Senin, 01 November 2010

Bersih, Demokrasi Ala Siswa Didik


Bersih, Demokrasi Ala Siswa Didik

Pesta demokrasi di bumi pertiwi ini bersiklus lima tahunan. Jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan, kampanye berlangsung demi menjaring suara rakyat. Karenanya, sering digelar acara yang dapat menyedot publik. Di dalamnya, pihak yang berkepentingan berpidato secara persuasif. Bahkan, untuk memperoleh dukungan publik, (telah menjadi rahasia umum) tak segan-segan ”membeli” suara rakyat.

Fakta di atas berbeda dengan pesta demokrasi yang beberapa waktu lalu dilaksanakan di sekolah menengah pertama (SMP) 1 Jati Kudus, Jawa Tengah (Jateng) untuk memilih ketua organisasi siswa intra sekolah (OSIS) baru. Pesta demokrasi ala SMP 1 Jati Kudus, Jateng, bersiklus satu tahunan. Artinya, setiap tahun pelajaran (baru) diadakan pemilihan ketua dan pengurus OSIS baru.

Masa-masa kampanye untuk calon ketua tidak disediakan waktu secara khusus. Para calon ketua, yang kala itu terpilih lima calon ketua hasil seleksi musyawarah perwakilan kelas (MPK) berdasarkan kriteria tes tulis, wawanacara, dan fisik, cukup diberi kesempatan menyampaikan visi dan misi di depan semua siswa didik, guru, dan karyawan sekolah saat upacara bendera hari Senin.
Dalam kesempatan itu setiap calon ketua OSIS berpidato dengan gaya khas mereka masing-masing. Penyampaian visi dan misi tidak mengecewakan karena tentu telah dipersiapkan terlebih dahulu (barangkali) seperti yang dilakukan oleh para calon pejabat politik pemerintahan di negeri ini. Setiap usai calon menyampaikan visi dan misi, yang tak lebih dari lima menit itu, selalu diikuti tepuk riuh dari peserta upacara. Itulah bentuk kampanye (politik) ala SMP 1 Jati Kudus, Jateng.

Untuk pemilihan dengan cara mencontreng gambar calon itu, diaturlah tempat menyerupai pesta demokrasi sesungguhnya. Ada bilik suara sebanyak lima (memanfaatkan meja perpustakaan, yang menyeruapi podium) agar dapat melayani 800-an siswa didik, guru, dan karyawan dalam waktu yang relatif pendek. Disediakan (juga) sebuah kotak suara (dari kardus yang dilapisi kertas), tempat pengambilan kartu suara, tetapi tidak disediakan tinta sebagai bukti telah mencontreng. Karena dikhawatirkan sehabis mencontreng, tinta yang masih membekas di jari dicorat-coretkan ke tembok sekolah. Juga tidak ada saksi. Tetapi, di tiap-tiap tempat yang telah diberi tanda dengan ”tulisan” itu, yakni dari tempat pengambilan kartu suara hingga ke kotak suara ada siswa didik yang bertugas, mengarahkan para pemilih. Para calon pun, agar dapat dilihat pemilih, duduk di kursi “kehormatan” yang disediakan di tempat pencontrengan dari awal hingga kegiatan selesai.

Dan, untuk menjaga agar proses pembelajaran tetap berjalan (meski sedikit terganggu), karena pemilih (siswa didik, guru, dan karyawan) pergi ke tempat pencontrengan yang ditata di halaman depan sekolah, maka digilir satu kelas satu kelas. Begitu siswa didik dalam satu kelas yang diikuti guru yang mengajar selesai mencontreng, lantas kembali masuk ke kelas melanjutkan pembelajaran; diganti kelas yang lain ke luar untuk mencontreng yang juga diikuti guru yang mengajar. Begitu seterusnya, berganti-gantian. Karenanya, di tiap-tiap tingkat kelas ada petugas dari siswa didik untuk mengatur sirkulasi pemilih itu.

Sekalipun demikian, pelaksanaan pesta demokrasi ala SMP 1 Jati Kudus, Jateng itu, menelan waktu lebih kurang empat jam sejak dimulainya, pukul 08.00 WIB. Penghitungan kartu suara tidak dilakukan di depan semua siswa didik seperti ketika calon ketua menyampaikan visi dan misi. Tetapi cukup dilakukan oleh panitia/petugas, yang (juga) tanpa saksi. Namun, hasilnya tetap dapat dipertanggungjawabkan. Karena, dijamin tidak ada politik keruh, semisal pemalsuan kartu suara karena politik uang.

1 komentar:

  1. Nah...

    Harusnya komisi Pemilihan Umum mencontoh seperti apa yang dilakukan oleh komisi pemilihan ketua OSIS SMP 1 Jati Kudus.

    BalasHapus

""