Sabtu, 14 Agustus 2010

Pendidikan Karakter Lewat Kemah Pramuka

Pendidikan Karakter Lewat Kemah Pramuka

Teringat masa kecil saya ketika masih sekolah dasar (SD). Boleh dibilang setiap ada libur sekolah ada kegiatan kemah. Kemah, salah satu kegiatan sekolah, yang saat itu selalu dinanti-nanti oleh para siswa, khususnya siswa kelas enam. Dinanti-nanti, karena setiap kemah selalu menempati lahan yang menarik. Di tepi pantai, di bukit-bukit, di hutan, atau di area sekitar gunung. Ketika itu, jarang, atau bahkan tidak pernah mengadakan kemah di lingkungan sekolah.

Mungkin karena siswa kelas enam dianggap sudah besar, maka merekalah yang diizinkan untuk mengikuti kegiatan kemah. Mereka diyakini memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri dan regu. Sejak persiapan kemah hingga pelaksanaan, ketika itu, guru tak banyak intervensi. Anak-anak menyiapkan tenda sendiri, pasak-pasak, bambu, tongkat, tali, perkakas untuk masak, dan lain-lain. Praktis, guru lebih banyak sebagai motivator.

Kegiatan kemah, kala itu, selalu erat dengan praja muda karana (pramuka). Entah apa alasannya, hingga kini, saya tak tahu persis. Yang pasti, setiap kemah, anak-anak tak pernah lepas dari duk dan kabaret (untuk yang laki-laki). Memakai seragam atasan dan bawahan cokelat atau pakai kaos selalu di leher diikatkan duk. Seolah-olah duk menjadi penanda (utama) pramuka.

Karena libur sekolah selalu diisi dengan kegiatan kemah, maka identiklah libur sekolah dengan pramuka. Kegiatan pramuka, khususnya kemah, dengan demikian menjadi penting untuk mengisi libur sekolah. Saya masih ingat, ketika itu, sekolah masih menggunakan pola kerja catur wulan. Maka, libur sekolah setahun bisa tiga kali. Dengan begitu, kemah pramuka pun setahun dapat tiga kali. Dan karena itu, hari-hari libur sekolah menyerupai hari milik pramuka. Bahkan, jujur saja, mungkin saking seringnya kemah pramuka, Hari Pramuka yang belakangan saya tahu diperingati setiap 14 Agustus, saat itu, saya (atau bahkan kami) tidak mengetahuinya.

Dan, satu dekade belakangan ini, Hari Pramuka, setiap 14 Agustus, di daerah saya (sejauh saya tahu) tak selalu diramaikan dengan kegiatan kemah. Kalau di Hari Pramuka saja tak selalu digiatkan dengan kemah, maka boleh jadi kegiatan kemah tak bakal dijumpai di hari-hari libur sekolah. Padahal, sejatinya, lewat kegiatan kemah pramuka, karakter anak dapat dibentuk.

Saya masih ingat benar, bahkan seakan telah menjadi prasasti di benak dan pikiran saya. Yaitu, ketika masih SD, saya dan teman-teman mengikuti perkemahan yang lokasinya di tengah hutan. Penerangan malam hari cukup lampu petromak dan beberapa lampu sentir (teplok). Ketika itu hujan turun dan mulai lebat beberapa waktu kemudian. Kami tak bisa lagi beraktivitas di luar tenda. Masing-masing regu akhirnya masuk ke dalam tenda regu. Di dalam tenda, kami masih dapat bercengkerama dengan hangat. Karena, seingat saya, waktu itu kami menyalakan kompor minyak tanah dalam tenda, yang tak hanya untuk penghangat, tapi juga untuk menggoreng ikan teri dibuat camilan. Rasanya begitu nikmat.

Air dari luar tenda tak dapat merembes lewat bawah masuk ke dalam tenda. Karena, siangnya kami telah mengantisipasi dahulu dengan membuat selokan di seputar tenda lalu kami buatkan aliran air menjauh dari tenda. Di samping itu, kami juga membuat kasur dari rerumputan dan tetumbuhan perdu yang kami taruh di dalam tenda di bawah tikar yang kami bawa. Jadi, ketika kami berada di atas tikar, terasa empuk serupa kasur. Posisinya (juga) agak tinggi dari tanah. Semua itu kami lakukan dan nikmati secara bersama-sama.

