Jumat, 03 September 2010

Intensifkan Pertemuan, Dongkrak Pendidikan Karakter

Intensifkan Pertemuan, Dongkrak Pendidikan Karakter


Seiring semakin terkonsentrasinya orang-orang pada kesibukan masing-masing, nilai-nilai seperti kerjasama, kesetiakawanan, kepedulian, kepekaan (batin), keberanian, kepercayaan diri, semangat kebersamaan, dan saling percaya, sulit dijumpai. Muatan karakter yang demikian itu menjadi barang langka. Tak hanya sulit ditemukan di tengah-tengah masyarakat umum, tapi kenyataan itu (ternyata) sulit juga ditemukan di komunitas-komunitas yang lebih kecil, termasuk di komunitas anak-anak.

Saya ”membaca” fenomena seperti itu, ketika beberapa hari yang lalu mengikuti buka bersama (buber) pengurus organisasi siswa intra sekolah (OSIS) di sekolah, tempat saya bekerja. Acara buber itu memang (murni) inisiatif anak-anak. Mereka beriur untuk seluruh hidangan berbuka puasa. Masing-masing anak beriur Rp10.000,00. Malah ada yang memberi kontribusi Rp100.000,00. Hanya memang, dalam acara buber itu tidak semua pengurus dapat ikut.

Saya tak hendak menyoal tentang buber yang hanya diikuti oleh 28 dari 62 pengurus itu. Tidak. Tapi, yang ingin saya ungkapkan di sini adalah ketika buber itu selesai, ternyata tidak semua anak yang ikut itu bersikap proaktif dalam memberesi seluruh perkakas yang habis dipakai dan membersihkan sampah. Habis menikmati hidangan buka puasa, ”nyaris” tak ada yang tersentuh batinnya untuk segera beres-beres dan bersih-bersih sekalipun beberapa guru memberikan contoh. Bahkan meskipun ada (juga) guru yang mengingatkan agar kegiatan beres-beres dan bersih-bersih itu segera dilakukan. Beberapa anak, bahkan cenderung lebih banyak, masih mainan dan tetap (saja) duduk-duduk santai.

Nilai-nilai kehidupan seperti yang saya sebutkan di atas benar-benar ”nyaris” tak dijumpai dalam diri mereka. Saya tidak tahu, apakah sikap seperti itu juga mereka alami di rumah. Jika benar, sangat disayangkan. Sebab, rumah (baca:keluarga), semestinya, dapat dipakai sebagai pionir terdepan untuk menghayatkan anak-anak akan nilai-nilai hidup berkarakter.

Agaknya berbeda dengan anak-anak yang tergabung dalam ekstrakurikuler (ekskul) teater. Beberapa waktu yang lalu juga mengadakan buber. Mereka juga (murni) berinisiatif sendiri. Beriur, masing-masing anak Rp10.000,00. Tak ada yang memberi kontribusi, kecuali uang kas yang tak banyak jumlahnya itu juga disertakan untuk menambah pembiayaan. Dan, akhirnya cukup. Mereka, sehabis menikmati hidangan berbuka puasa, segera turut ambil bagian begitu dilihatnya guru pembina beres-beres dan bersih-bersih. Tak ada yang mengingatkan apalagi yang memerintah. Sehingga, dalam waktu sekejap semua beres, termasuk menata kembali kursi seperti sedia kala karena ruang yang dipakai untuk buber itu digunakan untuk ruang kelas.
Di sini dapat dijumpai di antaranya, sikap yang begitu peka, kerjasama, kebersamaan, tanggung jawab, dan kepedulian. Itu artinya, nilai-nilai kehidupan berkarakter ada dalam diri anak-anak yang tergabung dalam teater. Mengapa? Dugaan saya, anak-anak yang tergabung dalam teater, di samping secara rutin berjumpa setiap minggu sekali, juga dalam pertemuan/latihan, sejauh saya tahu, selalu ada muatan-muatan nilai sikap. Selain itu, tentu, pertemuan yang cenderung rileks, dalam arti tidak resmi/formal, akan sangat mendorong anak lebih mudah bersosialisasi. Kenyataan itu berbeda sama sekali dengan keberadaan umumnya OSIS dewasa ini. Bagaimana?

4 komentar:

  1. Klo membaca tulisan mas ini sy jd ingat dengan blog-ny Mas Sawali yg selalu mencurahkan perhatianny kepada dunia pendidikan lewat tulisan2ny di blog. Sungguh bermanfaat.

    Nice posts mas...

    Btw...dtunggu kunjungan balasannya...

    Salam Kenal. Blogger Pemula

    BalasHapus
  2. setuju banget, pak. intensitas pertemuan dalam teater bisa ikut memperkuat basis pendidikan karakter buat para peserta didik.

    BalasHapus
  3. mantab
    blue ikutan setuju
    salam hangat dari blue

    BalasHapus
  4. saya sangat setuju sob...mudah2an terealisasi apabila memang dilaksanakan ya..

    BalasHapus

""