Kamis, 09 September 2010

Mendidik Melalui Ego Anak

Mendidik Melalui Ego Anak
Mendidik melalui ego anak, terutama anak bawah lima tahun (balita), ternyata menarik juga. Meski tidak melalui penelitian yang njlimet, hanya cukup memerhatikan sebentar sikap yang timbul sesaat si balita, pembimbingan dapat terus dilakukan. Si balita, akhirnya, berani tampil sendiri. Ia malah terlihat begitu lincah, spontan, dan tak takut salah. Saya berpikir, model ”mendidik” demikian akan sangat mendorong anak, khususnya balita, dapat menjadi pribadi yang kaya percaya diri.

Itulah kira-kira yang dapat saya ”tangkap” ketika si bungsu, yang berusia kurang dari tiga tahun itu, meminta diputarkan VCD lagu anak-anak. Ketika di layar komputer muncul anak-anak sebayanya menari dengan dibarengi lagu anak-anak, ia lantas turut menyanyi. Meski pelafalan lirik lagunya kurang tepat, spontanitasnya, mimik dan jingkrak-jingkraknya sungguh menggemaskan. Itulah yang akhirnya menggoda saya untuk turut menyanyi. Tetapi, apa yang terjadi. Ketika saya turut menyanyi, ia malah memberontak lantas ngambek, tak lagi mau menyanyi. Diam dan menyembunyikan diri dari saya. Saya tak lagi dapat melihat one man show-nya si bungsu.

Saya menduga, padamnya ”pertunjukan” si bungsu karena ulah saya. Coba kalau saya (tadi) tak turut menyanyi, ia pasti menunjukkan kebolehannya selincah pertunjukannya yang semula. Bahkan, barangkali ia akan lebih lagi mengeksplor seluruh potensi yang dimiliki. Tidak tanggung-tanggung. Semaksimal mungkin berekspresi tanpa beban. Dan, saya yakin betul, kondisi begitu akan sangat berpengaruh pada pembangunan potensi diri anak (si bungsu) ke arah yang lebih baik, lebih matang.

Akhirnya, saya merenung. Perilaku salah telah saya perbuat. Bermaksud menyemangati si bungsu menyanyi justru ”membunuh” keberaniannya. Perilaku salah itu adalah saya telah memasuki ruang ”keakuan” si bungsu. Ruang ”keakuan” yang, tampaknya, harus diakui. Si bungsu merasa telah memiliki ”kekuatan” sendiri -tanpa harus dicampuri orang lain- untuk melakukan keinginannya beraktivitas, yakni menyanyi meniru yang ada di layar komputer.

Di samping itu, saya menduga, ia tak mau mendapat ”pesaing” sekalipun sebetulnya saat itu saya tak hendak menjadi penyaingnya. Ia barangkali ingin menguasai (sendiri) keadaaan yang ada pada saat itu. Orang lain, siapa pun orangnya termasuk ayahnya (sendiri), tak boleh ikut ambil bagian. Demikian juga yang sering saya lihat ketika si bungsu bermain dengan saudara sepupunya yang usianya sebaya. Pada awal-awal bermain, mereka tampak begitu mesra. Mereka saling berbuka hati; saling menerima dan memberi. Satu benda permainan, misalnya, dapat dipakai bergantian dengan baik. Tetapi, beberapa waktu kemudian, ”keegoannya” mulai muncul. Yang, pada akhirnya bisa saja membawa mereka pada suasana tak ”mesra” lagi, tak mau saling memberi dan menerima. Bahkan, boleh jadi akhirnya bertengkar karena masing-masing barangkali dianggap sebagai pesaing.

Kekuatan ego anak, pada konteks tertentu, memang tidak baik untuk dibiarkan. Tetapi, pada konteks seperti pada inti tulisan ini, atau pada semua aktivitas anak yang dapat merangsang potensi kreasi dan inovasi (positif), ego anak, saya pikir, perlu diberi ruang agar mendorong bertumbuhnya kompetensi anak.

Saya akhirnya menyadari bahwa ketika si bungsu mulai ”beraksi” (lagi) di depan layar komputer, saya harus mau menjadi penonton saja. Bahkan, mengelu-elukan kebolehannya. Karena, saya pikir, melalui pilihan itu potensi diri si bungsu dapat bertumbuh secara merdeka. Semoga.

3 komentar:

  1. selalu suka dengan postingan mas......
    salam hangat dari blue

    BalasHapus
  2. semoga saya gag jadi anak yg egois..:)

    oia, Selamat hari raya lebaran pak. Iedul Fitri 1 Syawal 1431H,. Taqobalallahu minna wa minkum Shiyamana washiyamakum Taqobalallahu Yaa Kariim, Minal Aidin Wal Faidzin …. Mohon maaf lahir dan batin

    BalasHapus
  3. Mendidik anak kalau seperti ini sih boleh juga untuk perkembangan di masa yang akan datang

    BalasHapus

""