Rabu, 15 September 2010

Tak Terduga, Ide Cemerlang Si Bungsu



Tak Terduga, Ide Cemerlang Si Bungsu

Sepulang belanja dengan ibunya, si bungsu membawa plastik putih. Masih bagus, baru, karena terlihat masih lengket dan belum lungset. Belum pernah dibuka, sepertinya. Begitu bertemu saya, ia meminta agar plastik itu ditiup. Saya melakukan permintaannya. Setelah saya tiup, ternyata, plastik itu hendak diletuskan. Pertama, ia gagal meletuskan sebab plastik yang telah saya tiup itu tidak saya ikat bagian “mulutnya”. Hanya saya pilin-pilin saja. Jadi, ketika plastik yang telah menggelembung itu ditekan, udaranya keluar lewat ”mulut” plastik. Lantas, ia meminta saya meniup plastik itu yang kedua kalinya. Begitu selesai saya tiup, bagian “mulut” plastik, saya ikat. Ia pun memintanya, lalu berusaha meletuskan plastik yang berisi udara itu. Dan, bunyi serupa petasan terdengarlah. Tetapi, ia tersenyum bangga.

Pikiran saya lantas melayang pada perasaan takutnya ketika ada bunyi petasan selama di Ramadhan dan di sepanjang Lebaran yang baru lewat. Setiap kali ada bunyi petasan, ia selalu takut. Dan, ketakutannya, bagi saya, telah mencapai pada taraf yang parah. Karena, seperti yang telah saya tulis di blog ini juga, “Menyediakan Ruang, Menghargai Sesama”, bahwa begitu terdengar bunyi petasan, ia spontan menggigil, minta digendong, dan kemudian keringat dingin merembes lewat pori-pori kulitnya. Tubuhnya terasa bergetar-getar. Pertanda bahwa fase ketakutannya sungguh “luar biasa”.

Itulah sebabnya, ketika ia tersenyum bangga sehabis meletuskan plastik itu, saya tergerak untuk mengajaknya belajar “berani” lewat bunyi plastik yang diletuskan. Dan, saya pikir, ini sebuah inspirasi yang menarik untuk terus dimanfaatkan agar si bungsu kelak tak lagi takut sama bunyi petasan. Saya tidak tahu, mengapa tiba-tiba si bungsu membawa plastik putih itu dan menyuruh saya untuk meniupnya. Lantas, ia hendak meletuskannya. Saya menduga, ia pasti meneladani seseorang, tapi entah siapa. Jadi, saya sungguh menghargai inspirasi ini. Saya bertekad untuk mengintensifkan manfaatnya demi kebaikan si bungsu ke depan. Saya tidak akan membiarkan inspirasi ini berlalu begitu saja, tanpa memberi guna. Sebab, sejak kami, saya dan isteri, mengetahui si bungsu merasa takut setiap ada bunyi petasan, selalu mencari cara untuk “membawa” perasaan si bungsu itu sedikit demi sedikit familiar terhadap bunyi petasan. Tetapi, sejauh itu juga, kami belum menemukan teknik/metode yang efektif.

Pernah suatu kali, tentang ketakutan si bungsu itu saya ceritakan kepada teman sekerja. Beliau mengusulkan untuk mengawali munculnya sikap “berani” si bungsu terhadap bunyi petasan, agar dibelikan dahulu petasan kembang api. Alasannya, petasan kembang api tidak mengeluarkan bunyi, cukup cahaya saja. Usul itu cukup logis. Dan, saya pikir perlu ditindaklanjuti. Oleh karena itu, usul itu saya ceritakan kepada isteri. Ia setuju. Akhirnya, kami suatu ketika berniat hendak membeli kembang api. Hanya, tak kesampaian karena ketika (kemudian) melihat anak tetangga menyalakan kembang api, si bungsu (ternyata) juga ketakutan. Batallah niat yang ada dalam pikiran. Dan, hingga saat si bungsu menyodorkan “ide cemerlang” itu, kami belum memilki gagasan apa pun.

Itulah sebabnya, saya sungguh bersyukur ketika si bungsu dengan sangat gembira ingin segera mempraktikkan ide cemerlangnya itu. Begitu kesan pertama “menggoda”, yakni saat si bungsu meletuskan plastik yang saya tiup dan menimbulkan bunyi serupa petasan, namun tetap dengan rasa senang, saya lantas memanfaatkan momen itu untuk membuat “pembelajaran-pembelajaran” informal dengan media plastik secara lebih menarik bagi si bungsu.

