Rabu, 25 Agustus 2010

Siswa SMP Naik Motor, Pedulikah Kita?

Siswa SMP Naik Motor, Pedulikah Kita?

Beberapa hari yang lalu, teman saya, seorang guru sekolah menengah pertama (SMP), yang lokasi sekolahnya jauh dari kota, menyatakan banyak siswanya kini pergi-pulang sekolah mengendarai motor sendiri. Padahal, beberapa waktu yang lalu, peserta didik yang masih relatif kecil itu, biasanya naik sepeda. Dulu, ketika teman saya berangkat maupun pulang mengajar, diakuinya, di sepanjang jalan dekat sekolah selalu dilihatnya deretan sepeda menyemut begitu panjang, yang menimbulkan pemandangan cukup menarik. Kini, pemandangan itu telah semakin menghilang. Hanya beberapa anak masih menaiki sepeda. Beralih pada kebisingan deru motor anak-anak.

Kenyataan demikian itu sebelum ada pernyataan teman saya, sedikit pun tak mengusik pikiran saya. Entah mengapa? Seolah-olah tidak ada perubahan apa-apa. Berjalan seperti biasanya. Padahal, sejatinya, ada perubahan yang ”mengejutkan”. Mengejutkan, karena anak-anak yang sesungguhnya secara hukum kepolisian belum memiliki hak untuk naik motor, namun kita telah melihatnya semakin banyak di jalan berlalu-lalang anak-anak yang mengenakan seragam putih-biru bermotor.

Dan, entah mengapa, meskipun ada polisi di persimpangan jalan saat melancarkan arus lalu lintas terutama di pagi hari yang (memang) relaif ramai pengendara kendaraan untuk berangkat beraktivitas, yang tentu melihat anak-anak itu bermotor, belum pernah saya melihat mereka diberhentikan (mungkin) sekadar untuk diperingatkan. Atau, karena (memang) polisi ketika itu mengatur lancarnya arus perjalanan sehingga membiarkan mereka berlalu begitu saja agar tak ada kemacetan.

Kalau pun ada yang diberhentikan/ditilang, lebih sering saya melihat mereka yang secara kasat mata melakukan pelanggaran atau mengalami kecelakaan. Dan, itu sebenarnya tak jauh berbeda dengan pengendara dewasa, yang memang telah memiliki hak untuk bermotor karena bersurat izin mengendara. Sengaja ”menghentikan” anak-anak berseragam putih-biru ketika tanpa ada persoalan kasat mata di jalan, rasanya tak pernah saya melihat. Sekalipun mungkin mereka tiada bersurat izin mengendara.

Padahal, tak jarang, mereka terutama yang laki-laki, mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Sering melalaikan perhitungan-perhitungan matang. Mereka ngebut begitu saja. Kurang memedulikan pengendara lain. Bahkan, boleh jadi karena mungkin baru ”hangat-hangatnya” naik motor, ngebut menjadi bagian penting agar ”diperhatikan” banyak orang.

Gejala yang menarik, saya lihat akhir-akhir ini di daerah saya, atau lebih khusus lagi di kampung saya, banyak orang tua yang justru tampak senang jika anaknya yang masih kecil itu dapat mengendarai motor. Maka, tak segan-segan, orang tua sengaja melatih anaknya mengendarai motor. Bahkan, yang saya lihat ada yang masih SD. Bapaknya polisi lagi. Dan, barangkali fenomena tersebut telah mewabah di mana-mana.

Ketika melihat ada anak-anak kecil bermotor mutar-mutar kampung saja, dalam pikiran saya langsung tebersit hal yang tidak menentramkan batin. Taruhlah, misalnya, mereka dalam kondisi ”mendadak” ada pengendara lain di sebuah perempatan jalan yang sama-sama kurang memerhatikan situasi. Atau, barangkali di tengah jalan tiba-tiba ada kucing melintas. Hanya karena ”kaget”, bisa jadi anak itu mengalami kecelakaan karena daya kendali kurang. Bukan berarti bagi orang dewasa jika mengalami hal serupa niscaya terhindar dari kecelakaan. Bukan. Tapi, paling tidak, karena daya kendali orang dewasa relatif lebih teguh, tingkat parahnya kecelakaan tentu lebih ringan. Ini dari sisi ”keamanan” bagi mereka, anak-anak kita tercinta.

Dari sisi penciptaan lingkungan bersih polusi, membiarkan budaya siswa SMP/MTs bermotor, agaknya bertolak belakang. Kalau ada kebijakan pemerintah di beberapa daerah menganjurkan para pejabat dan warga pada hari tertentu tak bermotor demi mengurangi efek rumah kaca, membiarkan semakin banyaknya siswa SMP/MTs menggunakan transportasi motor pergi-pulang sekolah berarti ”menciptakan” kecelakaan lingkungan. Menjadi berbeda ketika menganjurkan anak-anak SMP/MTs naik sepeda. Karena, berarti ”menciptakan” kenyamanan lingkungan.

Itulah sebabnya, sudah saatnya pihak berwenang, dalam hal ini kepolisian, bekerja sama dengan pemangku sekolah, khususnya SMP/MTs, untuk menyosialisasikan berkendaraan bermotor bagi yang berhak. Yang, tentu harus dibarengi adanya kesadaran orang tua untuk bersikap yang sebenarnya. Sebab, ketika kita mau jujur, hingga kini pun, kita boleh bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita peduli?

5 komentar:

  1. sudah lama saya juga mengusulkan agar ada solusi terbaik agar anak2 tdk berkendara sendiri ketika pp sekolah, pak, terutama yang rumahnya jauh. namun, hingga sekarang, justru makin banyak siswa yang naik motor sendiri ketika bersekolah. memang mamin repot.

    BalasHapus
  2. p cabar,mas
    semangat y
    salam hangat dari blue

    BalasHapus
  3. Hmm jika berkendara namun belum memiliki tanggung jawab yang cukup, ini bisa berbahaya.
    Orangtua seharusnya memahami ini..naik sepeda dengan sepeda motor akan banyak bedanya, juga risikonya lebih tinggi.

    Anakku, walau sudah dibelikan sepeda motor saat SMA, ke sekolah tetap naik angkot, karena kami kawatir dia tak bisa menolak jika diajak teman-temannya keluyuran. Dengan naik angkot, uang saku terbatas, gerakan anak juga terbatas.Si sulung baru naik sepeda motor setelah diterima di PTN.

    Si bungsu tetap naik angkot sampai lulus S2-ITB..hehehe..
    Sekarang, di LN dia naik sepeda ke kampusnya...

    BalasHapus
  4. saya pernah usul malah di salahkan , lha wong SD sebelah saja boleh bawa motor kok masak di sini smp gak boleh

    BalasHapus
  5. Saya kok kurang setuju ya, Pak..
    Alasan saya simple, memperbolehkan anak SMP ber sepeda motor akan semakin membuat mereka merengek2 ke ortunya untuk dibeliin motor dan dicarikan SIM meski 'nembak' sekalipun...

    BalasHapus

""