Selasa, 12 Oktober 2010

Memberdayakan Siswa


Memberdayakan Siswa


Meskipun sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah (tampaknya) tak kebal dari anak yang suka mengambil barang milik orang lain/teman. Yang diambil dapat saja tergolong barang sederhana, seperti pensil, penghapus karet, buku, dan penggaris. Barangkali karena barang sederhana itu, si empunya sering tak terlalu mengurus. Paling-paling hanya sebentar memperbincangkan, kemudian melupakannya.

Perilaku mengambil barang (sekalipun sederhana) milik teman tanpa memberitahu terlebih dahulu dan meskipun si empunya (barang) tak terlalu menggubris, dapat dianggap sebagai perbuatan menyimpang. Perbuatan melanggar ”hukum” karena termasuk mencuri.

Bisa saja perilaku mencuri yang tak digubris hanya karena dianggap mengambil barang-barang sederhana itu (malah) mendorong sikap untuk semakin berani mengambil barang yang lebih berharga. Semula hanya mengambil pensil, penghapus karet, buku, dan penggaris milik teman sekelas; lambat laun karena tak ada penanganan, mulai berani mengambil uang, handphone, dan barang berharga lainnya yang tak tersimpan aman. Bahkan, tak hanya barang milik teman sekelas, tetapi bisa jadi lain kelas.

Lantas, (umumnya) tindakan yang sering diambil sekolah (baca: guru) jika terbukti ada kehilangan di kelas adalah diadakan pengarantinaan sementara siswa dalam kelas, dilanjutkan penggeledahan. Pengarantinaan dimaksudkan agar siswa tidak keluar kelas, yang memungkinkan terciptanya pemusatan penggeledahan. Sementara itu, penggeledahan yang biasa dilakukan sering terfokus pada tas, saku baju dan celana/bawahan siswa, laci-laci meja, tempat-tempat yang dicurigai di seputar ruang kelas tersebut. Melepas kaus kaki dan sepatu siswa jarang terjadi. Apalagi, (maaf) hingga mendeteksi di balik pakaian dalam, misalnya, sangatlah riskan bukan? Penggeledahan yang dilakukan, pada akhirnya, sering tak membawa hasil.

Seperti yang terjadi di salah satu ruang kelas di sekolah, tempat saya mengajar, beberapa waktu lalu. Penggeledahan yang dilakukan oleh teman guru, tak membuahkan apa-apa, selain lelah dan kekecewaan. Hingga, akhirnya, kejadian itu dibiarkan berlalu begitu saja, tanpa ada tindak lanjutan dengan cara lain. Seakan-akan pasrah sepasrah saya ketika menyerahkan alternatif tindak lanjutan kepada salah satu siswa untuk didiskusikan dengan beberapa siswa dan untuk (kemudian) dipraktikkan.

Alternatif tindak lanjutan itu begini. Saya berpikir, dalam menangani hilangnya handphone siswa di kelas, misalnya, pencariannya perlu melibatkan beberapa siswa sekelas. Maksudnya, sejumlah siswa sekelas yang berintegritas (relatif tinggi) diberdayakan untuk menelusur handphone yang hilang itu. Caranya, lewat siswa/beberapa siswa yang (umumnya) memiliki tingkat deteksi jitu terhadap teman yang suka usil ”mengambil” barang (sesederhana apa pun) milik teman sekelas, guru dapat memperoleh informasi. Yaitu, informasi mengenai siswa mana yang sering berperilaku begitu. Yang, biasanya lebih sering dilakukan oleh satu-dua siswa saja.

Setelah siswa (anak) yang ”ditandai” itu ditemukan, sejumlah siswa sekelas yang berintegritas (relatif tinggi) tadi diminta untuk ”mengikuti” gerak-gerik anak yang "ditandai" tersebut, tanpa menimbulkan kecurigaan. Memberdayakan sejumlah siswa sekelas dan tanpa lagi melibatkan guru sangat memungkinkan mengurangi sikap curiga. Sehingga upaya ”mengikuti” bisa lebih leluasa. Dengan demikian sejumlah siswa sekelas yang ditugasi itu ”bergerak” serupa intelijen.

Pengintelijenan (sebaya) dilakukan karena diasumsikan anak yang ”ditandai” tentu akan bertindak agak berbeda, tak seperti biasanya, seperti pulang paling akhir/awal, saat tertentu mengambil jarak dengan teman, atau bentuk-bentuk perilaku yang lain. Kenyataan itu rupanya memberi ruang lebih terbuka mempercepat penyelesaian masalah.
Ketika model itu dipraktikkan di salah satu ruang kelas di sekolah, tempat saya bekerja, yang kebetulan ada salah satu siswanya kehilangan handphone, masalah bisa teratasi. Handphone dapat ditemukan dan anak yang ”ditandai”, yang sejatinya ”mengambil”itu, sangat ”mengena” untuk dinasihati. Lucunya, (hanya sekadar biar Anda tahu) handphone ditemukan saat anak yang ”ditandai” itu sedang melakukan shalat luhur di musholla sekolah. Handphone ditemukan salah satu intelijen (sebaya) di dalam kaus kaki anak yang "ditandai".

Dan, fakta itu tidaklah serta-merta (kemudian) menganggap "penggeledahan" di ruang kelas, tidak berarti alias mubadir. Penggeledahan di ruang kelas itu tetap (saja) dilakukan, namun terus diikuti gerak intelijen (sebaya) secara intensif.



2 komentar:

  1. Ya, benar sekali, kita harus benar-benar mengetahui sisi psikologis siswa-siswa kita, tindak lanjut yang membabi buta terhadap kasus di atas, hanya akan membuahkan kekecewaan bukan. Akan lebih baik jika penanaman budi pekerti yang luhur terus diperjuangkan, ditanamkan pada hati sanubari anak didik.

    BalasHapus
  2. Wah, aku suka ide pengintelijenan itu, Pak!
    Gimanapun juga memang maling atau bukan maling harus bisa dideteksi sedini mungkin..

    Jangan menunggu tua karena itu berarti kita terlalu banyak berharap pada KPK :)

    BalasHapus

""