Selasa, 03 Agustus 2010

Berubah

Berubah

Berubah selalu menimbulkan dampak. Sebab, perubahan merupakan perpindahan yang teralami paling tidak dalam dua situasi, yang berbeda. Ada situasi ”awal”, ada ”kemudian”. Kalau situasi awal lebih memberikan kelonggaran, sementara situasi kemudian mengurangi kelonggaran yang berarti sedikit lebih ketat; atau sebaliknya, dipastikan terjadi pro-kontra. Namun, memahami pro-kontra sebagai bagian dari sebuah pembelajaran demi kemajuan mesti menjadi keharusan.

Kenyataannya, tak jarang pro-kontra menjadi kekuatan klaim yang satu tak menyukai yang lain. Seakan-akan milik diri/kelompok sendiri menjadi yang lebih baik daripada yang lain. Milik orang/kelompok lain dengan begitu kurang diperhatikan. Itulah sebabnya, situasi ”kemudian” yang dianggap sebagai buah kerja generasi baru dapat saja menjadi bahan pergunjingan generasi pendahulu jika hasil kerja tersebut berubah dari agenda lama (pendahulu). Apalagi jika hasil kerja ”kemudian” dirasakan oleh banyak orang lebih baik ketimbang hasil kerja pendahulu.

Generasi pendahulu, meski tak semua, ketika melihat hasil kerja generasi baru ada perubahan ke arah yang lebih baik, ternyata ada (juga) yang merasa tak sejahtera. Ketidaksejahteraan itu terwujud, misalnya, dalam sikap yang kurang familiar terhadap generasi baru. Barangkali karena tak enak hati saja (boleh dibaca: gerah) mengapa ketika generasinya berwenang situasi tak seperti yang kini mereka lihat. Bukan tidak mungkin lalu timbul juga rasa malu.

Bahkan, seolah-olah tak tega jika terjadi perubahan. Apalagi perubahan itu dinilainya begitu drastis. Misalnya, dulu ketika mereka berwenang, begini-begitu masih boleh; kini, ketika yang berwenang generasi lain, demi kebaikan, begitu-begini tak izinkan sama sekali. Seakan-akan kebaikan yang tercapai kini ”menampar keras” muka mereka.

Padahal, generasi baru, yang membawa perubahan itu, (agaknya) tak memiliki motif lain kecuali agar segala sesuatu yang dikerjakan lebih berkualitas. Membuahkan hasil yang mampu berkompetisi di tengah-tengah kehidupan yang penuh persaingan ini. Tak sedikit pun tumbuh keinginan ”merendahkan” hasil kerja pendahulu. Sebab, tanpa ada generasi pendahulu, generasi baru tak mungkin dapat berbuat sebaik yang dinikmati kini. Betapa pun keberadaan karya generasi pendahulu, saya pikir, itu sesuatu yang sungguh bermakna.

Berangkat dari makna yang terpetik dari karya generasi pendahulu itu, generasi baru lebih dapat berpijak dengan kuat dan teguh untuk mengembangkan usaha-usaha ke depan, yang lebih baik. Mungkin tidak salah jika hal itu dimaknai sebagai penghargaan generasi baru terhadap generasi pendahulu yang sangat bernilai.

3 komentar:

  1. menarik
    blue suka post ini
    salam hangat dari blue

    BalasHapus
  2. idealnya menang harus ada kesinambungan sejarah dari generasi ke generasi, pak, agar perubahan yang diharapkan terjadi tdk sampai menimbulkan dampak yang buruk.

    BalasHapus

""