Jumat, 17 September 2010

Kupatan Identik dengan Lomban, Mengapa?




Kupatan Identik dengan Lomban, Mengapa?

Sepekan setelah Lebaran (bada besar), satu budaya yang masih terus ada di daerah, tempat saya tinggal dan sekitarnya adalah kupatan (bada kecil). Kupatan, sebuah istilah yang dikembangkan dari istilah ketupat, makanan khas, yang sering disajikan selama bada kecil, sebagai pengganti nasi. Disebut makanan khas, karena pembuatannya memang khusus, yakni beras dimasukkan ke dalam anyaman janur (daun kelapa yang masih muda) lantas dimasak. Rasanya pun khas, tidak seperti nasi, meski bahan mentahnya sama dari beras. Bada kecil, yang selalu ditandai dengan ketupat dan lepet (terbuat dari beras ketan dengan pembungkus janur) itu selalu dinanti-nanti masyarakat. Sebab, sehari selama bada kecil, masyarakat di daerah, tempat saya tinggal dan sekitarnya telah terbiasa mendatangi lomban, misalnya, yang ada di Tayu dan Juwana (termasuk wilayah Pati); atau di Pantai Kartini (wilayah Rembang); atau (juga) di Pantai Bandengan (wilayah Jepara). Ketiga wilayah tersebut berada di Jawa Tengah, bagian Utara sisi Timur.

Meski Kudus, Jawa Tengah, jauh dari pantai, lokasi lomban biasa diadakan, masyarakatnya (terutama yang tinggal di pedesaan) selalu antusias mendatangi keramaian lomban. Istilah lomban jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara bebas, bolehlah demikian: kegiatan lomba. Yaitu, berbagai lomba yang biasa diikuti oleh para nelayan. Akan tetapi, bisa saja makna itu akhirnya meluas, yakni menjadi ”berenang”. Hanya, berenang dalam budaya tersebut tidak berenang seperti umumnya yang kita lihat. Sebab, lomban (yang selama ini saya ketahui) terkait dengan aktivitas mengarungi perairan dengan memanfaatkan perahu. Dengan begitu jelas media yang digunakan adalah air. Maka, pusat-pusat keramaian lomban berada di daerah pantai.

Saya belum tahu (hingga kini), mengapa kupatan, yang sering disebut bada kecil, di daerah, tempat saya tinggal itu selalu dikaitkan dengan lomban. Sepertinya tidak ada kegiatan-kegiatan yang terkait dengan kupatan itu keramaiannya diadakan di luar wilayah pantai. Meski, kegiatan-kegiatan yang terkait dengan Lebaran, yang sering disebut bada besar, ada juga yang diadakan di pantai. Tetapi, tidak seramai ketika kupatan. Dan, tidak semua pantai dimanfaatkan ketika Lebaran, seperti Pantai Tayu, Pati, Jawa Tengah, yang tetap sepi ketika Lebaran.

Pantai-pantai yang ramai saat Lebaran pun tidak menyediakan tradisi (seperti di masa) lomban. Kalau ada pengunjung yang naik perahu, itu pun tidak serta merta dikatakan bagian dari tradisi lomban, tetapi rekreasi biasa. Dan, karena rekreasi biasa, maka tarif karcis naik perahu harganya berbeda dengan (harga karcis) saat lomban. Karcis naik perahu saat lomban relatif lebih mahal. Masyarakat daerah, tempat saya tinggal, menyebutkan karcisnya dipremo. Tetapi, meski begitu, pengunjung tradisi lomban selalu membludak. Bahkan, sering pengunjung ada yang tidak kebagian naik perahu.

Membludaknya pengunjung lomban, boleh jadi karena lomban sebagai bentuk tradisi yang hanya ada satu tahun sekali. “Kelangkaan” ini dapat saja mengakibatkan rasa rindu masyarakat (begitu) memuncak, dan kelepasannya termuntahkan serentak pada saat lomban. Tentu manajemen modern sangat berpengaruh juga pada keantusiasan masyarakat untuk berlomban. Beberapa hari menjelang lomban, banyak spanduk telah tergelar di tempat-tempat strategis, tak hanya di wilayah terselenggaranya lomban, tapi (juga) sampai ke luar wilayah. Di Kudus, misalnya, spanduk lomban (Pantai Bandengan, Jepara) tergelar di beberapa pojok jalan, yang ramai dilewati orang.

