Sabtu, 30 Oktober 2010

Doa bagi Korban Merapi dan Mentawai, Olah Kecerdasan Spiritual Siswa



Doa bagi Korban Merapi dan Mentawai, Olah Kecerdasan Spiritual Siswa

Tak cukup mengumpulkan hal bendawi untuk meringankan beban sesama yang menderita akibat bencana amuk Merapi, di Jawa Tengah (Jateng) dan tsunami Mentawai, di Sumatera Barat (Sumbar) beberapa waktu lalu. Kekuatan-kekuatan spiritual yang dibangun lewat doa pun tak ketinggalan. Kekuatan fisik dibangun lewat hal bendawi, tetapi keteguhan batin ditegakkan, misalnya, melalui dukungan doa.

Siswa didik sekolah menengah pertama (SMP) 1 Jati Kudus, Jateng, tak mau ketinggalan turut membangun spirit batin yang ”terluka” akibat amuk alam itu. Terluka karena banyak di antara korban yang tak hanya kehilangan harta benda, tetapi suami, isteri, anak, orang tua, saudara, dan handai taulan. Kenyataan demikian rentan terjadinya kehancuran jiwa bagi korban. Mereka bisa kehilangan sandaran, harapan, idaman, bahkan masa depan. Semua terlihat serba suram. Itulah sebabnya, dorongan meneguhkan (kembali) mental sangat penting.

Doa bersama yang dilakukan siswa didik bersama guru dan karyawan di sekolah, yang dimulai pukul 06.00 WIB, Sabtu (30/10), tak hanya memberikan energi keilahian kepada para korban bencana, tapi dapat juga mengolah spiritual penyeru doa. Karenanya, siswa didik yang terpanggil turut doa bersama (sejatinya) mengalami bimbingan kecerdasan spiritual.

Artinya, siswa didik membangun hubungan dengan Sang Khalik. Lalu, menyadarinya bahwa Sang Khalik menentukan segala-galanya, termasuk menentukan hidup-mati manusia dan makhluk lainnya. Maka, korban Merapi dan Mentawai dapat dipahami sebagai ”kehendak” Sang Khalik, yang tak dapat ditolak oleh siapa pun. Yang, boleh jadi menimpa siapa, di mana, dan kapan saja.

Kegiatan yang dikemas dalam shalat ghaib bagi siswa didik Muslim dan doa penguat iman bagi non-Muslim, memberi muatan spiritual kepada semua siswa didik. Sikap-sikap moral keagamaan terpraktikkan langsung. Jadi, siswa didik tidak hanya fasih berbicara, tetapi (juga) ikhlas dan tulus dalam perwujudan imannya.

Pendidikan spiritual menjadi asupan ”gizi” hidup yang tidak boleh diabaikan. Apalagi, kini, di masyarakat, dijumpai banyak orang begitu licinnya berbicara kebaikan, tetapi sungguh berat melakukannya.

2 komentar:

  1. betul sekali, pak. jumat kemarin sebelum acara gebyar bahasa, anak2 juga kami ajak utk membaca surah yasin dan berdoa utk saudara2 kita yang tengah tertimpa musibah letusan merapi, tsunami mentawai, dan banjir wasior. salam.

    BalasHapus
  2. para mahasiswa pun udah menggalang dana..:)

    BalasHapus

""