Dalam kemah itu, kami membagi tugas. Ada yang bertugas memasak, mengambil air, mengikuti kegiatan bersama di luar kesibukan kami di tenda. Masing-masing memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Yang memasak, misalnya, mereka harus memasak dengan baik agar nanti saat waktunya makan, semua anggota regu dapat makan. Memang masakan yang dimasak kadang kurang matang, tapi kami tetap menikmatinya dengan canda tawa. Demikian juga yang mengambil air, mereka harus dapat mengatur waktu agar air tak terlambat tiba di lokasi tenda untuk memasak, mencuci piring dan perkakas lainnya. Kadang kalau sungai tak terlalu jauh dari lokasi kemah, kami biasa mencuci piring dan perkakas masak di sungai. Sementara itu, yang mengikuti kegiatan bersama di luar juga berusaha membawa nama baik regu. Kalau kegiatannya lomba, misalnya, kami ”berjuang” mati-matian untuk meraih yang terbaik.

Malam hari, kami juga membagi regu piket ”ronda malam”. Perwakilan dari beberapa regu bertugas ”ronda malam” untuk menjaga lingkungan perkemahan agar tetap nyaman. Usai perkemahan, sebelum kami meninggalkan lokasi, kami dibiasakan melakukan gerakan cinta lingkungan. Tidak hanya membersihkan sampah yang kami ”hasilkan”, tapi juga mengadakan kerja bakti di seputar lingkungan perkemahan. Mengingat semua itu, saya berpikir bahwa tenyata ada banyak pembelajaran bermakna yang sekarang ini terlupakan bersamaan dengan nyaris terlupakannya kegiatan kemah pramuka bagi anak-anak, penerus negeri ini. Padahal, pendidikan karakter, seperti sikap bertanggung jawab, kebersamaan, perjuangan, kerja keras, mencintai lingkungan, bahkan berpikir kritis, inovatif, dan kreatif dapat dipraktikkan langsung di sana.

Kemah, yang kini, di samping sudah jarang diadakan, ternyata juga tak banyak membawa dampak sikap terhadap anak-anak karena pelaksanaannya kurang ”menyentuh”. Hal tersebut dapat dibuktikan dari intervensi guru bahkan orang tua terhadap anak, sebagai peserta kemah, teramat ”jauh”. Anak-anak, misalnya, sering tidak (dizinkan) memasak sendiri karena telah dikirim oleh orang tuanya atau bahkan dimasakkan oleh gurunya. Jadi, guru dan orang tua (agaknya) masih kurang ”berani” melepas anak dapat mandiri.
Sungguh, kini, saya rindu ada kemah untuk anak-anak seperti ketika saya kecil dulu. Pada akhirnya, saya mengucapkan selamat Hari Pramuka ke-49. ”Satyaku KuDarmakan, Darmaku Kubaktikan.”

5 komentar:

  1. sama blue juga merinsuyu suasana seperti dulu.
    menarik
    salam hangat dari blue

    BalasHapus
  2. kemah sekarang cenderung miskin dengan kegiatan2 kreatif, pak. hanya tepuk tangan sama baris-berbaris, hehe ... itu kalau di daerah saya, loh, hiks.

    BalasHapus
  3. Kami di Solo juga diantaranya sedang mendiskusikan pendidikan karakter ini, Pak.
    Selamat menunaikan puasa Ramadhan.

    BalasHapus
  4. Sayangnya pramuka sekarang udah di cap kuno. ketinggalan jaman bila dibandingkan jenis kegiatan lain. tapi bila dilihat lebih jauh, pramuka gag kalah bagus kok untuk menjadi media aktualisasi pemuda jaman sekarang. :)

    BalasHapus
  5. Kemajuan teknologi informasi mungkin juga berpengaruh, Pak. Anak-anak sekarang lebih senang "menciptakan dunianya sendiri." Sudah merasa cukup bersosialisasi melalui dunia maya. Interaksi sosial "konvensional" sudah tergeser dengan sosialisasi digital. Silaturahmi di hari raya agama telah tergantikan dengan sms. Interaksi sosial verbal tergantikan dengan facebook dan twitter. Yah, kadang-kadang yang konvensional masih kita butuhkan. Bahkan lebih dibutuhkan. (Danang. www.danangtuar.blogspot.com)

    BalasHapus

""