Senin, 02 Agustus 2010

Tak Jauh Berbeda dengan Anak

Tak Jauh Berbeda dengan Anak

Tak terbayangkan sebelumnya, karena paginya dalam kondisi sehat, suara si bungsu terdengar agak tak nyaman sore harinya. Serak dan berat. Kata Dhe Mi, yang merawat si bungsu, mereka sekeluarga termasuk si bungsu (yang memang sering dirawat di rumah Dhe Mi) habis makan bakwan beli dari warung sebelah. Dugaan Dhe Mi, demikian pemomong si bungsu sering kami panggil, suara serak itu akibat makan bakwan. Bukti yang menguatkan adalah semua anggota keluarga Dhe Mi, dua anak dan seorang suami, yang semuanya turut makan bakwan itu merasa tenggorokan mereka tak sejahtera.

Tapi, bagi saya (agak) aneh sebab meski tak sering, kami pernah beberapa kali membeli gorengan di situ, tak pernah mengalami hal serupa. Kami tetap dalam keadaan baik sehabis makan gorengan. Jadi, kalau sore itu ternyata ada kejadian yang kurang menguntungkan karena (terutama) si bungsu serak sehabis makan bakwan, timbullah dugaan. Mungkin minyak yang dipakai untuk menggoreng bakwan itu ”kurang sehat”. Kurang sehatnya minyak goreng itu barangkali karena telah berkali-kali dipakai untuk menggoreng. Kalau memang dugaan itu benar, rasanya pewarung tak mungkin membiarkan si bungsu makan jajan goreng itu sebab pewarung (dan keluarganya) itu telah kenal baik dengan kami sekeluarga, malah seperti saudara sendiri.

Juga, rasanya pewarung tak akan berani mengambil risiko terburuk karena umumnya pelanggan tetangga sendiri. Sekali tercederai karena usaha yang disengaja, pastilah pembicaraan tak sedap cepat merebak dan ujung-ujungnya bisa saja warung itu tak beroperasi lagi. Saya yakin pewarung tak berniat mengambil keuntungan belaka tanpa mempertimbangkan kenyamanan pelanggan, yang notabene para tetangga.

Atau barangkali minyak yang dipakai menggoreng itu minyak goreng curah oplosan. Yang, beberapa waktu lalu repotasenya pernah ditayangkan oleh beberapa media eletronik. Tentu harganya lebih murah. Tapi, lagi-lagi pikiran saya dibenturkan pada hubungan baik dengan pewarung itu. Tak mungkin rasanya pewarung, yang telah akrab dengan kami, itu ”sengaja” melakukan bisnis yang kurang manusiawi itu.

Akan tetapi, mengapa yang terkena musibah tenggorokan itu satu keluarga dan si bungsu, yang berada (sementara) di tengah-tengah keluarga itu? Apakah mereka memang sedang mengalami stamina tubuh lemah? Kalau berstamina tubuh lemah masak bersamaan. Rasanya aneh. Saya memang tak berpikir mencari berita (sampai sejauh) apakah tetangga lain yang sore itu membeli juga mengalami hal serupa, sakit tenggorokan? Pikiran saya telah tercuri lebih dulu (harus) memerhatikan si bungsu yang saya bayangkan tenggorokannya meradang. Terlihat dari bibirnya yang telah memerah. Pasti sebentar lagi panas. Dan, sekalipun ibunya telah memberi obat, si bungsu (ternyata) belum juga kembali ceria seperti hari-hari sebelumnya. Yang biasanya banyak bicara dan gerak, saat itu lebih banyak diam.

Bahkan, ketika diajak berguaru, ia malah merengek. Tidak seperti biasanya. Sedikit saja dipancing bergurau, misalnya, selanjutnya pemancing akan merasa kewalahan. Sebab, ia pasti terus mendesak mengajak bergurau, yang tak jauh berbeda dialami oleh hampir semua anak. Itulah sebabnya, ketika ada perubahan yang terjadi pada diri si bungsu, pikiran saya tak mau diam. Mencoba menggali tautan antarberbagai sisi. Barangkali dalam kondisi seperti yang dialami si bungsu itu membentuk sikap lebih sensitif, mudah tersinggung; dan karenanya bisa saja ditanggapi dengan buruk meskipun orang lain bermaksud baik, misalnya, bermaksud menghibur. Ia (ternyata) lebih membutuhkan ”perlindungan”, dekapan, dan tempat menumpahkan beban pada orang(-orang) terpilih. Si bungsu, misalnya, tak mau digendong orang lain, termasuk saya dan kakaknya, kecuali ibunya. Si bungsu telah memilih ibunya sebagai tempat bercurah beban.

Agaknya tak jauh berbeda dengan orang dewasa yang sedang bermasalah. Apakah masalah itu berupa sakit jasmani atau beban psikologis. Orang-orang yang sedang berada dalam kondisi demikian cenderung lebih sensitif dan mudah tersinggung. Tidak mudah untuk diajak bicara. Saya (sendiri) jika sedang memiliki beban kerja banyak dan dikejar batas waktu, si sulung dan ibunya kurang berani mengajak bicara. Mereka sangat berhati-hati ketika terpaksa harus berbicara, misalnya, mengingatkan saya untuk makan atau mandi. Demikian juga sebaliknya, ketika isteri sedang sakit. Saya dan si sulung lebih bersikap hati-hati dalam memberikan pelayanan, termasuk ketika kami membangun komunikasi.

Orang-orang yang memiliki masalah dan butuh pertolongan, tentu tak sembarang orang dapat memberi bantuan. Orang-orang tertentu (saja) yang mempunyai kemungkinan untuk bisa mengusulkan alternatif solusi. Hanya orang-orang tertentu dipilih sebagai sang pembuka katup beban yang menghadang.

2 komentar:

  1. inilah salah satu kebesaran sang pencipta, milyaran sudah manusia dibentuk dengan berbagai kombinasi tetapi tak satupun yang sama identik

    BalasHapus

""