Minggu, 15 Agustus 2010

Pendidikan yang Menyentuh

Pendidikan yang Menyentuh

Semestinya sore itu ada ekstrakurikuler (ekskul) teater di sekolah. Hanya, baru beberapa siswa yang datang meski telah melewati waktu sesuai jadwal, yaitu pukul 15.00 WIB. Itulah sebabnya, sembari menanti siswa yang lain datang, saya iseng-iseng menuju ke salah satu halaman kelas, yang kebetulan di situ diparkirkan banyak motor, termasuk motor saya.

Saya jumpai salah satu siswa putra yang sedang melihat-lihat motornya. Saya tahu bahwa siswa itu adalah anak seorang dokter, baik bapak maupun ibunya. Saya rasa ada sesuatu yang sedang dipikirkan anak itu terkait dengan sepeda motornya. Maka, bukan dalam motif untuk mengejek, saya menyatakan dengan sejujurnya, bahwa motornya masih bagus. Saya memang termasuk orang yang berusaha bisa menghargai benda-benda keluaran lama manakala benda itu masih dapat dimanfaatkan. Sepeda motor yang dikendarai anak itu memang keluaran lama, tapi dari sisi fisiknya masih relatif bagus.

Akan tetapi, ketika saya menyatakan seperti tersebut di atas, ia langsung menyampaikan pernyataan bahwa motornya jika dibuat kencang tiba-tiba berhenti/mogok. Jadi, dia harus mengendarainya pelan-pelan jika ingin lancar. ”Mungkin Bapak sengaja memberi saya motor lama agar tidak ngebut, saya kan laki-laki,” begitu dia berkata polos di depan saya. Dia kemudian menceritakan bahwa kakak wanitanya yang kuliah di luar kota dibelikan motor baru. Bahkan, disampaikan juga, kakaknya itu baru saja mengalami kecelakaan. Pikir saya, barangkali anak itu ingin menunjukkan bahwa meskipun wanita dapat saja mengendarai motor kencang-kencang dan akhirnya bisa (juga) kecelakaan.

Namun, yang menarik bagi saya adalah ternyata anak itu memiliki pemikiran yang menurut saya cukup jitu. Sebab, bisa jadi memang benar bahwa bapaknya memberikan motor keluaran lama itu, barangkali di antaranya biar anak itu tidak ngebut. Kalau memang benar demikian, berarti ”pendidikan” yang diberikan oleh orang tuanya sangat ”menyentuh”. Mengapa? Karena menurut saya, melalui motor keluaran lama, anak itu tak hanya tidak mengebut, tapi juga dia harus berhati-hati, bersikap sabar, dan memiliki prinsip kesahajaan.

Dan, saya menyaksikan sendiri dalam keseharian di sekolah (ini yang terlihat jelas) anak itu memang termasuk anak yang sangat sederhana. Saya berkata begitu karena setelah membandingkannya dengan anak-anak lain. Meskipun banyak temannya menggunakan motor baru, misalnya, dia tampak tenang-tenang saja. Tidak merasa malu. Tetap mantap bersosialisasi dengan teman-temannya. Jauh dari rasa minder. Ini yang bagi saya sungguh berharga. Sebab, meski anak seorang dokter, yang logikanya jelas sangat mampu memenuhi ”segala” keinginannya, dia tak hendak memanfaatkan kelebihan orang tuanya itu.

Semoga gaya mendidik yang demikian itu menginspirasi ke setiap orang tua. Yang, berarti orang tua akhirnya memiliki ”keberanian” melepas anaknya untuk ”belajar” yang sesungguhnya, tanpa memberi ruang sedikit pun demi menemukan kemanjaan.

4 komentar:

  1. Teman2ku kawatir membelikan sepeda motor untuk putranya, mereka memilih memberikan sopir yang antar jemput dan jika anaknya sudah SMA/mahasiswa membelikan mobil. Saat saya membelikan sepeda motor untuk anakku, tetangga protes karena anak-anaknya jadi meminta ortu ikut membelikan sepeda motor..mau alasan uang juga tak mungkin karena yang mampu membelikan mobil adalah teman yang jabatannya saat itu dibawahku (kami tinggal di kompleks rumah dinas).

    Terpaksa saya menjelaskan bahwa mengendarai sepeda motor jika sangat berhati-hati tak masalah, dan hidup mati seseorang hanya Tuhan lah yang tahu. Dan sepeda motor anakku, walau baru juga tak bisa kencang, suami sengaja membelikan sepeda motor yang tak bisa ngebut. Dan karena si sulung sangat hati2, dia nyaris tak pernah menyentuh sepeda motor tadi, justru ortu yang mendorongnya belajar mengendarai, namun hanya untuk kegiatan tertentu.

    Untuk pergi ke sekolah (SMA) dia tetap naik angkot, karena kami kawatir dia tak bisa menolak bujukan teman2nya untuk diajak jalan sepulang sekolah jika menggunakan sepeda motor ke sekolah. Anakku baru boleh membawa sepeda motor saat sudah kuliah.

    BalasHapus
  2. Umumnya orang tua justru lebih memilih anaknya dibelikan yang baru, sementara si orang tua cukup pakai yang lama. Belum lama seorang teman yg memiliki anak yang masih SMP dibelikan motor baru. Ketika diberi saran justru dia dengan ketus mengatakan, "Lha nek ora nyenegke anak arep nyenengke sapa?" Tapi ternyata belum genap 3 bulan ternyata si anak dengan motornya mengalami kecelakaan dan meninggal.
    Hemmmh ..., lepas dari ini sebuah takdir, semoga ini jadi pelajaran buat kita para orang tua.

    BalasHapus
  3. wah, sebuah trik yang jitu dari ortu si anak, pak, hehe .... tanpa harus menasihati ini itu, si anak bisa paham dengan sendirinya lewat motor yang digunakan. layak dicontoh juga ini, pak.

    BalasHapus
  4. yah karena kesalahan pemikiran dari orang tua yang begitu protektif terhadap anaknya membuat anaknya tak mandiri dan akhirnya sulit berkembang

    BalasHapus

""