Senin, 06 September 2010

Pentingnya Narasumber yang Kompeten

Pentingnya Narasumber yang Kompeten

Ini yang sering kita jumpai. Orang menjadi “bingung” ketika berada dalam situasi terdesak, terjepit, tersesat, atau dikejar batas waktu. Kondisi emosi begitu akan (lebih) sangat kentara jika yang mengalaminya tidak sendiri/pribadi, tapi berkelompok. Kalau sendiri/pribadi, orang akan lebih cepat mengambil keputusan karena tanpa melibatkan banyak pemikiran orang lain. Dengan begitu keputusan/pilihan segera dapat dipraktikkan. Berbeda dengan yang terjadi dalam kelompok/komunitas. Yang, tak dapat dihindari kemungkinan adanya banyak pemikiran ketika hendak menentukan sebuah keputusan. Dan, bukan tidak mungkin pemikiran-pemikiran yang muncul itu berbeda satu dengan yang lain. Hal itulah yang boleh jadi “memperlambat” pengambilan keputusan karena masing-masing (barangkali) mempertahankan pemikirannya.

Kenyataan itulah yang kami alami beberapa hari lalu, ketika kami hendak ke Banyuwangi, Jawa Timur, namun tersesat (terlebih dahulu) di Surabaya. Awalnya, dua mobil yang kami kendarai beriring-iringan. Tapi, begitu memasuki tol, satu mobil melecit dengan kencang. Satu mobil tertinggal, tak mampu “mengejar”, karena memang mobil keluaran lama. Dan, bisa jadi karena sopir mobil yang tertinggal itu pun belum pernah mengadakan perjalanan ke wilayah Jawa Timur, ketika seharusnya ia memilih arah Malang, tapi yang terpilih justru arah Pasar Turi. Jadilah salah satu mobil rombongan, yang saya turut di dalamnya, memasuki belantara beton kota buaya. Tersesat tak lagi dapat dihindari. Kami mulai bingung. Dan, Kota Surabaya yang begitu ramai (agaknya) memancing kami untuk saling mencari “pembenaran” masing-masing.

Kami menghubungi mobil yang satu lewat handphone, namun tak banyak memberi hasil. Di dalam mobil yang terus harus berjalan agar tak terjadi kemacetan, yang mungkin dapat memancing kerisauan pengendara lain, kami terus berdebat. Usul ini, usul itu; menyalahkan ini, menyalahkan itu. Dalam situasi seperti ini yang sering muncul ke permukaan justru emotion power. Pertimbangan-pertimbangan logika tak jarang tersembunyikan oleh kekuatan emosi. Dan, inilah yang sering membawa perbedaan itu sulit diperjumpakan. Sulit saling (mau) mengakomodasi. Yang, muaranya tak ada akhir yang memuaskan.

Untunglah, ketika mobil terus berjalan meski pelan, keberadaan polisi di pinggir jalan yang sedang mengatur arus lalu lintas itu memancing pikiran kami untuk mau saling “melebur” dalam sebuah pilihan. Bertanya kepada polisi lebih baik ketimbang berdebat tanpa dasar yang benar. Saya sendiri berpikir, polisi (tentu) memiliki kompeten “yang lebih” dalam perihal jalur perjalanan lalu lintas. Oleh karena itu, lantas di antara kami ada yang turun dari mobil, mendekat ke polisi, dan bertanya. Informasi dari polisi kami pakai untuk pijakan keluar dari “kesemrawutan”, kebisingan, dan keangkuhan Surabaya. Meski, kami pun akhirnya menyadari bahwa informasi yang diberikan oleh polisi itu tidaklah cukup mudah untuk ditafsirkan karena kami baru dapat bebas dari jerat sesat itu setelah melewati lima traffic light, bukan tiga traffic light seperti yang disarankan oleh polisi. Tapi, kami serombongan akhirnya dapat (juga) bertemu dengan satu rombongan yang lainnya yang telah menanti jauh di luar kota pahlawan itu.

Ada kesan yang dapat saya temukan (di sini), bahwa ternyata sekalipun telah kami dapatkan saran yang kami yakini dapat membantu kami bisa keluar dari problem, bukan berarti sejak saat itu bebas dari masalah. Masalah ternyata tetap saja ada, meskipun dalam wujud, misalnya, kekhawatiran, ketakutan, atau dugaan-dugaan negatif. Ketika kami menyusuri jalan sembari memerhatikan traffic light sesuai dengan saran polisi, masih saja terjadi perdebatan. Karena, polisi bilang hanya melewati tiga traffic light lantas dapat keluar dari ketersesatan itu, tapi ternyata tidak. Kami baru dapat “merdeka” setelah melewati lima traffic light.

Saya berpikir, kenyataan serupa dapat juga terjadi pada siapa saja terkait dengan aktivitas apa pun saja, termasuk pada diri siswa dengan segala aktivitasnya di sekolah. Bahkan, boleh dikatakan siswa sangat rentan dengan perihal tersebut dalam keberlangsungan mereka menempuh pembelajaran. Ketika siswa belajar mandiri atau kelompok sangat mungkin menjumpai banyak persoalan yang membawa mereka pada kondisi “bingung”, stres, terdesak, terjepit, atau kondisi-kondisi lain yang sejenis. Untuk dapat keluar dari kekangan kondisi semacam itu, agaknya peran orang yang lebih berkompeten dalam bidang terkait dapat memberi akses keluar, manakala tak dijumpainya sendiri sebuah solusi.

3 komentar:

  1. Pak, meski demikian harus kuakui, model pengelolaan lalu lintas di negara kita sanggup menjadikan kita pribadi yang sabar uji dan kreatif :)

    Atau, pake GPS aja Pak :)

    BalasHapus
  2. bagi saya sendiri menyimpulkan dari artikel ini, penting juga bagi kita sebagai pendengar atau penyimak dalam memilah-milah sumber yang akan kita perhatikan. biar gag salah orang gitu..:)

    BalasHapus
  3. sering pak, kejadian seperti ini..tapi semoga lancar acaraselanjutnya

    BalasHapus

""