Rabu, 29 September 2010

Menghargai Keunikan Belajar Anak


Menghargai Keunikan Belajar Anak

Masih sering terjumpai di antara kita kurang dapat menerima pencapaian alamiah anak. Jika anak baru mencapai taraf tertentu yang dianggap belum sesuai dengan target, upaya “memaksa” bukan tidak mungkin bakal terjadi. Saat mengajari anak menjumlahkan bilangan, misalnya, tapi ternyata belum bisa, banyak di antara kita yang (kemudian) kehilangan kesabaran. Apalagi kalau target tadi terkait dengan tugas sekolah, seumpama pekerjaan rumah (PR), “upaya” akhir bisa saja diikuti sikap marah karena musnahnya kesabaran.

Pada titik ini, tak jarang anak (malah) menjadi semakin tidak bisa. Bukan hanya penjumlahan baru yang tidak dapat dikerjakan, melainkan penjumlahan yang tadinya dapat diselesaikan mengalami kesulitan penyelesaian di waktu kemudian. Rasa tertekan, takut, dan hilangnya kepercayaan diri membawa dampak “kehancuran” yang luar biasa.

Atau barangkali “upaya” akhir itu tidak marah, namun “menguasai”. Anak yang seharusnya mengerjakan sendiri, karena hilangnya kesabaran (kita), boleh jadi pekerjaan anak itu beralih menjadi pekerjaan kita. Jadi, anak (akhirnya) hanya melihat karena telah ada orang yang mengerjakan tugasnya. Dan, sekalipun awalnya anak memiliki semangat mengerjakan, tapi sejak munculnya sikap “menguasai”, bara semangat mengerjakan dapat saja berangsur padam.

Yang lebih memrihatinkan andai ada di antara kita, yang karena hanya merasa kasihan terhadap anak, tugas pekerjaan anak diambil alih begitu saja. Anak, yang barangkali mau mengerjakan, tidak jadi mengerjakan karena kekeliruan sikap. Yaitu, sikap yang memanjakan anak.

Fakta-fakta yang demikian itu menunjukkan (ternyata) betapa masih banyak sikap kurang benar dalam memberi pendampingan terhadap anak. Saya pikir, anak akan lebih memiliki kegairahan menulis, misalnya, apabila di antara kita menghargai ketercapaiannya, berapa dan bagaimana pun (tulisan) yang dihasilkan. Tidak perlu, misalnya, mematok target apalagi (jika) target itu mengacu pada ukuran orang lain, termasuk kita. Pun mengambil alih pekerjaan anak atas nama alasan apa pun sama artinya membunuh pertumbuhan alamiah belajar (anak). Mengikuti perjalanan belajar anak, yang cenderung khas dan unik, dengan demikian akan lebih memberi peluang berkembangnya kompetensi anak secara wajar.

3 komentar:

  1. pernah nyoba screen finger gag pak? yg mendeteksi bakat anak dari sidik jarinya. kan bisa tuh kita tau gmn cara belajar yg cocok buat anak

    BalasHapus
  2. saya masih belum bisas menerapkan semua yang bapak anjurkan, dalam hal tertentu saya kadang menyelesaikan tugas anak-anak
    memang susah ya pak

    BalasHapus
  3. setuju banget, pak, anak2 memang memiliki dunianya sendiri, sungguh kurang arif jika kita memaksakan cara2 kita yang kurang cocok kepada mereka. mungkin lebih tepat jika kita memosisikan diri sbg mediator dan fassilitator.

    BalasHapus

""