Kamis, 14 Oktober 2010

Menarik, Permaianan Media Evaluasi



Menarik, Permaianan Media Evaluasi

Begitu satu kompetensi dasar (KD) selesai dalam sebuah proses pembelajaran, idealnya diadakan evaluasi atau ujian alias tes dan bisa juga disebut ulangan. Upaya itu difungsikan di antaranya untuk mengetahui sejauh mana siswa didik menguasai materi dalam KD tersebut.

Hanya, selama ini, pelaksanaan evaluasi itu di mata siswa didik sepertinya (masih) menjadi kendala batin dan jiwa bisa merdeka. Bahkan, sebagian siswa didik terlihat terbeban. Seolah-olah memikul beban sangat berat. Sehingga, tak jarang, ketika tiba waktunya evaluasi, siswa didik cenderung ”miskin” ramah; menyembunyikan raut muka dari pandangan guru.

Berkurangnya sikap ramah barangkali karena mereka lebih terkonsentrasi pada aktivitas evaluasi itu. Jika ditanya, mengapa tidak mau maju/menjawab pertanyaan guru, rata-rata mereka menjawab takut kalau jawaban salah. Maksudnya, takut dimarahi oleh guru. Padahal, saya yakin, barangkali hampir semua guru, termasuk saya, sering mengatakan kepada para siswa didik jika pun jawaban salah, tak bakal guru marah. Sebab, mengalami kesalahan dalam proses belajar itu hal yang (sangat) wajar. Tetapi, dalam keberlangsungan pembelajaran, terus saja (dari waktu ke waktu) siswa didik mengalami hal serupa, yakni takut maju/menjawab.

Agaknya, rasa malu di depan teman-temannya menjadi beban psikologis juga ketika seorang siswa didik salah dalam menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh guru. Meskipun sangat jarang atau bahkan tidak ada (sama sekali) teman yang mengejek jika saja jawaban yang diberikan itu salah.

Apalagi jika model evaluasi itu guru hanya ”melempar” pertanyaan lisan di depan para siswa didik. Mungkin sekalipun menelan waktu yang relatif lama, tak muncul-muncul (juga) siswa didik yang hendak menjawab. Ini yang terjadi di sekolah, tempat saya mengajar. Padahal, sejatinya, model evaluasi yang demikian itu sangat demokratis. Memberi kebebasan siswa didik untuk merespon pertanyaan, dalam arti siapa pun memiliki kesempatan (yang sama) untuk menjawab. Di samping itu, evaluasi model demikian, melatih ”keberanian” siswa secara mandiri. Berani menjawab pertanyaan tanpa menunggu perintah/permintaan guru terlebih dahulu.

Hanya, yang sering terjadi, model evaluasi demikian cenderung didominasi oleh siswa didik tertentu, yang memang di samping memiliki ”nyali” besar, juga pintar. Padahal, kondisi seperti itu, disadari atau tidak, akan semakin menimbulkan rasa kurang percaya diri pada siswa didik yang rendah diri. Siswa didik yang demikian, dalam kondisi seperti itu, rasanya sulit untuk berkembang dan bahkan sebaliknya, (malah) semakin mengurung kemauan. Ini tentu gambaran yang kurang ”indah” dalam proses pembelajaran.

Itulah sebabnya perlu dimunculkan model evaluasi (khususnya setelah KD berakhir) yang dapat ”melibatkan” semua siswa didik, yang sekaligus (dapat) meminimalisasi sikap tertekan karena memuat unsur permainan. Yaitu, model evaluasi dengan memanfaatkan spidol atau benda apa saja yang dapat dipegang siswa didik secara estafet.

Caranya, mula-mula benda itu dipegang salah satu siswa didik, terserah boleh siswa yang duduk di ujung atau di tengah. Lalu, guru menghitung 1,2,3,4,... dan seterusnya sambil menghadap ke papan tulis. Sementara guru (terus) menghitung dengan suara dapat didengar dan tanpa melihat benda itu (telah) sampai di siswa didik mana, benda itu harus diserahkan ke siswa didik lainnya di sebelahnya secara estafet. Begitu guru bilang ”berhenti”, benda itu pun berhenti dan tak boleh diserahkan ke siswa didik berikutnya. Siswa didik yang ”memegang” benda itulah yang harus menjawab pertanyaan dari guru.

Untuk putaran berikutnya, setelah benda itu di serahkan ke siswa sebelahnya, siswa didik yang habis menjawab (tadi) menghitung sembari menutup mata. Bersamaan hitungan terus terdengar, benda itu terus bergulir dari satu siswa didik ke siswa didik lain secara estafet. Begitu siswa yang menghitung bilang ”berhenti”, berhenti pulalah benda itu dan siswa didik yang memegang terakhir benda itu berkewajiban menjawab pertanyaan guru. Putaran ketiga, yang memberi aba-aba hitungan adalah siswa didik yang menjawab pertanyaan kedua dari guru (tadi). Begitu pula putaran yang selanjutnya secara berganti-gantian. Siswa didik yang telah menjawab pertanyaan guru dan yang (tentu) telah memberi aba-aba hitungan, tak boleh lagi menerima benda itu, yang berarti juga tak mendapat pertanyaan dari guru.

Dalam pembelajaran yang lain, misalnya hari lain atau KD lain, jika dengan cara ”hitungan” itu dianggap membosankan, dapat juga divariasi dengan (cara), siswa yang telah menjawab pertanyaan guru melalui permaian benda dan ”hitungan” tadi, menunjuk nomor absen teman. Nomor absen yang ditunjuk berkewajiban menjawab pertanyaan guru. Selanjutnya, yang habis menjawab pertanyaan guru, berhak menunjuk nomor absen teman (lain), yang kemudian berkewajiban menjawab pertanyaan guru. Begitu seterusnya sesuai dengan keinginan (guru). Tentu nomor absen yang telah ditunjuk, tak boleh ditunjuk lagi dalam permainan selanjutnya.

Untuk lebih menciptakan ketertarikan siswa didik masuk dalam evaluasi, bisa saja model ”hitungan” tadi diganti dengan guru dan semua siswa didik menyanyikan sebuah lagu sembari benda (tadi) diestafetkan dari satu siswa didik ke siswa didik lain. Begitu lagu berhenti, berhenti pulalah benda itu dan siswa didik yang memegang benda itu, berkewajiban menjawab pertanyaan guru. Begitu terus berulang sesuai keinginan (guru).

Ternyata permainan semacam itu mampu menghilangkan kesetresan siswa didik ketika memasuki evaluasi di akhir proses pembelajaran. Sisi positif yang lain, (ternyata) merangsang semua siswa untuk siap sedia, sehingga sejak awal proses pembelajaran, mereka mengikuti dengan sesungguhnya.

2 komentar:

  1. kapan kapan blue ajak main y mas..heheh
    p cabar
    salam hangat dari blue

    BalasHapus
  2. Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang bisnis di blogku : http://www.yohanwibisono.com, silahkan kunjungi, mudah-mudahan bermanfaat. thx

    BalasHapus

""