Sabtu, 02 Oktober 2010

Spiritualitas Dinamika Kehidupan Masyarakat Kudus Modern (Cerita Rakyat Raden Ayu Dewi Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku)



Spiritualitas Dinamika Kehidupan Masyarakat Kudus Modern
(Cerita Rakyat Raden Ayu Dewi Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku)

Kabupaten Kudus merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah, yang letaknya di pantai utara Jawa, yang dikategorikan sebagai kota kuno, yang dikenal sebagai kota bersejarah. Hal ini terbukti banyak peninggalan sejarah, kepurbakalaan, cagar budaya, tradisi dan adat istiadat leluhur. Terutama, pada transisi agama Hindu ke Islam, yaitu masa berkembangnya agama Islam di Pulau Jawa.

Perkembangan agama Islam di Kudus dan sekitarnya, yang ditokohi oleh dua dari sembilan Wali Songo, yakni Sunan Kudus dan Sunan Muria, meninggalkan nilai-nilai religiusitas, budaya, tradisi, dan adat istiadat, yang menjadi inspirasi gerak kehidupan masyarakat Kudus. Bahkan, nilai-nilai religiusitas, budaya, tradsisi, dan adat istiadat itu dirasakan telah mengurat akar dalam dinamika kehidupan masyarakat Kudus hingga dewasa ini.

Salah satu cerita rakyat, yang tak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan Islam di Kudus, terutama terkait dengan keberadaan Sunan Muria, adalah cerita rakyat Raden Ayu Dewi Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku di Dukuh Masin, Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Hingga kini, cerita rakyat Raden Ayu Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku ini menjadi sumber spiritualitas kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat Dukuh Masin, Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.

Karena, dalam cerita itu mengandung nilai didik, baik dalam bidang agama/religi, moral, sosial, maupun bidang budaya. Dalam bidang agama/religi, menanmkan sikap untuk memercayai dan meyakini bahwa semua yang hidup di dunia pasti akan mati. Sehingga, setiap manusia harus meningkatkan keimanannya. Dalam bidang moral, meliputi tentang peraturan-peraturan, tingkah laku, tata krama yang menjunjung tinggi budi pekerti dan nilai susila masyarakat. Di samping itu, menanamkan sikap untuk dapat menahan hawa nafsu.

Dalam bidang sosial, menamkan sikap untuk tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. Karena dengan memaksakan kehendak kepada orang lain, akan menimbulkan dapat yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Dalam bidang budaya, menanamkan sikap untuk memercayai dan meyakini bahwa apa yang telah diperintahkan orang tua tidak boleh dibantah/diabaikan. Menurut budaya Jawa, membantah/mengabaikan perintah orang tua akan mendapatkan azab, atau dalam bahasa Jawa diistilahkan kuwalat.

Sinopsis
Sunan Muria, terkenal sebagai penyebar agama Islam, yang memiliki pondok pesantren. Di samping menguasai secara dalam pengetahuan tentang ke-Islam-an, Sunan Muria juga terkenal menguasai ilmu kanuragan. Itulah sebabnya, banyak santri dari berbagai tempat yang berguru kepada Sunan Muria.

Salah satu santri Sunan Muria yang pandai dan berwajah tampan adalah Raden Bagus Rinangku. Raden Bagus Rinangku, putra bangsawan Mataram. Dan, karena kepandaian dan ketampanannya itu, salah satu putri Sunan Muria jatuh cinta. Ia bernama Raden Ayu Dewi Nawangsih, yang cantik jelita.

Kedua muda-mudi itu akhirnya berjanji sehidup semati. Akan tetapi, janji kesetiaan itu didengar oleh Sunan Muria. Sunan Muria tidak mengizinkan hubungan mereka karena Raden Ayu Dewi Nawangsih telah dijodohkan dengan Cebolek, santri yang berasal dari Desa Kajen, Kabupaten Pati. Akan tetapi, Raden Ayu Dewi Nawangsih tidak menyukai Cebolek.

Karena hububugan Raden Ayu Dewi Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku semakin menjadi-jadi, Sunan Muria akhirnya memberikan tugas-tugas yang berat untuk Raden Bagus Rinangku agar mereka berpisah. Tugas yang pertama, Raden Bagus Rinangku harus memberantas para perampok yang ada di sekitar Muria. Maksud Sunan Muria, biarlah Raden Bagus Rinangku tewas oleh para perampok yang terkenal kejam itu. Tetapi, yang terjadi justru sebaliknya, Raden Bagus Rinangku mengalahkan para perampok itu.

Maka, Sunan Muria memberi tugas yang lebih berat lagi. Yakni, Raden Bagus Rinangku disuruh menjaga padi dari serangan burung-burung, yang ada di Dukuh Masin, Kandangmas. Tetapi, kesempatan itu justru dimanfaatkan oleh Raden Ayu Dewi Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku untuk memadu asmara. Gerak-gerik mereka ternyata diikuti terus oleh Cebolek. Apa yang dilihat Cebolek dilaporkan kepada Sunan Muria dengan ditambahi hasutan-hasutan.

