Kamis, 02 September 2010

Sekolah, Terbuka bagi Orang Tua Siswa

Sekolah, Terbuka bagi Orang Tua Siswa

Selama saya menjadi guru, satu hal yang tertangkap dalam pikiran saya terkait dengan orang tua/wali murid, adalah, orang tua/wali murid jarang -untuk menghindari penggunaan kata ”tak pernah”- datang ke sekolah tanpa ada undangan dari sekolah. Kedatangan mereka ke sekolah selalu karena ada undangan, misalnya, undangan ketika ada rapat pleno komite, waktu penerimaan rapor, dan pengumuman kelulusan siswa.

Jadi, kedatangan mereka ke sekolah seolah-olah hanya bergantung pada adanya undangan. Kalau ada undangan dari sekolah, datang. Beradsarkan undangan, dalam satu tahun, paling-paling orang tua/wali murid datang ke sekolah tiga kali, yakni saat awal tahun pelajaran baru, akhir semester pertama, dan kenaikan kelas/kelulusan. Dan, kalau tak ada undangan dari sekolah, meskipun anaknya ada masalah pembelajaran, misalnya, orang tua/wali murid (tetap) tidak datang. Kalau toh ada yang mau datang, jumlahnya tidaklah seberapa. Kalau dikalkulasi secara matematis, jelas banyak yang ”malas” datang ke sekolah.

Kenyataan demikian itu masih ada hingga sekarang. Dan, sepertinya telah membudaya. Padahal, disadari atau tidak, jika benar telah membudaya, jelas ini sebuah kekeliruan besar di negeri ini. Kekeliruan yang harus segera diubah, tentu. Sebab, jika tak ada upaya untuk mengubahnya, ke depan negeri ini pasti akan kehilangan karakter.

Memang banyak orang (termasuk sekolah) menyadari bahwa kini orang semakin disibukkan oleh pekerjaan. Tapi, sesibuk-sibuknya bekerja, kalau ada niat baik untuk mau bersama memberi pembimbingan anak ke arah lebih baik, tentu ada waktu yang dapat disisihkan. Fenomena sosial yang akhir-akhir ini merebak di tengah-tengah masyarakat modern adalah kesibukan orang tua yang kurang memerhatikan anak atau keluarga, ternyata banyak membawa dampak bagi anak. Anak terjerumus narkoba, terbawa ke arus pergaulan bebas, seks bebas, dan sebagainya, yang akhirnya bermuara pada hilangnya masa depan gemilang mereka. Maka, orang tua/wali murid rasanya kurang fair jika hanya mau datang ke sekolah ketika ada undangan.

Andai (saja) dari awal orang tua/wali murid mau ”mesra” dalam membangun hubungan dengan sekolah terkait dengan dinamika anak (didik), akibat-akibat yang tak diinginkan barangkali bisa dieliminasi. Sebelum anak sampai ”dalam” terjerumus dalam narkoba, misalnya, boleh jadi telah dapat diselamatkan dari parasit sosial itu. Dan, karena tentang dinamika kehidupan anak, orang tua (baca: keluarga) lebih banyak mengetahui ketimbang guru, yang memang terbatas waktu di sekolah, maka tampak bahwa peran orang tua dalam pertumbuhan pendidikan anak sungguh vital.

Hal tersebut hendak menunjukkan bahwa orang tua/wali murid harus mau membuka hati dan pikiran pada sekolah tentang anaknya terkait dengan keberlangsungan pendidikannya. Sikap proaktif orang tua/wali murid dengan demikian sebagai modal terdepan untuk membuka akses memberikan pembinaan bersama sekolah terhadap anak (didik). Itulah sebabnya, orang tua/wali murid perlu membangun keakraban dengan sekolah. Sekolah sangat terbuka, welcome, terhadap kedatangan orang tua/wali murid kapan saja. Dan, saya pikir, justru yang demikian ini yang menjadi dambaan sekolah.

4 komentar:

  1. Orang tua mestinya memang harus senantiasa proaktif menanyakan perkembangan anaknya di sekolah. Sekolahpun harus benar2 terbuka untuk melayani kunjungan orang tua/masyarakat yang ingin mengetahui informasi apa saja seputar sekolah. Dengan demikian akan terjadilah sinergi positif seperti yang diamanatkan MBS.

    BalasHapus
  2. idealnya memang demikian, pak. ortu/wali murid adalah mitra sekolah dalam mendidik anak. jangan sampai semua persoalan ditumpukan kepada sekolah. ortu merupakan pemangku kepentingan utama dunia pendidikan.

    BalasHapus
  3. kalo dulu sekolah saya manada terbuka buat ortu sob..mudah2an skr memang terbuka ya..

    BalasHapus
  4. terbuka tapi terbatas pak, kalo bebas juga gag enak kan..hehe

    BalasHapus

""