Senin, 13 September 2010

"Ngenet", Merampas Belajar Anak?





Ngenet”, Merampas Belajar Anak?

Dengan menjamurnya warung internet (warnet) berarti menyediakan banyak peluang (di antaranya) bagi anak untuk internetan. Anak-anak tentu lebih menyukai internetan di warnet ketimbang di handphone. Sebab, di samping fasilitasnya memang lebih representatif, internetan di warnet lebih ekonomis. Cukup dengan hanya dua ribu rupiah atau lebih sedikit, misalnya, mereka dapat menjelajah “dunia maya” paling tidak selama satu jam. Bandingkan jika memanfaatkan handphone. Layar handphone yang relatif kecil tentu tidak menghadirkan kenyamanan menikmati situs-situs yang diinginkan. Di samping itu, perlu juga menyediakan pulsa yang relatif jauh lebih banyak/mahal.

Maka, anak-anak yang di rumahnya belum tersedia fasilitas internet, jelas memanfaatkan jasa warnet. Realitas begitu banyak dijumpai di daerah, tempat saya tinggal. Yang, memang budaya internet belum tampak benar dalam keluarga. Karena, adanya internet dalam keluarga belum dipandang mendesak. Wajar jika kemudian anak-anak lebih banyak ngenet di warnet, yang memang banyak bertebaran di daerah saya.

Setiap pulang kerja saja, saya selalu disuguhi banyak sepeda parkir di depan warnet. Yang, kebetulan di dua lokasi di jalan masuk ke arah rumah saya, ada dua penyedia jasa warnet. Tempatnya tidaklah terlalu berjauhan. Tetapi, kedua-duanya selalu full, saya duga. Dugaan itu berdasarkan pada banyaknya sepeda yang diparkir di halaman warnet itu. Banyaknya sepeda yang diparkir menandakan banyaknya pengguna jasa warnet. Dan, saya yakin, yang memanfaatkan jasa warnet didominasi anak-anak. Itu dapat saya simpulkan dari sepeda yang diparkir tadi, yang memang di daerah saya menjadi andalan transportasi anak-anak ketika pergi-pulang sekolah.

Semakin yakin bahwa yang ngenet di warnet tersebut anak-anak karena suatu saat, ketika saya bersama si sulung, yang siswa sekolah menengah pertama (SMP) itu, melewati salah satu warnet, disapa oleh yang empunya warnet. Intinya, si sulung ditawari internetan karena banyak teman seusia anak saya yang ngenet di situ. Bahkan, belakangan saya ketahui, yang ngenet ternyata tak hanya anak SMP, tetapi juga anak sekolah dasar (SD).

Saya tidak tahu, apakah hal itu terjadi juga di daerah lain. Jika terjadi (hal yang serupa) berarti ngenet memang telah menjadi perilaku umum anak-anak saat ini. Tentu menjadi perilaku positif jika ngenet memang dimanfaatkan sebagai sumber belajar. Karena, memang harus diakui sekolah sebagai wahana belajar belum bisa memenuhi kegairahan siswa menyerap banyak ilmu pengetahuan. Akan tetapi, menjadi perilaku negatif jika ngenet tidak dimanfaatkan sebagai sarana belajar.

Agaknya perilaku yang kedua, yakni perilaku negatif itulah yang lebih banyak terjadi. Beberapa anak yang biasa ngenet saya tanya, mereka internetan lebih banyak hanya untuk facebookan dan chattingan. Memang ada yang datang ke warnet untuk mencari artikel-artikel karena tugas sekolah. Tetapi, kenyataan itu jumlahnya relatif sedikit.

Melihat keseharian di warnet yang nyaris tak pernah sepi pengunjung, yang mayoritas anak-anak itu, saya berpikir, jangan-jangan mereka, anak-anak itu, telah kecanduan ngenet hanya untuk facebookan, chattingan, atau yang sejenisnya, yang kurang terkait dengan aktivitas belajar. Facebookan dan chattingan tentu tak salah jika, misalnya, hanya dimanfaatkan untuk membuang kejenuhan, menghilangkan stres, dan menemukan kesegaran (kembali). Sebaliknya, tentu kurang -untuk menghindari penggunaan kata “tidak”- benar jika facebookan dan chattingan, atau yang sejenisnya itu justru (kemudian) menguasai waktu mereka sehingga melupakan kegiatan pokok sebagai pelajar, yakni belajar.

