Selasa, 31 Agustus 2010

Penanganan yang Konsisten Membawa Perubahan

Penanganan yang Konsisten Membawa Perubahan

Anak didik, di sekolah, tempat saya mengajar, yang ditemukan melanggar tata tertib sekolah, segera mendapat perhatian. Sekecil pun pelanggaran yang dilakukan tetap menjadi perhatian khusus kami, terutama bagian kesiswaan. Sebut saja, misalnya, anak didik tidak mengenakan dasi dengan benar, baju tak dimasukkan dengan wajar, dan rambut panjang tak diikat (bagi anak wanita).

Kami segera menegur anak didik yang melanggar tata tertib itu dan sekaligus memberi nasihat. Akan tetapi, tak jarang, teguran dan nasihat yang kami berikan seolah-olah seperti angin lalu saja. Anak didik yang sama dengan kasus yang serupa dapat saja kami jumpai lagi di waktu yang berbeda. Dan, karenanya kami memperoleh kesan, seakan-akan anak-anak didik yang demikian itu ingin ”bereksperimen” apakah guru tetap memerhatikan atau tidak.

Sebenarnya, anak-anak didik yang abai terhadap tata tertib sekolah itu telah dapat kami petakan. Sebab, paling-paling yang cenderung melanggar, anak tertentu saja. Artinya, dari waktu ke waktu tetap adanya. Itu-itu saja. Itulah sebabnya, kami tak membiarkan pelanggaran sekecil apa pun yang dilakukan oleh anak-anak didik tersebut. Kami terus dan terus menanganinya dengan konsisten. Kami berusaha untuk tidak ”terkelabui”. Bahkan, ”tindakan” yang kami kenakan terhadap mereka bisa saja bertingkat-tingkat sesuai dengan kualitas dan kuantitas pelanggaran.

Memakai kaus kaki ditekuk bagian bawahnya, misalnya, sekali ketahuan, kami langsung tegur dan nasihati sembari kami tegaskan jika ketahuan melanggar hal yang serupa lagi, kami tak segan-segan mencopot kaus kaki berikut sepatunya. Meski telah kami tegaskan seperti itu, ada saja anak didik yang tetap ”berani” melanggar tata tertib itu. Kami pun tak mau mengkhianati penegasan yang telah kami sampaikan. Dan, karenanya suatu ketika dapat (saja) dijumpai anak didik yang tak bersepatu di sekolah saat bersekolah. Bahkan, kami pun pernah menyuruh anak didik itu pulang sekolah dengan kaki tanpa sepatu. Karena, sepatu dan kaus kaki baru boleh diambil hari berikutnya oleh orang tua mereka.

Saya meyakini, sekecil apa pun pelanggaran anak didik jika tak ditangani secara konsisten, dapat berdampak pada semakin beraninya dan bertambahnya anak didik melakukan pelanggaran. Sebaliknya, sebesar apa pun pelanggaran anak didik jika ditangani secara konsisten, dapat mengikis sedikit demi sedikit kebiasaan anak didik melanggar tata tertib sekolah.

Dan, kenyataan semacam itu telah dapat dirasakan di sekolah kami. Anak-anak didik yang sering abai terhadap tata tertib sekolah, kini, lambat laun semakin menyusut jumlahnya. Anak didik banyak yang mengalami perubahan. Misalnya, yang dahulu biasanya sering memakai dasi setelah berada di ruang kelas, kini, rata-rata dasi (telah) dipakai dari rumah, atau paling tidak memasuki lingkungan sekolah sudah berdasi. Yang biasanya memasukkan baju, tapi kemudian ditarik keluar agar ikat pinggang tak kelihatan, kini, pemandangan semacam itu mulai jarang terlihat.
Bentuk penanganan yang konsisten ini, menurut saya, dapat diberlakukan untuk pelanggaran apa pun saja yang diperbuat oleh anak didik. Baik untuk tugas-tugas pelajaran, piket harian, pekerjaan rumah, maupun aktivitas pembelajaran yang lain anak didik. Hanya memang sangat dibutuhkan ketekunan dan ketelitian guru. Bagaimana?

6 komentar:

  1. Betul pak, kalau tak konsisten siswa juga akan bingung...dan kita sendiri ikut bingung.
    Konsistensi ini diperlukan kerjasama oleh seluruh pihak yang berkepentingan

    BalasHapus
  2. untuk mendidik emang perlu disiplin tinggi dan keletan. jangan sampai sekali aja ritme yg udah kita bangun rusak, biar gag ngulang dari awal dan didikan kita pun jadi gagal

    BalasHapus
  3. mendukung gerakan tersebut.ehhehe
    pasti menarik gagasannya
    salam hangat dari blue

    BalasHapus
  4. hehe ... saya mungkin termasuk guru yang tidak terlalu cerewet dalam hal2 yang bersifat lahiriah seperti seragam itu, pak, hehe ...

    BalasHapus
  5. benar juga kebiasaan buruk klo dibiarkan saja lama-lama akan menjadi seperti kerak yang sulit untuk dihilangkan...............

    BalasHapus
  6. blue datang.ehhehe
    salam hangat dari blue

    BalasHapus

""