Minggu, 19 September 2010

Didikan Seorang Ibu



Didikan Seorang Ibu

Begitu tulisan ini Anda baca, meski belum sampai tuntas, saya pastikan Anda berpikir bahwa saya termasuk orang tua yang bersikap tegelan (bersikap tega) terhadap anak kecil, termasuk anaknya sendiri. Dan, Anda mungkin akan terus menghentikan aktivitas membaca tulisan ini ketika sampai pada bagian tulisan yang menurut Anda tidak pas untuk dilakukan orang tua terhadap anaknya, apalagi anak itu masih berusia di bawah tiga tahun (batita). Anda akan membayangkan saya, dan kemudian memaki-maki saya sebagai orang tua yang tak becus mendidik anak. Yang, mestinya tak perlu dianugerahi anak oleh Sang Khalik, sebab masih banyak orang lain yang lebih manis (dalam) mendidik anak.

Apalagi jika Anda mengaitkannya dengan profesi saya, yang adalah sebagai seorang guru. Barangkali Anda tidak hanya sekadar memaki-maki saya, tetapi ingin mengenyahkan saya dari muka bumi ini. Mau jadi apa murid-murid yang dididik jika gurunya saja begitu “kejam”? Dan, jika Anda kebetulan memiliki anak bersekolah di sekolah, tempat saya mengajar, mungkin tingkat kekhawatiran Anda terhadap anak Anda sangatlah tinggi. Lalu, Anda bisa saja segera mengambil keputusan untuk memindahkan anak Anda itu ke sekolah lain. Bisa saja. Mumpung belum terjadi apa-apa terhadap anak Anda karena ulah salah seorang gurunya yang mengajar di sekolah itu.

Otokritik di atas berangkat dari pengalaman berikut ini. Meski telah beberapa kali diperingatkan dan dinasihati jika hendak kencing harus memberitahu ayah/ibu dulu sehingga tidak sampai ngompol (kencing di celana), tidaklah begitu yang dilakukan si bungsu. Beberapa kali ia sudah kencing baru bilang kepada saya atau ibunya. Maksudnya, dalam kondisi celana telah basah baru berbicara, “pipis...,pipis...,”. Jelas perilaku itu tak sesuai dengan yang kami nasihatkan. Padahal, ketika diperingatkan dan diberi nasihat, ia senantiasa mengangguk-angguk sembari mengatakan, ya.

Nah, di suatu saat, baru-baru ini, si bungsu malah ngompol ketika sedang bermain-main sembari melihat televisi di tempat tidur kakaknya. Sprai yang baru saja diganti siang itu, menjadi basah dan berbau pesing. Kakaknya tidak marah, kelihatannya. Hanya, ia bilang kepada saya hendak mengganti sprai yang baru saja diganti itu. Tetapi, saya tidak mengizinkan langsung diganti supaya sprai penggantinya tidak ikutan basah. Saya menduga, ketidakmarahan kakaknya terhadap si bungsu, disebabkan oleh dua hal, paling tidak. Pertama, barangkali kakaknya takut (sendiri) jangan-jangan ketika ia marah kepada adiknya malah saya marahi balik. Kedua, boleh jadi (sebaliknya) kakaknya kasihan kepada si bungsu.

Dalam kondisi seperti itu, saya langsung memanggil si bungsu. Panggilan saya direspon positif, ternyata. Terbukti, dalam waktu tidak terlalu lama, ia muncul di hadapan saya sekalipun dengan raut muka tidak riang. Mungkin saja, ia telah merasa bersalah. Begitu ia sampai di hadapan saya, saya katakan bahwa ia tidak perlu ganti celana (sementara). Dan, ini yang barangkali Anda anggap paling kejam. Dalam kondisi celana masih basah itu, si bungsu tidak saya izinkan duduk di kasur lagi ketika (nanti) melihat televisi di kamar kakaknya. Ia harus duduk di bawah. Di lantai, maksud saya. Dan, apa yang tidak saya duga (sebelumnya), ternyata dilakukan si bungsu. Karena, setelah kembali ke kamar kakaknya, ia duduk di lantai melihat televisi. Sementara, kakaknya duduk di atas kasur dengan posisi berada dekat adiknya sembari memegangi pundak adiknya. Itu saya tahu beberapa waktu kemudian, ketika saya iseng hendak melihatnya.

