saja kecewa, dan bukan tidak mungkin sahabat malah bersikap benci terhadap pemberi janji.

Sebaliknya, menepati janji, yang berarti menjaga perasaan orang lain/sahabat, diperlukan sikap cermat dalam menentukan skala prioritas. Betapa pun, Yeye dan teman-temannya, meski masih tergolong anak-anak, niscaya memiliki tak sedikit kegiatan. Dan karenanya mereka harus pintar menentukan kegiatan mana yang harus diprioritaskan dulu dan mana yang dapat dilakukan kemudian. Janjian atau berjanji sebagai bentuk sikap peduli praaktivitas bersama (tampaknya) menjadi sesuatu yang diprioritaskan oleh mereka. Yeye berangkat dari rumah jauh sebelum waktu yang dijanjikan. Saya rasa, teman-temannya juga demikian. Hal tersebut mereka lakukan tidak lain karena untuk menjaga keharmonisan hubungan. Dan tanpa disadari, mereka telah mengembangkan kecerdasan interpersonal.

Aktivitas mereka itu menyadarkan saya, bahwa (ternyata) belajar yang sangat alami telah sering dilakukan oleh anak-anak sekalipun mereka tidak tahu yang mereka lakukan itu (sebetulnya) bagian dari proses belajar. Bahkan, saya berani berkata belajar yang tak terprogram semacam itu justru kadar meresapnya ”materi” ke anak jauh lebih menakjubkan, sehingga anak berani bereksplorasi.

4 komentar:

  1. artikel yg baik
    menarik
    salam hangat dari blue

    BalasHapus
  2. jadi inget pepatah minang, pak: "alam takambang jadi guru". jadikan alam sebagai guru kehidupan biar anak2 makin menyatu dengan lingkungan sekitarnya.

    BalasHapus
  3. Saya terkesan dengan bagian akhir tulisan ini.
    10 tahun silam saya pernah kerja jadi designer padahal saya tidak mengenyam pendidikan seni.
    Eh tiba2 ada seorang dosen sekolah seni yang bilang kalau karya saya bagus ditinjau dari disiplin ilmu mereka.

    Pak, saya percaya kehidupan ini sendiri sebenarnya telah menyediakan sumber-sumber ilmu yang bahkan lebih baik dan komplit ketimbang sekolah formal

    BalasHapus
  4. dan bila kecerdasan itu sudah bisa dikembangkan, jangan lupa buat diimbangi dengan ahlak yg baik. :)

    BalasHapus

""