Kamis, 19 Agustus 2010

Ramadhan dan Tukang Becak

Ramadhan dan Tukang Becak

Sembari menanti anak dan isteri membeli red crispy, saya bercengkerama dengan tukang becak yang sedang duduk santai di jok becak, menunggu penumpang. Siang itu sangat ”garang”, maksudnya sinar mentari sangat terik membakar kulit. Tapi, tukang becak itu, saya lihat, begitu menikmati ”istirahat”. Mungkin, karena diperolehnya suasana tidak terik akibat memarkir becaknya di pinggir jalan di bawah kerindangan daun tetumbuhan.

Saya mendekat, lantas bercengkerama seputar kondisi pekerjaan tukang becak. Saya lebih banyak bertanya dan tukang becak itu memberi jawab, karena saya tahu kemudian bahwa ternyata ia sangat familiar. Saya sangat senang membangun komunikasi dengannya. Beberapa hal dapat saya ingat, dan kini saya tuliskan. Bulan-bulan sebelum puasa, dikatakan, pengguna jasa tukang becak masih cukup banyak. Sehingga, pendapatan tukang becak setiap hari cukup lumayan. Untuk sekadar mencukupi kebutuhan dasar keluarga dengan tiga anak, misalnya, masih bisa dilakukan. Tapi, begitu memasuki Ramadhan, pendapatan itu turun drastis. Alasannya, pengguna jasa becak berkurang.

Hal itu bisa saja terjadi karena (tentu) di bulan puasa banyak orang mengurangi aktivitas di luar rumah/kantor, khususnya pada siang hari. Orang-orang lebih banyak melakukan kegiatan di dalam rumah/kantor. Itu pun umumnya jam kegiatan berkurang. Kalau di luar bulan puasa, misalnya, banyak orang yang bepergian, berbelanja, atau sekadar jalan-jalan di mal-mal, tapi di bulan puasa ini, kegiatan serupa itu intensitasnya sangat berkurang. Dan, keadaan demikian agaknya sangat berdampak pada berkurangnya pemakaian jasa becak. Itulah sebabnya, penghasilan tukang becak cenderung berkurang di hari-hari puasa, seperti kali ini.

Tukang becak yang saya jumpai siang itu, sekitar pukul 11.00 WIB, baru dapat satu ”tarikan”. ”Tarikan” adalah istilah yang dipakai oleh kebanyakan tukang becak di daerah saya saat memperoleh penumpang. Itu artinya, satu ”tarikan” diperoleh dalam waktu hampir setengah (siang) hari. Ia berangkat dari rumah sekitar pukul 07.00 WIB; pulang sore hari, sekitar pukul 17.00 WIB. Padahal, satu ”tarikan” yang saat itu ia lakukan jaraknya tidaklah terlalu jauh, dan karenanya uang jasanya juga tidak banyak, sekitar Rp5.000,00. Keadaan seperti itu, sering terjadi dalam Ramadhan, yakni satu hari mendapat satu "tarikan". Bahkan, pernah di suatu hari, di bulan Ramadhan ini, ia tak mendapat satu pun ”tarikan”. Dan, itu tentu tak ia harapkan. Tapi, yang sungguh tak saya duga, si tukang becak yang saya jumpai itu ternyata masih bertahan melakukan ibadah puasa.

Fase berkurangnya penghasilan, mulai berubah naik sedikit demi sedikit, ketika telah memasuki minggu-minggu akhir bulan puasa. Ia mengatakan, saat-saat itu orang sudah mulai melakukan kegiatan. Ada yang mulai mengumpul-kumpulkan persediaan dan persiapan untuk lebaran. Pergi ke pasar-pasar, mal-mal, dan toko-toko. Orang-orang mulai terlihat sibuk di luar rumah/kantor. Dan, jasa becak mulai dimanfaatkan banyak orang, misalnya, untuk mengangkut belanjaan.

3 komentar:

  1. Saya mbaca tulisan ini jadi rindu suasana Ramadan di tanah air :)

    BalasHapus
  2. semangat abang becak mengilhami blue tuk tetap bersemangat meskipun yg terjadi belum pasti......................keren
    menarik
    biarkan blue belajar dari postinganmu ,mas
    salam hangat dari blue

    BalasHapus
  3. justru mereka yang telah bekerja keras membanting tulang dan dibakar matahari seperti itulah yang mampu merasakan hakikat puasa yang sesungguhnya, pak. semoga memang demikian.

    BalasHapus

""