Plastik yang baru sekali saya tiup dan (kemudian) diletuskan oleh si bungsu itu, saya manfaatkan lagi. Sebab, masih banyak bagian permukaan plastik itu yang masih dapat dibuat semacam balon-balon kecil yang bisa (juga) diletuskan. Dengan salah satu jari telunjuk, bagian plastik yang masih baik itu saya dorong, lantas menimbulkan cekungan dan cekungan itu kemudian saya hisap sehingga melembung seperti balon, bulat sebesar buah kresen. Itulah yang kemudian saya minta untuk diletuskan si bungsu. Ia begitu senang. Bahkan, setelah balon kecil itu meletus, senangnya diwujudkan dalam tingkah meloncat-loncat. Upaya “menciptakan” balon-balon kecil dari plastik itu terus saya lakukan sampai tak ada lagi bagian permukaan plastik itu tersisa. Dan, si bungsu tak hanya saya suruh meletuskan dengan jari tangannya, sesekali malah langsung saya tekankan di pahanya, pipinya, lengan tangannya, dan bagian tubuhnya yang lain. Balon kecil itu meletus serupa petasan, dan si bungsu tertawa. Bahkan, beberapa kali balon-balon kecil yang tercipta itu (sengaja) saya suruh meletuskan dengan giginya. Jadi, meletusnya dalam mulut. Si bungsu sangat gembira.

Di sela-sela ia meletuskan balon-balon kecil dari plastik itu, saya menyatakan kepada si bungsu bahwa bunyinya menyerupai bunyi petasan yang sering ia dengar. Yang, sekaligus menakutkannya. Tapi, dari sikap yang ia tunjukkan (kemudian), saya memperoleh kesan bahwa si bungsu tampaknya selalu mengamini pernyataan saya itu. Maksudnya, manakala saya nyatakan (ulang) suara letusan balon-balon kecil dari plastik itu seperti bunyi petasan, si bungsu tidak protes. Tetap saja ia tampak gembira. Bahkan, ingin lagi dibuatkan balon-balon dari palstik itu, dan saya yakin, ia ingin (segera) meletuskannya. Melalui “model pembelajaran” itu, saya akhirnya berharap betul, sedikit demi sedikit dalam diri si bungsu tumbuh sikap berani, atau tak takut pada bunyi petasan.

Hanya sayang, untuk menguji keberhasilan “model pembelajaran” itu berefek atau tidak pada si bungsu, agaknya tak bisa lagi. Karena, seiring berakhirnya Ramadhan dan Lebaran, rasanya sulit menjumpai anak-anak (tetangga) menyalakan petasan. Dan, saya pun tak mungkin sengaja membeli/membuat petasan (sendiri), lantas menyalakannya di dekat si bungsu. Jangan-jangan (kemudian) saya malah dianggap banyak orang, hilang ingatan.

7 komentar:

  1. hmm ... sebuah peristiwa menarik, pak. semoga ini bukan seperti yang pernah dilakukan oleh ivan pavlov, hehe ... pelan tapi pasti jika si bungsu sering mendengar bunyi letusan seperti petasan, mudah2an rasa phobi-nya terhadap letusan mercon bisa hilang.

    BalasHapus
  2. Ketakutan kadang tak beralasan...hehehe...jadi ingat masa kecil dulu, banyak hal yang ditakuti.
    Tapi memang semua itu harus dikendalikan, agar kita tak takut lagi.
    Ide meniup plastik bagus sekali, membuat si bungsu menjadi lebih berani

    BalasHapus
  3. Ya meski demikian kan ketika Ramadhan taon depan si bungsu sudah besar Pak, jadi diharapkan traumanya pun juga sudah berangsur hilang :)

    Tapi menarik..

    BalasHapus
  4. yah biasalah memang anak kecil terkadang masih takut2 tp coba kalo dah tahu weleh.bisa2 minta petasannn mulu..

    BalasHapus
  5. tulisan yg menarik & bermanfaat.

    BalasHapus
  6. ketakutan emang harus dihadapi... biar tidak berkembang menjadi phobia!!

    BalasHapus
  7. semoga ampe dewasa dia tetap kreatif kayak gitu ya pak..:)

    BalasHapus

""