Selasa, 07 September 2010

Kumintir, Kemunduran Sebuah Budaya

Kumintir, Kemunduran Sebuah Budaya

Sewaktu pulang dari Banyuwangi, Jawa Timur, beberapa hari lalu, melewati sebuah pegunungan, yang kemudian saya tahu dari orang lain pegunungan itu dikenal dengan sebutan Pegunungan (Kumintir?), dari atas mobil yang meluncur melenggak-lenggok menuruti kontur jalan, yang juga menanjak dan menurun, saya dengar suara seseorang yang tak seberapa jelas bunyinya. Tak seberapa jelas bunyinya karena suara itu terkalahkan oleh dengung mesin mobil. Yang, saya lihat dari kaca jendela memang mobil beiring-iringan, baik yang sejalur maupun yang berpapasan. Jalan di atas ketinggian pegunungan itu relatif ramai.

Suara orang, yang awalnya saya duga suara iseng anak salah seorang teman serombongan, setiap beberapa meter mobil meluncur, kembali terdengar tetap dengan bunyi kurang jelas. Yang, belakangan kemudian saya tahu (ternyata) suara orang yang meminta-minta uang kepada setiap pengendara/penumpang mobil yang lewat. “Duwit.......!” begitu suara melengking itu senantiasa menggoda mata kami untuk melongok keluar lewat kaca jendela mobil. Mereka, peminta-minta itu, semacam telah diatur posisinya sehingga rapi, setiap beberapa meter di hampir sepanjang jalan di atas pegungungan yang menghubungkan antara Banyuwangi dan Jember, Jawa Timur, itu.

Akan tetapi, yang saya lihat, peminta-minta itu, sepertinya hanya berada di sepanjang jalan Pegunungan (Kumintir?) yang masuk wilayah Banyuwangi, dan (sepertinya) tidak saya temukan di sepanjang jalan Pegunungan (Kumintir?) yang masuk wilayah Jember. Memang pegunungan itu membujur di perbatasan Banyuwangi dan Jember, meskipun belahan pegunungan itu lebih banyak masuk wilayah Banyuwangi (itu yang saya lihat berdasarkan tulisan di bangunan tembok pintu gerbang “selamat datang memasuki Jember”).

Saya tak hendak menyoal mengapa peminta-minta itu hanya berada di sepanjang jalan Pegunungan (Kumintir?) yang masuk wilayah Banyuwangi, kok tidak dijumpai di sepanjang jalan Pegunungan (Kumintir) yang masuk wilayah Jember. Tidak. Yang hendak saya utarakan di sini hanya keunikan peminta-minta itu. Yang, coba saya mengerti keunikan itu sebagai sebuah bagian dari budaya yang muncul. Pertama, unik, karena peminta-minta itu berada jauh dari perkampungan/lingkungan tempat tinggal. Saya yakin, mereka tidak berumah di area hutan pegunungan itu. Sebab, hutan pegunungan itu masih terlihat alami, banyak pohon besar, dan tak terlihat jalan-jalan pintas setapak yang memberikan kebebasan orang keluar-masuk hutan. Saya menduga, peminta-minta itu berasal dari perkampungan yang berada jauh dari wilayah pegunungan itu. Maka, sangat masuk akal ketika ada salah satu teman serombongan yang berseloroh, orang-orang itu (maksudnya peminta-minta itu) mungkin didrop dengan mobil, lantas ditinggal di tempat tersebut, dan dijemput kemudian sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, layaknya seorang yang sedang bekerja. Boleh jadi mereka memahami aktivitas itu sebagai bentuk pekerjaan.