Lomban seakan mengandung magnet yang mampu menyedot banyak orang berdatangan dari berbagai penjuru tempat. Meski, sebenarnya tidak ada sesuatu yang sama sekali baru yang “terhidangkan” di tradisi lomban jika dibandingkan dengan hari-hari (libur) biasa. Perahu-perahu yang disewakan untuk pengunjung juga sama perahu yang biasa melayani pengunjung di hari-hari (libur) biasa. Paling-paling hanya sedikit dihiasi dengan bahan janur. Memang, biasanya saat kupatan ada pertunjukan-pertunjukan hiburan rakyat yang jumlahnya relatif banyak. Dan, situasi itu mengundang banyak pedagang untuk berjualan, baik jenis makanan maupun suvenir (khas derah). Sekarang, berbagai lomba telah mulai berkurang. Ritual tahunan kupatan, agaknya tak hanya untuk ajang rekresai tradisi keluarga, tapi juga sebagai media bersilaturahmi antarpengunjung yang masih memiliki ikatan sosial, apakah teman lama, kolega, tetangga kampung, ataupun yang lainnya; jika di saat Lebaran mereka belum berjumpa.

Di samping itu, dari sisi ekonomi, boleh jadi tradisi lomban menjadi lahan produktif. Yang, semoga tak hanya menguntungkan pengusaha perahu/kapal, tetapi juga para nelayan, yang sehari-harinya ketika melaut tak selalu “menjanjikan”. Warga pesisir yang memiliki usaha kerajinan tangan boleh merasakan berkat. Pedagang musiman, yang barangkali tak hanya berasal dari daerah setempat, tetapi daerah lain pun teranugerahi rezeki. Itu artinya, perputaran ekonomi yang masih dekat dengan masa Lebaran, yang memungkinkan uang dari pusat-pusat ekonomi tergelontorkan ke daerah boleh juga mereka cicipi demi menjaga keberlangsungan hidup keluarga.

Saya belum tahu (persis) apakah di daerah lain juga ada tradisi yang serupa, yakni lomban. Yang, begitu erat kaitannya dengan ritual kupatan. Jika ada, tentu sangat menarik karena barangkali tradisi lomban di beberapa derah itu memiliki ikatan budaya. Tetapi, mengapa ritual kupatan selalu berhubungan dengan tradisi lomban? Dan, mengapa pula saya (atau bahkan Anda juga) belum pernah mengetahui atau sekadar mendengar ritual kupatan terkait selain dengan tradisi kehidupan nelayan?

6 komentar:

  1. waktu kecil...lomban itu terasa menyenangkan..secara kebetulan...lokasi waktu kecilku juga sekitar2 kudus loh hehhee... pernah ikut datang di lomban di pantai rembang...hihi... seneng aja suasananya beda...

    BalasHapus
  2. kalau di kendal, bada kecil diwarnai dengan tradisi syawalan di kaliwungu, pak. sudah berlangsung secara turun-temurun, dari generasi ke generasi. kendal dekat pesisir justru malah tak ada acara lomban.

    BalasHapus
  3. membaca karcis dipremo ingat masa SMA dulu pak wak tu itu saya sekolahnya di SMA PECANGAAN, disana ada juga istilah PREMOAN=PREMAN menjelang lebaran idul fitri

    BalasHapus
  4. Saya lahir dan besar di Surabaya. Setahu saya kalo kupatan ya bikin kupat lalu dibagi-bagikan ke tetangga. Tidak ada tradisi yang lain.
    Saya jadi tahu tradisi lomban dari membaca artikel bapak. Terima kasih. Salam.

    BalasHapus
  5. @mas elmoudy:
    semoga rasa senang masa kecil, ketika masa kupatan tahun ini mas tetap merasakan senang dengan aktivitas bada kecil di ndaerah mas.
    salam kekerabatan.

    @pak sawali:
    tradisi syawalan di kalimungu tentu menarik ya, pak. mungkin malah lebih menarik acara syawalan di kaluwungu ketimbang lomban di daerah saya.

    @pak budies:
    tentang premoan, yang bapak maksud, kini masih ada apa tidak ya. semoga saja sudah tidak ada sehingga masyarakat lebih memiliki kemerdekaan untuk menikmati tradisi lomban.

    BalasHapus
  6. terakhir belakangan ini ada banyak perubahan dari postingan bapak, dari komposisi warna pada postingan, besar kecil-tebal tipis tulisan, dan ada gambar. Bikin tulisan makin bermutu.:)

    BalasHapus

""