Senin, 16 Agustus 2010

Menyediakan Ruang, Menghargai Sesama

Menyediakan Ruang, Menghargai Sesama

Salah satu kebiasaan yang terjadi di daerah saya, yang sering dilakukan anak-anak saat bulan puasa adalah menyalakan petasan. Anak-anak menyalakan petasan biasanya pada sore hari, sebelum orang-orang menunaikan sholat tarawih. Ada petasan yang sekadar memunculkan sinar saja; namun ada juga yang menimbulkan suara.

Padahal, ketika saya kecil, menyalakan petasan itu terkonsentrasi di penghujung bulan puasa hingga memasuki lebaran. Saat itu, orang lebih banyak menyalakan petasan yang menimbulkan suara/bunyi. Bahkan, ada juga yang membuat perkakas dari bambu petung (bambu berdiameter besar dan tebal) untuk menimbulkan bunyi, yang justru bunyinya lebih menggelegar ketimbang bunyi petasan. Perkakas itu memanfaatkan minyak tanah. Akan tetapi, kini, kelihatannya, keunikan tradisional itu tak pernah tampak lagi. Barangkali, karena bambu petung telah semakin langka atau bahkan tidak ada. Petasan yang hanya menimbulkan sinar, ketika saya masih kecil, sepertinya juga belum ada. Atau, kalau sudah ada, mungkin di tempat-tempat lain.

Sekarang, di daerah saya, menyalakan petasan, baik yang menimbulkan bunyi maupun yang hanya menimbulkan sinar hampir dapat dipastikan berlangasung dari pangkal hingga penghujung bulan puasa dan berlanjut ke saat lebaran. Petasan sekarang lebih atraktif saat dinyalakan karena ada yang dapat berputar-putar di tanah, ada juga yang meluncur ke angkasa. Itulah sebabnya, bagi sebagian anak, sangat tertarik.

Tapi, (ternyata) ada juga anak yang tidak tertarik sama sekali, malahan takut bukan kepalang. Terutama petasan yang menimbulkan bunyi. Satu di antaranya adalah anak kami, si bungsu. Baru mendengar saja, meski tidak melihat, dia begitu takut. Bahkan, ketakutannya terekspresikan memanggil-manggil ayah atau ibunya lantas minta digendong. Cengkeraman tangannya di tubuh saya begitu kuat. Bahkan, saya merasakan getaran badannya tidak seperti biasanya saat dia ketakutan bunyi petasan itu. Badannya terasa dingin karena keringat dingin merembes lewat pori-porinya.

Anak-anak yang bermain petasan di luar rumah tidak merasakan seperti apa yang kami rasakan. Sementara mereka merasakan suka cita, kami (saya dan isteri) merasa sedih. Sedih, karena di satu sisi si bungsu menggigil ketakutan; di sisi lain, kami, terutama saya, kurang memiliki ”keberanian” untuk mengganggu kesukacitaan anak-anak tetangga itu. Karena, mereka memang memiliki ”hak” untuk memanfaatkan ruang yang boleh dipergunakan oleh siapa saja yang mau memanfaatkan.

Hanya, mungkin karena mereka tidak tahu kalau aktivitasnya itu mengganggu orang lain, teruslah anak-anak itu menyalakan petasan. Dan, terus juga si bungsu menangis ketakutan. Sehingga, sesaat sempat saya dan isteri bersitegang karena perbedaan pendapat. Isteri ingin segera mengusir anak-anak itu, sementara saya menolaknya dan lebih konsentrasi ”memengaruhi” si bungsu untuk tidak takut dengan berbagai-bagai hal.

Saya berpikir bahwa hidup berada dalam satu komunitas, yang anggotanya sangat beragam (sekalipun di kampung), harus tetap dapat menyediakan ruang kebebasan berekspresi untuk masing-masing anggota. Hanya, masing-masing anggota komunitas itu kadang kurang memiliki kepekaan rasa antara satu dengan yang lain. Maka, bisa jadi kita jumpai ”yang satu” memperoleh kebahagiaan, ”yang lain” tidak karena (merasa) dirugikan. Seperti, yang terjadi antara anak-anak yang menyalakan petasan tersebut dan si bungsu. Mereka, anank-anak itu, melepaskan ekspresi kesukacitaannya karena dapat menyalakan petasan; sementara si bungsu menangis karena ketakutan bunyi petasan itu.

Itu artinya, anak-anak memiliki kebebasan ruang untuk mengekspresikan diri, tapi si bungsu kehilangan ruang mengekspresikan dirinya. Betapa sulitnya, pikir saya, untuk meminta ruang ekspresi bagi si bungsu dari anak-anak itu. Sebab, jangan-jangan ketika anak-anak itu diberitahu untuk tidak menyalakan petasan di tempat tersebut, mereka juga merasa ruang kebebasannya tersita. Akan tetapi, keputusan saya akhirnya ”mengiyakan” keinginan isteri. Dengan menggendong si bungsu yang masih menangis, saya keluar rumah (sebagai bukti bahwa tangis si bungsu memang benar-benar karena bunyi petasan). Lantas, memberitahu anak-anak itu untuk tidak menyalakan petasan di sekitar rumah. Saya anjurkan mereka pindah ke tempat lain. Mereka pun akhirnya pindah. Tapi, pikiran saya ”tergoda” oleh kemungkinan reaksi orang tua mereka. Yang, jangan-jangan mereka juga merasa kebebasan anak-anak mereka terpasung. Ah, semoga saja mereka berhati mulia!

2 komentar:

  1. Kebebasan berekspresi itu sendiri juga harus dilakukan secara mulia. Artinya, berekspresi juga sembari menyediakan ruang dan menghargai sesama. Setidaknya itu menurut harapan saya. Semoga hati mulia masih melekat pada kita, di antara kita, bersama kita. Amin. Salam hormat saya Pak.

    BalasHapus
  2. alhamdulillah, di tempat saya sudah hampir ndak ada anak2 yang main petasan, pak. maklum, banyak tetangga yang jadi polisi, hehe ... jadi rikuh kalau ortu-nya membiarkan mereka bermain petasan, hiks.

    BalasHapus

""