Karena bukan tidak mungkin anak-anak (kita) akan semakin “terhanyut” ke alam facebookan, chattingan, atau yang sejenisnya itu, lantas benar-benar meninggalkan belajar, jika perilaku seperti itu tidak mendapat perhatian serius. Sebab, saya kira, facebookan, chattingan, atau yang sejenisnya itu akan lebih memikat hati anak-anak ketimbang belajar. Lebih memikat karena barangkali lewat facebook, chatting, atau yang sejenisnya itu, anak lebih merasa memilki kemerdekaan dalam mencurahkan seluruh isi perasaan dan pikirannya. Bahkan, karena merasa memiliki kebebasan itu, anak tak segan, misalnya, menuliskan hal yang amat pribadi di status facebooknya. Yang, (tanpa disadarinya) bisa jadi berdampak buruk, tak hanya bagi dirinya, tapi orang lain juga. Saya pun kurang tahu persis, gejala rendahnya motivasi belajar siswa di sekolah (akhir-akhir ini) terkait dengan perilaku itu atau tidak. Jika terkait, (tentu) amat memrihatinkan.

Pada akhirnya, tulisan ini dipublikasikan tak bermaksud untuk memrovokasi publik mendemo warnet yang kini memang semakin menjamur di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Tidak. Akan tetapi, hendak mengajak orang tua khususnya dan masyarakat umumnya, untuk mau memerhatikan secara serius perilaku anak-anak yang dewasa ini sungguh-sungguh mengalami demam ngenet. Penyedia jasa warnet, tentu (akan) lebih arif jika tak hanya berorientasi pada keuntungan semata, tapi mau juga melihat dampak yang mungkin kurang menguntungkan bagi pertumbuhan belajar anak. Semoga.

5 komentar:

  1. Saya tak bermaksud menimbang mana yang lebih baik, tapi di Australia sini, akses internet untuk anak juga tak dibatasi dan lucunya mereka juga tak yang lantas jadi stuck ke situs2 yang 'ngga bener'.. mereka kebanyakan memakai internet untuk belajar dan mencari bahan materi pelajaran.

    Kalau boleh saya berkomentar meski saya awam di bidang pendidikan, tampaknya semua kembali ke bagaimana kita mendidik mereka untuk menganggap bahwa internet itu 'tool' atau alat, dan bukan hiburan :)

    BalasHapus
  2. @DV: Atau barangkali karena memang di Australia anak telah sangat lama mengenal internet, sehingga fase internet untuk hiburan telah terlewati. Berbeda dengan anak-anak Indonesia, Om. Mereka mengenal internet ya baru-baru saja, lebih-lebih di bangku sekolah.

    Perihal mengenalkan internet sebagai wahana belajar sebenarnya telah disampaikan oleh guru. Hanya memang ketika mereka belum benar-benar menghayatinya, telah terlebih dahulu digempur dengan internet sebagai hiburan.

    Dengan begitu, kalahlah peran internet sebagai media belajar daripada sebagai media hiburan. Dan, mungkin inilah salah satunya ciri negara berkembang itu, Om.
    Salam kekerabatan.

    BalasHapus
  3. anak2 usia smp memang sudah saatnya diperkenalkan dengan internet, pak. sayangnya, kebutuhan akan informasi seperti itu belum semuanya bisa dipenuhi. jangankan ortu, sekolah saja masih banyak yang belum peduli. doh, moga2 koneksi internet makin murah dan terjangkau oleh isi kantong ortu agar anak2 tak lagi ngenet di warnet.

    BalasHapus
  4. Saya jadi ingat awal mula berlangganan internet di rumah. Saat itu si bungsu (cewek) banyak mendapat tugas dari sekolah...jadi terpaksa ke warnet. Saya senewen sekali, dan setiap kali ke warnet mesti ditemani si mbak, agar tak terjadi apa-apa..tapi kan seringnya di warnet banyak lelaki yang kita tak kenal pasti siapa mereka, dan bagaimana sifatnya.
    Akhirnya saya memaksa berlangganan internet, dengan indosatnet...yang saat itu lelet banget, selain mahal. Untungnya teman-teman di kompleks mau iuran agar Kabel Vision bisa masuk kompleks kami..jadi selain bisa nonton TV dengan banyak channel (yang perlu untuk mengembangkan kemampuan berbahasa asing), juga internet bisa lancar....malahan teman-teman anak gantian ngumpul di rumah kami, dan selalu diterima dengan tangan terbuka karena bayarnya kan fixed....biar internet dipakai 24 jam terus menerus.

    BalasHapus
  5. Saya juga mengalami hal serupa pak internet bagi anak-anak itu masih di dominasi sebagai sarana untuk nge-game padahal jauh lebih penting dari sekedar untuk bermain game? lalu bagaimana cara yang jitu mengatasinya saya belum menemukan formulasinya, tapi tetap berusaha walaupun dengan waktu dan tenaga yang kurang saya memkasimalkan agar tetap bisa mengontrol anak-anak, dan selalu berkomunikasi. jadi tetap ditekankan bahwa nomor satu adalah focus pada belajar, kalau itu terus-menerus dibiasakan mereka nanti mudah-mudahan bisa berubah pola pikirnya! Salam Optimis

    BalasHapus

""