Kamis, 16 September 2010

Beragam Itu Indah, Bukan?


Beragam Itu Indah, Bukan?

Yang seragam itu terkesan formal, kaku, monoton, dan karenanya kurang menarik. Sebaliknya, yang beragam itu terkesan informal, elastis, variatif, dan karenanya menarik. Itulah sebabnya, banyak orang cenderung menciptakan keberagaman dalam beberapa hal agar tidak membosankan. Sebuah lukisan, misalnya, agaknya tak akan membawa emosi orang ke dalam penghayatan suasana yang sesungguhnya jika warna yang teroleskan hanya seragam. Untuk membangun nuansa yang “menghanyutkan” imajinasi penikmat seni lukis, pelukis sepertinya telah begitu “ramah” dengan banyak warna. Demikian juga pada seni vokal. Paduan suara akan menarik penikmat jika variasi suara itu jelas tersimak.

Bahkan, ketika dalam perjalanan dari rumah mertua hingga ke rumah (sendiri), beberapa saat tadi, di sepanjang jalan betapa yang hampir semua saya lihat selalu beragam. Mobil yang beriring-iringan menyuguhkan kenyamanan saat dipandang karena sangat beragam. Ada yang besar, ada yang kecil; ada yang keluaran lama, ada yang baru; ada yang merek ini, ada yang merek itu; ada yang berwarna merah, ada yang hitam; dan sebagainya dan sebagainya. Itu juga berlaku pada kendaraan yang lain. Demikian juga rumah di sepanjang jalan yang sempat saya lihat, tak ada satu pun yang sama, baik bentuk, ukuran, maupun warna catnya. Dan,variasi itu, ternyata, membuat diri saya tak bosan melihatnya. Saya tidak tahu persis, apakah orang lain memiliki perasaan yang sama atau berbeda dengan saya ketika menjumpai hal yang serupa.

Saya menduga, kecenderungan orang menciptakan sesuatu secara beragam (untuk memenuhi selera) itu terinspirasi dari semua ciptaan Sang Khalik, yang memang beragam. Manusia yang diciptakan Sang Khalik, agaknya tak ada yang serupa. Meski, ada dua-tiga anak, misalnya, yang lahir dalam waktu yang hampir sama, dan sering kita menyebut anak kembar, tak satu pun di antara mereka sama persis. Tetap ada perbedaan satu dengan yang lain. Dan, itu justru menimbulkan keunikan, kekhasan yang ilahi, yang sangat menarik. Bunga yang membikin setiap penikmat merasa mengagumi tak lain karena, di antaranya, warnanya yang sangat variatif. Ada yang kuning, hijau, merah, putih, cokelat, merah muda, dan sebagainya. Itu dari unsur warna. Unsur bentuk, unsur ukuran, dan unsur yang lainnya tak kalah beragamnya. Jadi, saya pikir (semoga ini tak salah), Sang Khalik mencipta makhluk-Nya secara beragam itu, di antaranya, biar ada keindahan, keseimbangan, dan keunikan, yang semuanya itu menarik.

Menarik, karena saya pikir Sang Khalik mencipta makhluk-Nya secara beragam itu bukan untuk dipertentangkan/diperseterukan, tapi dikolaborasikan agar memunculkan kesejahteraan bersama. Dan, itu berarti menuntut adanya kerja sama satu dengan yang lain. Tak ada satu yang mengganggap lebih kuat dari yang lainnya. Barangkali dalam satu oknum ada kekuatan di satu sisi dan (juga) ada kelemahan di sisi lain. Di sinilah barangkali, pribadi satu dengan pribadi lain harus saling melengkapi; kelompok satu dengan kelompok yang lain mesti saling mengisi.

Itulah sebabnya, adanya bangsa-bangsa yang berbeda, suku-suku bangsa yang berlainan, kultur yang tak sama, atau hal lain yang berbeda harus saling melengkapi, saling mengisi. Sehingga, (yang namanya) kesejahteraan, kedamaian, keharmonisan, dan keindahan hidup, yang niscaya dikehendaki oleh Sang Khalik bagi umat-Nya, benar-benar terwujud.

Maka, jika, kini, adanya perbedaan/keragaman dalam hal apa pun yang berada di muka bumi ini, atau di mana pun (saja), sengaja dipertentangkan oleh pribadi atau komunitas tertentu demi “menguasai” pribadi atau komunitas lain, saya pikir, kurang selaras dengan misi dan visi Sang Khalik, yang sejak awal penciptaan-Nya memang telah mencipta makhluk-Nya secara beragam.

Dan, biarlah pemikiran sederhana saya, yang mengagumi keberagaman ini, (semoga) tak jauh-jauh melenceng dari rel kebenaran untuk bersama. Yakni, keberagaman tak hanya menarik, tapi memunculkan juga “energi” dahsyat untuk kemakmuran dalam keberlangsungan hidup bersama, sebagai umat Sang Khalik. Saya pikir ini match dengan epilog tulisan Salahuddin Wahid, di Jawa Pos (16/9/2010), dalam judul “Islam KTP-Islam Taat”, yaitu kita berjuang menjadi orang baik, yang berlaku baik terhadap orang lain, apa pun agamanya, apa pun pangkatnya, tidak peduli kaya atau miskin. Bagaimana?

4 komentar:

  1. keberagaman itu sudah sesuai dengan hukum alam, pak. jadi kalau ada yang ingin menyeragamkannya berarti malah bertentangan dengan hukum alam itu sendiri.

    BalasHapus
  2. Damailah wahai saudaraku...bhineka tunggal ika

    BalasHapus
  3. Keberagaman itu memang suatu keindahan yang akan terus berkembang ya Mas....
    Ya...kalau hidup itu hanya gitu-gitu aja, tanapa adanya keberagaman...ya...pastinya monoton banget ya Mas.....
    Mantabs deh Mas artikelnya...

    Salam Kenal...n..salam persahabatan...

    BalasHapus
  4. bayangin dalam hidup ini cuma ada satu warna, gag enak banget

    BalasHapus

""