Rabu, 01 September 2010

Komunikasi Mendidik

Komunikasi Mendidik

Ada orang tua murid, yang anaknya terkena sanksi, di sekolah kami, cukup rensponsif. Tapi, ada juga yang kurang rensponsif. Dari sisi kuantitas memang yang rensponsif lebih banyak. Itu artinya, dapat dipahami bahwa orang tua memang merasa memiliki tanggung jawab yang besar terhadap keberadaan berlangsungnya pendidikan anak-anak mereka.

Kami sadar bahwa kedatangan orang tua ke sekolah dengan membawa surat pernyataan atas pelanggaran anaknya, tersimpan berbagai-bagai pertanyaan di benak mereka, dari hal yang remeh-temeh hingga yang rumit. Misalnya, begini saja kok sampai orang tua harus datang ke sekolah? Mengapa tak anaknya saja yang membawa surat pernyataan itu sekalian pergi ke sekolah? Atau, cukup dinasihati saja kan baik? Orang tua cukup ditembusi lewat surat pemberitahuan?

Bahkan, boleh jadi tak sekadar sampai di situ. Secara psikologis, orang tua bisa saja terkejut. Mengapa? Karena, kalau sehari-hari (saja) di rumah anak terlihat baik, sopan, alim, dan hormat kepada orang tua; kok bisa-bisanya di sekolah memiliki perilaku yang berbeda. Dan, barangkali karena itu juga, orang tua merasa malu/dipermalukan (anak).

Maka, kami sungguh menghargai niat positif orang tua yang mau datang ke sekolah. Meski, bukan tidak mungkin ada orang tua murid yang merasa kurang ”nyaman”. Merasa kurang ”nyaman” karena selama ini telah berkembang paradigma jika ada orang tua dimohon hadir ke sekolah (tidak pada saat pertemuan pleno orang tua/wali murid) terkait dengan anaknya, selalu dimaknai sisi negatifnya oleh sebagian masyarakat. Si anak pasti nakal, memiliki masalah, melanggar tata tertib sekolah, tidak mengerjakan tugas, atau yang lain-lainnya yang sejenis. Paradigma yang demikian itu harus (segera) dikikis karena, disadari atau tidak, akan sangat mengganggu pembangunan pendidikan anak-anak.

Tidak mungkin ketika sekolah memohon orang tua hadir di sekolah dilepaskan dari tujuan membangun pendidikan anak-anak. Kehadiran orang tua, yang barangkali harus mengorbankan waktu, tenaga, dan pekerjaan, misalnya, justru dimanfaatkan bersama-sama untuk ”mencari” cara bagaimana ”membawa” anak-anak itu ke masa depan yang baik. Pastilah komunikasi yang diadakan demi mendidik anak-anak.

Di sinilah sebenarnya indahnya komunikasi antara sekolah dan orang tua itu. Bersama-sama saling berbagi informasi tentang keberadaan anak (didik). Bagaimana anak-anak di keluarga dan di tengah-tengah kehidupan masyarakat terkait dengan semua aktivitasnya. Demikian juga, bagaimana keadaan keberlangsungan pembelajaran anak-anak didik di sekolah. Komunikasi yang dapat saling melengkapi informasi tentang anak (didik) ini akan sangat berefek pada kualitas pendidikan anak-anak.
Sekolah sebagai lembaga publik memang tidak salah jika membangun komunikasi secara terbuka dengan masyarakat, yang di dalamnya termasuk keluarga. Bahkan, komunikasi akrab menjadi sebuah keharusan antara sekolah dan masyarakat. Dengan demikian, sekolah tak (lagi) menjadi lembaga yang seakan-akan eksklusif; hanya sebagai lembaga untuk pendidik dan anak didik berkegiatan. Tapi, menjadi lembaga publik yang bersifat inklusif; milik bersama demi membangun anak-anak, generasi negeri ini.
Orang tua/masyarakat pun perlu memahami bahwa sekolah sebagai ruang belajar, yang kapan pun dapat didatangi. Jangan malah orang tua ”menjauhi” sekolah. Kini, sejauh saya tahu, ada kesan orang tua seakan tak mau tahu persoalan anak di sekolah. Kedatangan orang tua ke sekolah jangan hanya ketika penerimaan rapor, tapi kapan saja dipandang penting untuk mengomunikasikan keberadaan anak. Tentu indah kalau orang tua senantiasa proaktif/berinisiatif datang ke sekolah jika diduga anaknya sedang memiliki masalah dalam keberlangsungan pendidikan. Tidak perlu menanti ada panggilan dari sekolah. Bagaimana?

5 komentar:

  1. betul pak, komunikasi yang akrab akan menghasilkan anak sesuai harapan orang tua. selain itu orang tua juga tahu apa yang dilakukan anaknya di sekolah, banyk memang anak yang di rumah alim tapi ketika keluar beda sekali kelakuannya...ini yang juga harus dipahami para orang tua

    BalasHapus
  2. yup...komunikasi mendidik hakekatnya harus dipraktekkan di lingkungan keluarga dulu

    BalasHapus
  3. font nya kegedean kayaknya pak?

    masalah komunikasi mendidik, susah tapi pasti bisa terwujudkan.:)

    BalasHapus
  4. Hihihih postingan ini mbikin saya inget masa sekolah dulu, Pak.

    Waktu saya menjalani masa SMA di SMA Kolese De Britto Jogja, saya nakalnya bukan main.
    Tak jarang Pastor pimpinan memanggil orang tua saya dan 'curhat' soal kelakuan saya ke mereka hahaha...

    BalasHapus
  5. @Tukang colong;
    tapi di tempat saya, fontnya tetap saja itu, kecil seperti biasanya.
    terima kasih infonya.

    BalasHapus

""