Rabu, 13 Oktober 2010

Menjaga Martabat Bahasa Indonesia


Menjaga Martabat Bahasa Indonesia

Boleh jadi nilai ujian nasional (unas) mata pelajaran (mapel) Bahasa Indonesia 2010 kemarin jeblok karena kompetensi berbahasa Indonesia peserta didik rendah. Meski juga, banyak orang mengakui soalnya kurang valid. Rendahnya kemampuan berbahasa Indonesia peserta didik tak dapat dilepaskan dari kultur masyarakat kita yang memang belum beranjak dari budaya tutur dan dengar. Artinya, masyarakat kita belum memiliki kecintaan membaca dan menulis, yang dapat diteladani anak-anak (baca: peserta didik). Padahal, disadari atau tidak, kebiasaan membaca dan menulis itu menjadi modal dasar mampu berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Semakin menjadi parah karena masyarakat (seolah-olah) menyediakan ruang komunikasi yang tak steril dari ”bahasa rekayasa”. Bahkan, cenderung menyuburkan ”bahasa rekayasa” tersebut. Tengok saja, misalnya, pemakaian bahasa dalam short message service (SMS). Yang, tak hanya melanda peserta didik, tapi juga orang dewasa bahkan mungkin ada di antara mereka termasuk guru, yang seyogianya memberi teladan yang baik. Aspek kepraktisan dan komunikatif agaknya yang membuat pemanfaatan bahasa yang mencederai kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar itu, hingga kini tetap membiak di masyarakat. Praktis, karena banyak kata yang disingkat bahkan dimunculkan simbol baru. Komunikatif, karena meskipun telah disingkat dan dimunculkan simbol baru tetap dapat dimengerti maksudnya.

Kenyataan itu rasanya menyulitkan guru, khususnya guru mapel Bahasa Indonesia, untuk terus ”berjuang” menanamkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Penyampaian materi yang telah dikemas sekreatif mungkin tak mampu membentuk sikap berbahasa peserta didik sebagai wujud ”menghargai” bahasa Indonesia. Pembelajaran bahasa dari masyarakat justru lebih mereka jiwai. Hal tersebut dapat dibuktikan dalam aktivitas bahasa tulis mereka di sekolah yang tak jarang memanfaatkan ”gaya” penulisan yang biasa mereka pakai dalam SMS, misalnya. Meski telah diingatkan, kesalahan semacam itu senantiasa terulang.

Hal tersebut menandakan bahwa masyarakat (termasuk anak-anak, yang notebene peserta didik), kurang bisa menjaga martabat bahasa Indonesia. Padahal, bahasa Indonesia merupakan salah satu jati diri bangsa. Kalau tidak warga bangsa kita yang menjaga martabat bahasa Indonesia, lalu siapa lagi. Menelantarkan keberadaan bahasa Indonesia yang baik dan benar berarti mengkhianati perjuangan budaya leluhur kita. Sebab, kelahiran bahasa Indonesia, sebagai salah satu hasil budaya, tak lepas dari perjuangan pendahulu kita.

Itulah sebabnya, sedih ketika (kini) pemerintah menurunkan kebijakan pendidikan yang memarjinalkan keberadaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di sekolah. Hal itu jelas terbaca dalam semakin disuburkannya rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) dan sekolah bertaraf internasional (SBI), yang mewajibkan penggunaan bahasa Inggris dalam proses pembelajaran dalam beberapa mapel. Mapel IPA, IPS, dan Matematika, yang dulunya menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia harus diganti dengan bahasa Inggris. Itu artinya, bahasa Indonesia tak dihargai di negeri sendiri.

Padahal, kita tahu, bahasa Indonesia dipelajari di negara asing. Di Ferny Grove State School di Brisbane, Queensland, Australia, bahasa Indonesia cukup diminati sehingga diajarkan sejak SD, SMP, hingga SMA. Bahkan, untuk ”menjaga” keberlangsungan hidup bahasa Indonesia di Australia, 22 April 2010 yang lalu, Balai Bahasa Indonesia (BBI) diresmikan berdiri, yang berada di Perth, Australia Barat.

Kalau (memang) alasannya agar peserta didik (baca: pendidikan) kita tak ketinggalan dengan pendidikan luar negeri, rasanya terlalu berlebih jika harus mengorbankan bahasa Indonesia dalam proses pembelajaran. Sebetulnya, dengan tak ”mengagungkan” penggunaan bahasa Inggris pun dalam proses pembelajaran, belum tentu kita tak dapat bersanding dengan asing. Taruhlah, misalnya, pemakaian bahasa Inggris tetap serupa dengan porsi-porsi yang dulu, namun fungsinya lebih dimaksimalkan, masih sangat terbuka peluang untuk dapat berkiprah di ajang internasional, atau dikenal internasional. Ketika tahun 70-an, pendidikan kita diacu oleh Malaysia, itu bukan karena kepiawaian kita dalam berbahasa Inggris. Justru kala itu penggunaan bahasa Indonesia sedang mantap-mantapnya karena Yus Badudu ”mengajarkan” lewat banyak media elektronika.

Maka, apabila fenomena demikian terus dibiarkan bahkan semakin dilegalisasi pemerintah, ke depan, tak hanya sebatas nilai unas mapel Bahasa Indonesia yang semakin terpuruk, tapi yang berbahaya (justru) tercerabutnya generasi penerus dari akar budaya bangsa. Oleh karena itu, pemerintah perlu (segera) meninjau ulang kebijakan di bidang pendidikan, yang terkait dengan pemakaian bahasa Inggris menggantikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar beberapa mapel di sekolah. Di samping itu, mendesak dibudayakan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar secara menyeluruh, terutama di lembaga swasta dan instansi. Inilah wujud menjaga martabat bahasa Indonesia.

2 komentar:

  1. kompetensi berbahasa tak bisa dilihat berdasarkan nilai UN, pak. tak sedikit siswa yang mampu menulis dan berbicara dg baik, nilai UN hancur, karena yang diukur hanya sebatas kognisi belaka. ttg RSBI, saya juga sedih, pak, kenapa justru BI makin disingkirkan dari ruang2 kelas? agaknya, mereka tidak paham benar hakikat SBI itu sendiri.

    BalasHapus
  2. Meski saya guru bahasa inggris, mendengar RSBI yang menuntut sebagian proses pembelajaran harus dengan menggunakan bahasa inggris rasanya geli juga. Lha wong UN-nya saja berbahasa Indonesia?

    BalasHapus

""