Rabu, 24 November 2010

Djarum Award, Keberpihakan Swasta Terhadap Teater Pelajar



Djarum Award, Keberpihakan Swasta Terhadap Teater Pelajar

Barangkali tak bisa dimungkiri, keeksisan sesuatu perlu dimotivasi, didukung, bahkan difasilitasi. Mengharapkan sesuatu dapat bertumbuh tanpa motivasi, dukungan, dan fasilitas tersedia, rasanya mengada-ada. Boleh jadi sesuatu yang diharapkan itu malah semakin menghilang, yang pada akhirnya (bisa saja) mati.

Logika itu berlaku juga pada seni, termasuk seni teater, apalagi teater pelajar. Teater pelajar sulit berkembang karena umumnya sekolah tidak membuka ekstrakurikuler teater, yang barangkali memang (karena) minimnya peminat. Itulah sebabnya, jumlah teater pelajar tidak banyak. Bahkan tidak menutup kemungkinan tak dijumpainya satu pun komunitas teater pelajar di kabupaten/kota tertentu.

Padahal, melalui teater, siswa tak hanya terasah ranah kognitifnya, tetapi juga ranah afektif dan motoriknya. Dengan demikian siswa terbekali secara seimbang pertumbuhan aspek-aspek yang diperlukan dalam menjalani keberlangsungan hidup. Melalui teater, siswa dilatih berpikir cerdas, bersikap positif, dan terampil bertindak, baik secara individual maupun kolektif.

Barangkali karena itulah, Djarum, yang (telah) sejak lama memiliki program peduli pendidikan itu, merasa peduli juga terhadap keberadaan teater pelajar. Kepekaan Djarum membidik ”kefektifan” membangun karakter generasi penerus lewat kegiatan siswa/pelajar berteater agaknya patut diacungi jempol. Sebab, agaknya amat jarang, atau bahkan tidak ada (sama sekali) lembaga swasta yang mau berpihak pada teater pelajar. Djarum memotivasi, mendukung, bahkan memasilitasi pertumbuhan teater pelajar di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah (Jateng) melalui even Festival Teater Pelajar Djarum Award. Festival teater pelajar tersebut telah berlangsung tiga kali, sejak 2008. Dan, sepertinya, ajang seni peran pelajar itu dijadikan program tahunan.

Meski hingga kini pesertanya belum banyak, tetapi dari tiga kali keberlangsungannya, dapat dibilang ada peningkatan jumlah peserta. Fenomena itu menandakan bahwa pertumbuhan teater pelajar di Kudus relatif (merangkak) baik. Dan itu artinya, telah terjadi ”perluasan” wilayah pembinaan/pembangunan karakter generasi penerus (kita) lewat teater pelajar.

Maka, penting kiranya ke depan untuk dipikirkan oleh Djarum, yakni dapat membuka peluang bagi pertumbuhan teater pelajar di luar Kudus. Caranya, membuka festival teater pelajar tak hanya se-Kabupaten Kudus, tetapi mencakup wilayah yang lebih luas (lagi). Syukur-syukur jika di daerah lain ada perusahaan/lembaga swasta yang memiliki kepedulian terhadap teater pelajar seperti yang telah dan (tentu) seterusnya dilakukan oleh Djarum itu. Semoga.

7 komentar:

  1. Wah, salut buat Djarum.
    Sebenarnya, Pak, kegiatan memberi kesempatan pada siswa untuk dapat mengaktualisasikan diri sangat penting. Pelajaran seni dan OR di negara2 maju mendapatkan porsi yg signifikan dalam rangka itu. Lha di negara yang diuprek-uprek bolak-balik hanya UN, UN, dan UN yang nota bene menurut saya justru kurang pas.

    BalasHapus
  2. di kampus saya teater itu masih dianggap kelas dua,. padahal bakat2 anak teater gede banget

    BalasHapus
  3. blue masih suka menyaksikan teatre di TIM jakarta,kang
    salam persahabatan...........ehheh

    BalasHapus
  4. salut dengan djarum yang telah memprakarsai pemberian award buat teater pelajar, pak. semoga makin banyak swasta yang peduli utk menggelar event2 yang mencerahkan.

    BalasHapus
  5. Wow very nice your post share us. This post inspiration for young people. thanks sharing your post

    BalasHapus
  6. I am first here visiting your site while I'm Glad your a pos i really like to reading ..

    BalasHapus
  7. I really like your post..thanks\

    BalasHapus

""