Kamis, 28 Oktober 2010

Prihatin, Anak Menyandu Warnet



Prihatin, Anak Menyandu Warnet

Yang digelisahkan salah satu tetangga saya mengenai salah satu anaknya, yang masih sekolah dasar (SD), yang akhir-akhir ini jarang di rumah karena lebih banyak ”bermain” di warung internet (warnet), agaknya menjadi keprihatinan kita bersama. Prihatin karena fakta keseharian, kini, (memang) banyak anak yang sering bertandang ke warnet sepulang sekolah.

Waktu yang mestinya lebih baik untuk beristirahat karena lelah belajar di sekolah atau mengerjakan tugas sekolah, malah dipakai untuk ”bermain” di warnet. Di warnet, anak-anak lebih sering menjelajah berbagai ”permaianan” daripada memenuhi tugas-tugas sekolah. Barangkali memang tak dapat dipungkiri bahwa ”permaianan” yang mereka temukan di warnet sangat menyenangkan. Bahkan mungkin dapat ”menghilangkan” semua kelelahan yang diperoleh saat belajar di sekolah.

Namun, yang sungguh memrihatinkan, kesenangan berlebihan yang menjurus pada sikap ”menyandu” itu (ternyata) berdampak pada turunnya semangat belajar, terkikisnya hidup hemat, bahkan memunculkan sikap memberontak. ”Bayangkan Mbak, dulu sebelum kenal warnet, uang saku anak saya selalu ada sisa dan dikembalikan ke saya. Kini malah minta tambah untuk ke warnet. Kalau ndak dikasih, ia marah-marah atau ngambek,” kata salah satu tetangga kepada isteri saya, beberapa waktu lalu.

Fenomena sosial semacam itu barangkali telah merambah banyak wilayah di bumi pertiwi ini. Yang, artinya telah ”merenggut” jiwa dan mental banyak generasi muda kita, pewaris negeri ini. Maka, upaya menyeluruh yang melibatkan banyak pihak agaknya tak dapat ditunda-tunda lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""