Kedua, unik, karena umumnya (yang saya tahu) peminta-minta itu mempunyai sasaran orang-orang yang berjalan kaki, sehingga mudah terjangkau. Misalnya, di pasar, terminal, stasiun, objek-objek wisata, di pintu masuk tempat-tempat ibadah, dan sejenisnya. Tapi, di Kumintir tidak. Sasaran mereka adalah penumpang/pengendara kendaraan, yang agaknya tak ada kemungkinan kendaraan (yang umumnya mobil) itu berhenti. Sebab, memang tak ada tempat untuk berhenti/beristirahat sesaat, apalagi objek wisata di sepanjang jalan pegunungan itu. Tidak ada. Berhenti sesaat berarti akan menimbulkan kemacetan karena jalan itu memang cukup untuk dua mobil berpapasan. Dan, ini yang sering saya jumpai, kalau pun ada peminta-minta yang sasarannya pengendara, tampaknya hanya terjadi di persimpangan-persimpangan traffic light, karena ada kemungkinan mobil/motor berhenti sesaat.

Ketiga, tak hanya sekadar unik, karena peminta-minta di Kumintir, (ternyata) membawa pikiran saya ke “gaya” peminta-minta yang ada di penyeberangan Ketapang-Gilimanuk (Banyuwangi-Bali). Peminta-minta di perairan itu mencari sasaran orang-orang yang naik kapal/tongkang. Mereka tak hanya sekadar meminta, tapi saya melihat ada sesuatu yang “dijual” kepada sasaran. Keterampilan mereka meloncat dari ketinggian atap/geladak kapal, berenang, dan menyelam sembari mencari kepingan uang logam yang dilempar ke air oleh sasaran, menarik sebagai semacam pertunjukan seni dan olahraga. Dan, keterampilan itu, sepertinya mampu memikat hati para penumpang transportasi laut itu untuk dengan senang hati kemudian melempar recehan ke hamparan air di seputar kapal/tongkang. Semakin menarik jika yang meminta-minta banyak orang. Mereka tetap berebut rezeki itu secara “manis”, yang saya tahu, tak pernah ada di antara mereka beradu kekuatan. Mereka cukup beradu keterampilan dalam air.

Tidak demikian di Kumintir. Peminta-minta di darat, di Pegunungan (Kumintir?) itu, tampaknya hanya “mencontoh” sebagian kecil yang dialami oleh peminta-minta di air, di penyeberangan Ketapang-Gilimanuk itu. Yang dicontoh hanya sasarannya. Kalau peminta-minta di Ketapang-Gilimanuk bersasaran penumpang transportasi air; di Kumintir bersasaran penumpang/pengendara transportasi darat. Hanya sebatas itu yang diteladani. Peminta-minta di Kumintir, tak memiliki “jasa” apa-apa yang cukup memiliki “harga” untuk dijual kepada sasaran. Mereka hanya meneriakkan kata “duwit.....!” dengan lantang agar menembus denging mesin mobil. Itu saja. Tak ada yang lain. Tak ada sama sekali kreasi fisik/keterampilan yang membuat sasaran jatuh iba, lantas memberi rezeki.
Maka, saya berpikir, (Pegunungan) Kumintir -yang barangkali terinspirasi dari nama salah satu tokoh dalam cerita rakyat Jawa Timur, Dawarwulan, yakni Layang Kumitir/(Kumintir?) itu- yang sejatinya elok pemandangannya sehingga sejuk dipandang mata dan cantik dinikmati hati, menjadi kurang “menggigit” karena terhiasi sikap/budaya sebagian masyarakat lokal/sekitar yang, maaf, kurang positif berinisiatif.

4 komentar:

  1. ya parahnya gt memang karena inisiatif masyarakat sendiri gada sob..

    BalasHapus
  2. kirain yg mundur itu istilah kumitirnya, ternyata peminta-mintanya..

    BalasHapus
  3. ya, modus operandi para peminta-minta ini memang makin beragam dan bervariasi, pak. tapi arswendo sering menyindir, pak, mestinya kita berterima kasih kepada peminta-minta, hehe .... karena tanpa ada mereka, tak ada lagi ruang utk bersedekah.

    BalasHapus
  4. Kalau budaya sudah mengalami kemunduran kita harus cepat memberikan respon

    BalasHapus

""