Senin, 27 September 2010

Eksplorasi Potensi Anak



Eksplorasi Potensi Anak

Lihatlah anak-anak kecil di sekitar kita, lebih-lebih mereka yang masih berusia di bawah lima tahun (balita). Atraktif, lucu, lincah, spontan, dan mudah bertengkar, namun mudah pula berdamai. Jika dicermati barangkali ada sesuatu yang sangat menakjubkan. Menjadi semakin menakjubkan jika sesuatu yang boleh dibilang sebagai “mutiara” yang masih terpendam itu, mendapat sentuhan kreatif dan inovatif.

Sentuhan kreatif dan inovatif tangan kita, saya kira, sangat dibutuhkan anak-anak, yang rata-rata (memang) memiliki sikap ingin tahu itu. Keingintahuan anak begitu progresif; berkembang cepat, serupa tunas-tunas dahan sikas di depan rumah saya. Yang, beberapa hari lalu mulai bermunculan di puncak batangnya secara mengagetkan. Mengagetkan, karena saat sore hari saya lihat tunas-tunas itu masih mengatup, namun pagi harinya (tampak) mulai terbuka, mekar melebar.

Fenomena alam yang sangat istimewa, yang begitu dirindu penyuka tanaman hias itu, rasanya tak dapat terlepas dari situasi dan kondisi lingkungan. Jika cuaca mendukung, misalnya, dan penyakit (virus) tidak ada, tunas-tunas dahan sikas itu bertumbuhan secara luar bisa, seperti yang teralami oleh pohon sikas saya tersebut. Apalagi jika pertumbuhannya itu “dirangsang”. Kita akan menjumpai keajaiban. Tidak hanya (akan) melihat “ketegasan” warna daunnya, tetapi juga “kecantikan” bentuknya, yang semuanya sungguh memikat benak.

Itulah kira-kira gambaran eksistensi anak-anak kita (kelak) jika potensinya, yang membutuhkan ruang untuk berkembang itu, memperoleh respon yang dapat merangsang pertumbuhannya. Maka, potensi awal sesederhana apa pun akan dapat berkembang secara ajaib dan menakjubkan jika ada pendampingan utuh. Utuh dalam arti tidak ada celah sedikit pun yang akhirnya bisa menghadang pertumbuhan potensi awal tersebut. “Celah” itu mungkin di antaranya dapat berupa sikap benci, kecewa, memaksa, kurang ikhlas, dan malas. Yang, semuanya itu (memang) menjadi perintang potensi berkembang.

Itulah sebabnya, (belakangan) saya merasa sangat bersalah ketika si bungsu, yang berusia 2,6 tahun, bermain-main “menjadi penjual” itu, tidak saya tanggapi secara serius. Padahal, dalam renungan saya, ketika bermain-main “menjadi penjual”, di dalam diri si bungsu tersimpan banyak potensi. Misalnya, ada keberanian, kelincahan berbicara, berimajinasi, daya ingat, dan keramahan.

Sikap berani, misalnya, terlihat ketika si bungsu, yang kala itu berperan sebagai penjual, menawarkan barang dagangannya kepada kami (saya, istri, dan si sulung) dengan tanpa malu-malu, tanpa beban. Kelincahan berbicara “terbaca” jelas saat ia menawarkan barang dagangannya itu dengan kata-kata secara spontan, cas-cis-cus. Dan,daya khayalnya tampak, misalnya, manakala ia menawarkan barang dagangan, namun barangnya tidak ada, jadi hanya tangan kosong; demikian juga sewaktu ia menerima yang seolah-olah uang, namun dimasukkan ke dalam saku roknya. Begitu pula daya ingatnya, saya rasa, relatif bagus. Karena, ia dapat melakukan semua aktivitas bermain-main itu tentu terlebih dahulu telah pernah melihat bagaimana orang berjualan, menerima uang, menyimpan uang, dan sebagainya dan sebagainya. Lalu, sikap ramahnya (atau cerewetnya, mungkin) itu terungkap ketika, misalnya, setiap ada orang yang ditemui, baik saya, ibunya, maupun kakaknya, selalu diajaknya berbicara.

Hanya, ketika itu, (seperti telah saya singgung di atas) kepekaan saya untuk “menangkap” potensi berharga dalam diri si bungsu itu sangat lemah. Sehingga, potensi, yang mungkin boleh dibilang (seperti di atas) sebagai “mutiara” yang belum tampak itu, akhirnya terlewati begitu saja. Tidak ada sentuhan kreatif dan inovatif kami, atau saya barangkali. Akhirnya, potensi yang ada dalam diri si bungsu jalan di tempat alias mandeg, tidak berkembang.