Mendengar laporan itu, Sunan Muria akhirnya membuktikan sendiri, datang ke Dukuh Masin. Benar yang dilihat Sunan Muria, Raden Ayu Dewi Nawangsih sedang memadu asmara dengan Raden Bagus Rinangku. Oleh karena itu, Sunan Muria melepaskan panah ke arah Raden Bagus Rinangku. Tewaslah Raden Bagus Rinangku. Melihat kekasihnya mati, Raden Ayu Dewi Nawangsih menubruk tubuh kekasihnya itu. Naas, panah yang menembus dada Raden bagus Rinangku hingga ke punggungnya, menembus dada Raden Ayu Dewi Nawangsih. Tewaslah is serupa kekasihnya.

Kematian kedua muda-mudi itu menggemparkan masyarakat Dukuh Masin. Itulah sebabnya, ketika acara pemakaman keduanya, masyarakat Dukuh Masin berdatangan turut memberi penghormatan terakhir. Bahkan, tentara Mataram pun berdatangan. Hingga usai pemakaman, orang-orang, termasuk tentara Mataram, masih terlarut dalam suasana duka yang senyap. Melihat suasana itu, Sunan Muria berucap, orang-orang itu berdiri diam seperti pohon jati. Maka, berubahlah orang-orang menjadi pohon jati mengelilingi makam.

Sejak itu, masyarakat Dukuh Masin Khususnya dan masyarakat pada umumnya, meyakini makam Raden Ayu dewi Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku, keramat. Mereka datang berziarah, untuk menyampaikan permohonan kepada Sang Khalik dan mengungkapkan rasa syukur karena usaha/keinginan terwujud. Tradisi begitu hingga kini tetap berlangsung.

Fragmen-fragmen
A. Keluarga Sunan Muria
Nama aslinya Raden Umar Said, Putra Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh. Nama sewaktu kecil, Raden Prawoto. Beliau salah satu anggota Wali Songo, penyebar agama Islam di Jawa. Karena tempat tinggal dan padepokannya di atas gunung sekitar Muria, maka beliau sampai sekarang dikenal dengan nama Sunan Muria. Sunan Muria menikah dengan seorang wanita jelita bernama Dewi Sujinah, Putri Sunan Ngudung. Di samping memiliki putra bernama Pangeran Santri, Sunan Muria juga mempunyai putri, bernama Raden Ayu Dewi Nawangsih, yang cantik jelita.

Sebagai putri seorang Sunan, Raden Ayu Dewi Nawangsih, hidupnya selalu didampingi oleh dayang-dayang. Dayang-dayang bertugas memberi pelayanan kepada Raden Ayu Dewi Nawangsih, mulai dari makanan, minuman, sampai persiapan-persiapan untuk berhias diri. Raden Ayu Dewi Nawangsih, salah satu kesenangannya memang merias diri.

B. Padepokan Sunan Muria
Padepokan Sunan Muria dibangun di atas gunung sekitar Muria. Suasana lingkungan padepokan yang asri dan selalu segar, sangat efektif bagi Sunan Muria memberikan pelajaran Islam, tetapi juga belajar tentang ilmu kanuragan. Mereka tidak hanya datang dari Kudus, tetapi ada yang datang dari tempat-tempat jauh. Seperti santri Cebolek, ia berasal dari Kajen, desa yang berada di wilayah Pati. Ada juga yang berasal dari keluarga bangsawan Mataram, yakni santri Raden Bagus Rinangku.

Beragamnya latar belakang santri-santri Sunan Muria, menunjukkan bahwa padepokan Sunan Muria bersifat inklusif, terbuka bagi semua. Padepokan dengan demikian menjadi media membangun hubungan sosial kemasyarakatan secara akrab, dari berbagai lapisan masyarakat.

C. Prajurit Mataram
Prajurit Mataram gagah perkasa. Telah terbiasa menghadapi musuh-musuh yang kejam. Tetapi, karena kepiawaian berstrategi perang dan semangat nasionalisme yang tinggi, sekuat apa pun musuh dapat dihalau. Di antara mereka ada Raden Bagus Rinangku, yang gagah, pintar, dan tampan. Meski begitu, Raden Bagus Rinangku tetap ingin mengenyam banyak ilmu. Maka, ia pun berguru kepada Sunan Muria, menjadi santri di padepokannya. Raden Bagus Rinangku putra seorang bangsawan Mataram.

D. Penduduk Dukuh Masin
Penduduk Dukuh/Dusun Masin, keberadaannya tak jauh berbeda dengan penduduk ketiga dukuh/dusun lain yang berada di Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Desa Kandangmas, yang luasnya sekitar 1.291.392 hektar itu, terdiri atas tanah sawah, tanah kering, dan tanah fasilitas umum. Sehingga, lahannya sangat potensial untuk perkebunan dan pertanian.

Itulah sebabnya, penduduk Kandangmas, termasuk penduduk Dukuh Masin, bermata pencaharian sebagai petani, pedagang, buruh industri, buruh bangunan, buruh angkut; dan beberapa menjadi pengusaha, pegawai negeri (sipil/TNI), pensiunan. Mayoritas bermata pencaharian sebagai buruh industri karena di Kabupaten Kudus banyak terdapat industri seperti indistri rokok, jenang, konveksi, dan lain-lain.