Begitu cepat sesuatu tebersit dalam pikiran saya ketika itu. Yakni, kakaknya, ternyata, begitu empati terhadap adiknya. Yang, saya pikir, adiknya (memang) sedang mengalami “penderitaan” batin dan fisik. Dan, adiknya, si bungsu itu, ternyata, begitu mematuhi perkataan saya. Hal kedua, yang tidak saya duga itulah, yang kemudian membikin mata saya berkaca-kaca. Saya tidak habis pikir, si bungsu, yang saya pikir belum cukup bernalar itu, ternyata, begitu cerdas bernalar. Sesuatu yang dikatakan oleh orang tuanya terekam sungguh dalam pikirannya. Dan, bahkan ia melakukannya, yang barangkali dengan tidak protes. Atau tidak berani protes, tepatnya. Yang, malah sering bertolak belakang dengan sikap orang yang lebih dewasa, yang sering protes (sekalipun menyadari berbuat kesalahan). Ini sesuatu yang dahsyat menghantam benak saya.

Hal berikutnya, yang justru membuat benak saya seolah tersayat (sembilu) adalah ketika beberapa jam kemudian, ia kencing lagi. Tidak di kasur, tapi di atas kursi. Air kencingnya mblabar (melebar) di lantai di bawah kursi. Saya hanya melihat raut wajahnya, tidak berbicara sepatah kata pun. Pelan-pelan ia turun dari kursi. Dan, ketika ibunya mengambil kain pel lantas melap air kencing itu, si bungsu kepada ibunya berkata pelan, “aku duduk,” sambil melihat lantai. Ibunya menjawab, tidak usah. Akan tetapi, dilanjutkan berbicara kepada si bungsu sembari tetap melap air kencing itu hingga lantai itu kering. “Adik jangan ngompol lagi, biar ibu tidak repot seperti ini. Adik kasihan to kalau melihat ibu begini,”. Si bungsu mengangguk dan berkata, ya. Wajahnya terlihat begitu memelas, merindukan sebuah kasih sayang.

Betapa “sanksi” yang saya jatuhkan kepada si bungsu, ternyata, benar-benar terekam secara mengakar di batinnya. Sampai-sampai buang air kecil yang mungkin tidak disadarinya itu, diterimanya sebagai sebuah kesalahan. Yang, kesalahan itu barangkali disadarinya harus ditebus dengan sebuah sanksi, “aku duduk”. Sungguh, sekali lagi, seolah benak saya tersayat (sembilu). Perih. Dan, saya berani menyimpulkan (akhirnya), bahwa cara istri saya mendidik si bungsu (ternyata) lebih membangun karakter ketimbang tindakan yang saya berikan. Sekalipun, saya pahami tindakan yang saya kenakan tersebut, juga sebagai salah satu cara mendidik anak, termasuk mendidik si bungsu itu.

Sehari kemudian terjadilah sebuah keajaiban. Yakni, ketika siang hari si bungsu tidur bersama saya karena kebetulan ibunya bekerja sedangkan saya (masih) libur, tidak ngompol di atas tempat tidur. Karena, di dalam keberlangsungan tidurnya itu, saat ngolet (mengubah posisi badan dengan menarik tubuhnya), saya tawari untuk kencing, dan ternyata ia mau. Lalu, saya gendong ke kamar mandi dan kencinglah ia. Hal serupa dilakukan dua kali selama tidur siang itu. Dalam benak saya (lantas) berbisik, biarlah perilaku itu terjadi bukan karena rasa takutnya terhadap saya, melainkan rasa hormatnya terhadap didikan ibunya.

7 komentar:

  1. tentu suasana dalam keluarga bapak adalah suasana yang akrab, hmmm bergahagia sekali pasti sampean punya anak -isteri yang diidamkan

    BalasHapus
  2. Terimakasih Pak atas masukan dalam artikelnya....
    Tapi saya belum menikah jadi saya belum punya anak, tapi mungkin apa yang terkandung dalam artikel ini bisa jadi bekal buat saya kelak jika sudah berkeluarga...amin...

    BalasHapus
  3. nilai dan sikap yang ditanamkan sejak dini kepada anak2, konon memang akan terekam dalam jangka panjang ke dalam memori anak hingga kelak mereka dewasa, pak. kalau saya mungkin malah tergolong orang yang kurang begitu peduli, pak, hehe .... anak saya yang bungsu sudah kelas 3, tapi sesekali habis bangun pagi masih suka ngompol juga. mungkin ini perkembangan alamiah yang masih harus dilalui oleh anak2.

    BalasHapus
  4. saya tidak ada salahnya mendidik seperti itu...
    lagipula kan si anak harus diberi didikan yang benar, ya kan?

    BalasHapus
  5. Tulisan yang mengispirasi para pendidik dan orang tua. Makasih

    BalasHapus
  6. @tukang colong:
    anak saya dua , mas.

    BalasHapus

""