Jumat, 10 September 2010

Lebaran, Ruang Perjumpaan yang Teduh Lahir dan Batin

Lebaran, Ruang Perjumpaan yang Teduh Lahir dan Batin

Di Hari Raya Idul Fitri, Lebaran, ini di mana-mana senantiasa bertabur kata ”maaf”, baik memohon maupun memberi maaf. Dari masjid-masjid, jalan-jalan, hingga ke rumah-rumah, pemandangan yang menyejukkan benak itu dapat kita lihat. Yang, melibatkan banyak orang, mulai anak sampai dewasa, baik laki-laki maupun wanita. Permohonan dan pemberian maaf, kini, dapat juga terkomunikasikan lewat perangkat teknologi, baik melalui telepon (dengan berbicara langsung), lewat short message service (SMS)/pesan singkat, facebook maupun twitter, atau mungkin juga (ada yang masih) memanfaatkan kartu.
Gambar diambil dari Kompas.com
Bersamaan dengan permohonan dan pemberian maaf, penyampaian ucapan ”Selamat Hari Raya Idul Fitri/Selamat Hari Lebaran” pun bertaburan. Bahkan, yang ini tidak hanya antarumat Muslim, tapi umat non-Muslim pun tak jarang menyampaikannya kepada kerabat, kenalan, sahabat, tetangga, atau siapa saja yang sedang merayakan hari besar itu, baik langsung maupun tidak langsung (melalui perangkat teknologi, termasuk juga kartu).
Ada perjumpaan yang terbangun satu dengan yang lain, di sana. Keterpisahan dalam rentang waktu tertentu karena kesibukan, aktivitas, atau bahkan (barangkali) hubungan terputus karena ”luka hati”, baik yang ada di luar maupun dalam daerah, Hari Raya Idul Fitri/Lebaran menjadi media teduh yang mampu mengeratkan ikatan, baik batin maupun lahir. Dan, demi mengeratkan ikatan itu, orang (sementara waktu) akan mengabaikan jarak yang jauh, kelelahan, biaya, tenaga, waktu, dan sebagainya dan sebagainya. Nilai ”perjumpaan” batin dan lahir dengan demikian lebih menjadi prioritas ketimbang yang lain.

”Perjumpaan” batin dan lahir, yang dapat menciptakan suasana damai, tentram, dan sejahtera (tentu) menjadi dambaan banyak orang. Karena, suasana begitu akan membawa orang/komunitas satu dengan yang lain saling berdekatan, memerhatikan, peduli, menghargai, dan menghormati. Dalam suasana demikian pertumbuhan bersama akan terjadi secara dahsyat.

Itulah sebabnya, ketika ada orang/komunitas tertentu, hendak memanfaatkan momen Idul Fitri/Lebaran, yang adalah sebagai ruang perjumpaan lahir dan batin banyak insan ini, untuk ”melukai hati” orang/komunitas lain, jelas ditentang banyak orang. Pendeta Terry Jones, pemimpin Kristen radikal di Amerika Serikat, yang hendak berencana membakar Al Quran, misalnya, tak hanya ditentang oleh kelompok Muslim, tapi dihujat mati-matian oleh kelompok non-Muslim. Rencana tak bermoral itu, jika dibiarkan, jelas akan menghancurkan suasana damai, tentram, dan sejahtera, yang di Hari Idul Fitri/Lebaran ini dibangun oleh banyak insan.

Barangkali akan lebih bermanfaat, jika di momen Idul Fitri/Lebaran ini membuka ”ruang hati” bagi orang/komunitas yang di saat ini kurang beruntung. Seperti, Korban Sinabung di Sumatra Utara, yang hingga kini masih traumatis; korban lumpur Lapindo, yang melakukan ziarah ke makam keluarga cukup dari tanggul; keluarga korban kecelakaan arus mudik, yang hanya membayangkan betapa bahagianya berkumpul dengan keluarga; dan korban-korban lain di mana pun berada. Pada akhirnya, saya ucapkan, selamat Hari Raya Idul Fitri, maafkan lahir dan batin.

2 komentar:

  1. Mohon maaf lahir batin pak...
    Jika ada kesalahan atau ucapan yang kurang berkenan di hati

    BalasHapus

""