Rabu, 11 Agustus 2010

Keberanian Berpendapat, Perlu Dihargai

Keberanian Berpendapat, Perlu Dihargai

Telah beberapa waktu yang lalu Yeye bilang kepada saya ingin sepeda-sepedaan bersama teman-temannya. Saya berusaha belajar memahami bahwa setiap yang dia utarakan adalah bagian dari sebuah proses belajar. Demikian juga ketika dia menyampaikan kehendak untuk bersepedaan bersama teman-temannya itu. Keberanian menyampaikan maksud hati (ternyata) tak dimiliki oleh setiap anak sekalipun (hanya) kepada orang tuanya. Ada anak yang takut menyampaikan maksud hati itu. Oleh karena itu, saya perlu menghargai ketika si sulung berani menyampaikan keinginannya itu dengan sangat terbuka.

Ini sejarah penting. Sebab, berarti dia telah mengerti bahwa hidupnya tak terpisah dengan orang lain. Dia merasa bagian dari orang lain. Paling tidak bagian dari sebuah keluarga, yang di dalamnya ada orang tua dan saudara. Ketika keinginan itu terinformasikan berarti mengharapkan adanya tanggapan dari orang lain. Jika keinginan yang tersampaikan itu kemudian memperoleh dukungan atau penolakan, itu persoalan lain. Akan tetapi, di titik inilah barangkali sebuah ”kepastian” itu dinantikan. Jadi, sesederhana apa pun yang dia inginkan rupanya perlu mendapatkan ”pengesahan”.

Pengesahan atas keinginan sangat berpengaruh pada keberanian untuk berpendapat atau mengajukan gagasan. Saya kira, dalam diri Yeye akan semakin tumbuh sikap berani (mengajukan gagasan/keinginan/ide) apabila pengesahan yang saya berikan atas keinginannnya itu berdasarkan alasan yang logis dan bermanfaat. Demikian pula, akan tetap ada keberanian, andai penolakan terjadi atas keinginannya, asalkan itu berdasarkan kelogisan dan kebermanfaatan.

Maka, ketika kehendak seseorang, termasuk Yeye, ditolak berdasarkan pertimbangan kelogisan dan kebermanfaatan serta tanpa ada tendensi tertentu, saya yakin, tidak menimbulkan dampak merugikan berkepanjangan. Memang sesaat akan menimbulkan kekecewaan. Akan tetapi, kemudian yang bersangkutan justru akan lebih berhati-hati ketika kelak hendak mengajukan usul/keinginan. Dia barangkali mulai belajar tidak hanya mengandalkan emosi saat menentukan pilihan/keputusan, tapi juga mengedepankan logika. Apakah keputusan, atau keinginan, yang diambil itu ada manfaatnya atau tidak? Bermanfaat bagi siapa? Dan sebagainya dan sebagainya.

Untuk meningkatkan ”keberanian” anak dalam mengusulkan gagasan/keinginan/ide/pendapat barangkali keluarga menjadi ruang belajar yang relatif lebih efektif. Karena, hubungan antaranggota keluarga telah demikian alami dan akrab. Hubungan anak dengan orang tua begitu erat seerat hubungan dengan saudara, yang memungkinkan keterbukaan benak dan pikiran lebih terjamin.

7 komentar:

  1. setuju banget, pak. bahkan, sebagian besar karakter dan kepribadian anak terbentuk dari lingkungan keluarga. semoga kita bisa membesarkan anak2 kita dalam suasana yang penuh kasih sayang, sehingga kelak mereka tumbuh menjadi anak yang berkepirbadian dan berkarakter kuat.

    BalasHapus
  2. salam..

    saya senang membca tulisan seperti ini.. saya juga senang ketika Anda menulis "Ini sejarah penting. Sebab, berarti dia telah mengerti bahwa hidupnya tak terpisah dengan orang lain. Dia merasa bagian dari orang lain. Paling tidak bagian dari sebuah keluarga, yang di dalamnya ada orang tua dan saudara."

    Soal relasi ini nyaris hilang, paling tidak selama saya hidup di dua kota besar. Jarang sekali orang yang menginjak kaki saya ketika orang itu masuk ke dalam bus mau menoleh ke saya atau sekadar minta maaf. minta maaf bukan salah satu hal mendasar dari soal itu, melainkan kesadaran bahwa ada orang lain yang diinjak bukan benda mati. Kadang sedih juga ketika saya bertemu dengan anak yang belum remaja tapi sudah apatis dengan orang lain di luar dirinya.

    Omong-omong, anaknya umur berapa? Maaf, saya masih susah menangkap makna pernyataan bapak berikut, dalam arti membayangkan respons atau apa yang ada di benak anak Anda ketika Anda menulis: "Maka, ketika kehendak seseorang, termasuk Yeye, ditolak berdasarkan pertimbangan kelogisan dan kebermanfaatan serta tanpa ada tendensi tertentu, saya yakin, tidak menimbulkan dampak merugikan berkepanjangan. Memang sesaat akan menimbulkan kekecewaan. Akan tetapi, kemudian yang bersangkutan justru akan lebih berhati-hati ketika kelak hendak mengajukan usul/keinginan. Dia barangkali mulai belajar tidak hanya mengandalkan emosi saat menentukan pilihan/keputusan, tapi juga mengedepankan logika. Apakah keputusan, atau keinginan, yang diambil itu ada manfaatnya atau tidak? Bermanfaat bagi siapa? Dan sebagainya dan sebagainya."

    BalasHapus
  3. @FilsafatKonseling:
    Terima kasih telah berkenan berkunjung dan berkomentar.

    Salam juga,
    Saya kadang melihat anak-anak ada yang cara berpikirnya lebih dewasa ketimbang masa usia kalender mereka. Anak saya yang sulung berumur 12 tahun lebih sedikit itu ternyata "kedewasaan" berpikirnya lebih lambat jika dibandingkan dengan keponakan saya, yang kini masih kelas 6 SD dan usianya di bawah usia anak saya itu. Mungkin peran faktor lingkungan juga tinggi dalam membentuk pribadi anak, ya.

    Salam kekerabatan.

    BalasHapus
  4. Pemberitahuan bahwa blog Bapak/Ibu telah kami daftarkan sebagai peserta Festival E-Pendidikan yang diselenggarakan oleh PUSTEKKOM KEMDIKNAS. Untuk informasi lebih lanjut Bapak bisa mengakses website kami di http://jardiknas.kemdiknas.go.id/e-pendidikan/

    BalasHapus
  5. berkunjung berkunjung..

    libur komen dlu ya..

    mo ngucapin met menunaikan ibadah puasa semoga menjadikan berkah buat semua.. mengucap maaf juga dari KaMay & Keluarga jika ada salah baik kata ato lainnya..

    terima kasih
    KaMay..
    http://kanvasmaya.wordpress.com/

    BalasHapus
  6. @Pustekkom:
    Terima kasih atas apresiasi Pustekkom Kemdiknas atas blog ini.
    Acaranya semoga sukses!
    Salam kekerabatan.

    BalasHapus
  7. ARTIKEL BAPAK MEMANG BENAR2 MEMBANGUN,menyadarkan saya bhw msh bnyak yg perlu diperhatikan. yang slama ini tidak pernah di pedulikan orang

    BalasHapus

""