Padahal, jika saja kami (terutama saya) menyadari dalam diri si bungsu ada potensi, yang sekalipun sederhana, kemudian (saya) berkemauan mengembangkannya, boleh jadi potensi yang ada itu akan berkembang secara pesat. Caranya, misalnya, ketika si bungsu menawarkan barang dagangan, lantas saya mengajukan pertanyaan berjualan barang apa saja, bukan tidak mungkin si bungsu akhirnya mengatakan ada mangga, pisang, jeruk, tape, roti, permen, tempe dan sebagainya sekalipun ia hanya berkhayal. Dan, jika setelah itu menanyakan berapa harganya, ia barangkali akan menjawab sekenanya sesuai dengan sebutan uang, apakah seratus, dua ratus, tiga ratus, seribu, atau berapa saja yang (tentu) ia telah mengerti. Lalu, jika itu dilanjutkan (pula) dengan pertanyaan, misalnya, berapa uang kembaliannya, berapa hasilnya, dan sebagainya; saya percaya, memori-memori yang tersimpan dalam pikiran si bungsu akan tersegarkan kembali. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, melalui ikhtiar pengeksplorasian pengalaman itu, pengetahuan-pengetahuan si bungsu akhirnya (bisa) bertambah secara menakjubkan.

Yang terjadi pada diri si bungsu, saya kira, terjadi pula pada anak lain seusianya. Hanya memang, anak satu dengan yang lain tidak memiliki keberanian, kelincahan berbicara, daya imaji, daya ingat, dan keramahan (baca: kecerewetan) yang sama. Adanya perbedaan harus diakui, tetapi potensi minimal anak pun harus diakui. Ini artinya, tidak ada satu pun anak yang tidak memiliki potensi. Sekecil apa pun anak memiliki potensi.

Yang sering terjadi kita kurang memberi perhatian terhadap potensi minimal anak. Apalagi ikhtiar untuk memberi rangsangan agar potensi minimal itu bertumbuh. Malahan yang banyak dijumpai ketika anak-anak mengekspresikan potensi diri, seperti banyak bertanya terhadap sesuatu yang berada di hadapannya (karena hal baru), kita malas menanggapi. Bahkan, tak jarang kita sering merintangi daya jelajah anak, dengan mengatakan, “anak kok cerewetnya begini!” Kita sadari atau tidak, sikap begitu agaknya dapat mematikan potensi anak.

Hal yang tak jauh berbeda (sebenarnya) ketika kita cuek terhadap aktivitas anak. Padahal, sebetulnya ada ruang-ruang di sepanjang aktivitas itu dapat dimunculkan rangsangan-rangsangan bagi pertumbuhan potensi, namun belum termanfaatkan secara maksimal. Kita justru lebih sering dengan kesibukan/kesenangan sendiri. Sehingga, tak jarang ketika ada anak bertanya karena mengalami kesulitan dalam menjalani aktivitasnya, tidak terjawab oleh kita. Realita itu membunuh sikap mayor anak yang selalu ingin tahu dan bertumbuh. Maka, tidaklah (terlalu) berlebihan jika menghendaki potensi anak dapat berkembang secara menakjubkan, barangkali kita perlu melawan ego diri.

Seperti yang hampir seminggu ini telah saya alami bersama beberapa guru di sekolah. Kami harus berkonsentrasi terhadap persiapan karnaval budaya yang diadakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kudus dengan (sementara) mengabaikan kesibukan/kesenangan sendiri, atau dengan kata lain “menyembunyikan” ego diri. Keinginan untuk menulis, misalnya, tertunda karena harus mengadakan wawancara dengan narasumber, survei ke lokasi, dan mengumpulkan bahan-bahan kepustakaan untuk karnaval budaya. Akibat langsung yang saya rasakan (kemudian) blog ini tak pernah tersentuh hampir (selama) satu minggu, begitu juga kebiasaan blogwalking ke sesama, terabaikan sesaat. Agaknya ada sesuatu yang harus diprioritaskan.

2 komentar:

  1. artikelnya sangat memotivasi sekali Mas...
    iya Mas....kita itu memanglah harus bisa mengeksplorasi Potensi Anak....terlebih jika kita sudah bisa melihat bakat anak itu...
    salam kenal Mas...

    BalasHapus
  2. bener sekali, pak. anak2 memang sangat membutuhkan sentuhan kreatif dan inovatif dari orang2 terdekatnya. mereka masih menjadikan orang tua sbg referensi. wow... keren sekali agendanya, pak, karnaval budaya. semoga lancar dan sukses, ya, pak.

    BalasHapus

""