Merasa keberlangsungan hidupnya tak dapat lepas dari keberagaman alam, lingkungan, bahkan warisan leluhur, masyarakat Dukuh Masin sangat menghormatinya. Menjadikan alam, lingkungan, dan warisan pendahulu itu sebagai spirit hidup hingga sekarang. Masyarakat merasa kurang sejahtera, kurang nyaman, kurang lengkap hidupnya jika tidak membangun komunikasi secara intensif dengan alam, lingkungan, dan tradisi-tradisi lokal.

Melalui ikhtiar spiritual itu, masyarakat Dukuh Masin khususnya dan masyarakat Desa Kandangmas umumnya, dapat menemukan nilai-nilai kearifan lokal. Yang, dapat menuntun hidup menuju jalan-jalan benar Sang Khalik.

E. Makam Masin; Makam Raden Ayu Dewi Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku
Makam Raden Ayu Dewi Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku berada di dalam cungkup, yang ditutup dengan kelambu/luwur berwarna putih. Di dalam cungkup tersebut beraroma harum bunga yang digunakan untuk berziarah di makam tersebut. Makam tersebut terletak di daerah pegunungan, di Dukuh Masin, Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, yang dikelilingi pohon-pohon jati. Konon, pohon-pohon jati itu jelmaan pelayat Raden Ayu Dewi Nawangsih dan raden Bagus Rinangku, karena disabda oleh Sunan Muria.

Oleh karena itu, pohon-pohon jati itu dikeramatkan oleh masyarakat, tak hanya masyarakat Desa kandangmas, tetapi juga masyarakat luar. Sehingga, tidak ada seorang pun berani mengganggu keberadaan pohon jati tersebut. Karena kondisi makam dikelilingi banyak pohon jati yang besar-besar, keadaan makam tampak indah dan sejuk, suasana hening, apalagi ditimpuh kicau burung, jelas menambah ketenangan dan kekhusukan para peziarah.

Makam itu banyak dikunjungi peziarah pada hari Rabu, Kamis, dan Jumat. Peziarah umumnya mendoakan arwah Raden Ayu Dewi Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku. Selain itu, mereka berdoa untuk meminta keselamatan, mendapatkan jodoh, meminta rezeki, dagangan laris, dapat pekerjaan, sembuh dari sakit, sawah bisa panen, dan lain-lain. Doa-doa itu mereka yakini terkabul karena mereka menganggap Raden Ayu Dewi Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku dekat dengan Allah.

Hingga kini, masyarakat masih memiliki keyakinan bahwa hajatan akan berjalan lancar jika masyarakat mengadakan “manganan” di makam itu. Baik itu hajatan hendak membuat rumah, menikah, maupun khitanan. Bahkan, kalau selesai membangun rumah, masyarakat akan merasa sejahtera jika mengadakan syukuran di makam tersebut dengan memotong kambing di lokasi pemakaman. Masyarakat masa kini, modern, memiliki spirit yang kuat dalam menjalani keberlangsungan hidup manakala mengadakan laku ritual.

F. Sedekah Kubur
Sedekah kubur di makam Raden Ayu Dewi Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku, yang dilakukan oleh masyarakat Dukuh Masin tepat sebelum memasuki Ramadhan. Dalam sedekah kubur ini, masyarakat umumnya membawa ingkung ayam dan tumpeng. Ingkung ayam yang terkumpul sangat banyak. Bahkan, biasanya sebagian paha ingkung ayam dikumpulkan menjadi satu dibentuk menyerupai gunung. Hadir dalam acara sedekah kubur para pejabat pemerintah daerah setempat.

Orang-orang keturunan Dukuh Masin, meskipun telah menetap di luar daerah, dalam acara sedekah kubur, tetap hadir. Masyarakat Dukuh Masin berkumpul dalam spirit yang sama menjelang Puasa saat sedekah kubur. Yakni, menentramkan benak menyongsong kedatangan bulan suci, Ramadhan.

6 komentar:

  1. mirip ama wali songo gt gag pak?

    (ini judul dan postingan terpanjang bapak ya? :D)

    BalasHapus
  2. kisah nawangsih dan rinangku ini sering saya jadikan sbg contoh cerita rakyat dalam kegiatan pembelajaran, pak. selain nilai religi, ada juga nilai2 sosial yang terpancar kuat di dalamnya.

    BalasHapus
  3. lho berarti komen saya kemarin belum jadi apa masuk satpam ya, ya sudah sing penting tilik sedulur lanang
    rahayua sing padho pinanggih

    BalasHapus
  4. Assalamuallaikum Gan... Mohon ijin meng-copy artikelnya gan...sebagai bahan reverensi bacaan dokumen sejarah Pribadi. jujur saya hobby menelusuri asal-muasal, cikal-bakal. karena saya juga sempat ziarah ke tempat yang agan postingkan ini. terimakasih sebelumnya, wassalam.

    BalasHapus
  5. crita yg blm teruji faktanya.

    BalasHapus

""