Jumat, 29 Oktober 2010

Peduli Merapi dan Mentawai, Bangun Rasa Kemanusiaan Siswa



Peduli Merapi dan Mentawai, Bangun Rasa Kemanusiaan Siswa

Deret penderitaan di bumi pertiwi ini terus bertambah. Hari-hari belakangan yang ditandai dengan terjadinya tsunami Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar) dan amukan Merapi, Jawa Tengah (Jateng) membuktikannya. Penderitaan yang dialami oleh sebagian masyarakat Indonesia karena bencana alam itu, tak hanya mengoyak benak orang dewasa, tapi (juga) mengoyak batin kemanusiaan anak-anak.

Tak kurang dari siswa didik sekolah menengah pertama (SMP) 1 Jati Kudus, Jawa Tengah. Dengan dimotori oleh pengurus organisasi siswa intra sekolah (OSIS), gerakan peduli Mentawai dan Merapi diresapkan dalam diri siswa didik. Kotak ”Peduli Mentawai dan Merapi” dikelilingkan dari satu kelas ke kelas lain. Gerakan tersebut diadakan untuk membangun karakter siswa didik peduli terhadap orang lain yang sedang menderita.

Sebagai makhluk sosial, di samping makhluk individu, siswa didik mengembangkan sikap berempati. Turut merasakan beban yang dirasakan oleh orang lain, meskipun mereka tidak mengenal. Tidak mengerti secara pribadi siapa yang dibantu. Sikap terbuka, ikhlas, dan tanpa memandang bulu terhadap semua orang yang berasal dari latar belakang berbeda itu menjadi inti pembelajaran dalam gerakan Peduli Mentawai dan Merapi di sekolah, yang sering dipandang orang lebih banyak berteori.

Karena tidak semua siswa didik anak orang mampu, gerakan ini menyadarkan pula bahwa siapa pun dapat membantu pihak yang lebih membutuhkan. Fakta setiap hari mereka masih bisa membeli jajan di sekolah dari uang saku, memberi bantuan kepada pihak yang (lebih) lemah menjadi sebuah panggilan kemanusiaan. Karenanya, tak melihat seberapa jumlah peran "rasa kemanusiaan" siswa didik itu terkumpul dan tersalurkan. Tetapi, betapa kepedulian terhadap sesama telah dibudayakan sejak anak amatlah berharga.

Menanamkan sikap kemanusiaan dalam era yang lebih banyak mempertontonkan hidup jauh dari rasa kebersamaan itu, dengan demikian, menjadi bentuk pendidikan yang penting. Pendidikan yang kini barangkali (telah) sulit ditemukan di dalam kehidupan masyarakat (modern). Padahal, sikap kemanusiaan, sampai kapan pun, tetap sebagai kebutuhan mutlak bagi keberlangsungan hidup bersama.

3 komentar:

  1. sekolah harus terus berupaya membangun citra sebagai tempat pendidikan, karena memang tujuannya sebagai tempat pendidikan. salam solidaritas Pak

    BalasHapus
  2. menang harus dibimbing sejak kecil untuk memiliki rasa kemanusiaan, dan rasa peduli kepada sesama.
    salam sukses selalu.Bali Villas Bali Villa

    BalasHapus
  3. anak2 jaman skrng memang kurang adanya kebersamaan ,malah banyak yg egois sendiri .



    Bali Prewedding Photography, Bali Photography, Bali Wedding

    BalasHapus

""