Sabtu, 20 November 2010

DPR Harus Belajar Sikap Kemanusiaan


DPR Harus Belajar Sikap Kemanusiaan

Masih ingat geguyon Gus Dur ketika masih menjabat sebagai presiden di hadapan para wakil rakyat? Geguyon, atau lebih tepatnya pernyataan menyindir keberadaan wakil rakyat ketika itu. Yaitu wakil rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dikatakan seperti anak taman kanak-kanak (TK). Sikap yang melekat pada (diri) anak TK di antaranya emosional, kurang berpendirian, egois, dan tipis empati.

Fakta aktual tentang keberadaan DPR seperti yang pernah dinyatakan oleh Kyai Haji Abdurrahman Wahid itu, belakangan ini justru semakin menjadi-jadi. Ketika sebagian rakyat Indonesia yang (dulu) memilih mereka menjadi wakilnya di legislatif ditimpa bencana alam, ditinggal begitu saja untuk mengadakan studi banding ke luar negeri. Seakan-akan studi banding (yang ada unsurnya bersenang-senang itu) merupakan agenda yang lebih penting ketimbang penderitaan rakyat yang perlu segera diberi pertolongan. Logika dewasa, mestinya studi banding dapat diundur; beralih konsentrasi pada penderitaan rakyat.

Belum lagi yang akhir-akhir ini banyak dipublikasikan media tentang sikap beberapa anggota DPR terhadap ratusan tenaga kerja wanita (TKW) yang mengalami ”ketidaknyamanan” di Bandara Dubai karena adanya pembatalan penerbangan ke Jakarta akibat abu vulkanik Merapi yang diprediksi mengganggu arus perjalanan di udara. Ratusan TKW karena keterbatasannya dalam berbagai hal yang akhirnya mengalami kebingungan itu, tak mendapat ”perhatian” sedikit pun dari rombongan DPR yang kebetulan berada di bandara yang sama dalam waktu yang tidak berbeda. Ditulis oleh salah satu media, yang memberi pertolongan terhadap ratusan TKW yang telantar di Bandara Dubai itu justru orang-orang Indonesia yang transit di bandara tersebut karena kebetulan ada perjalanan ke luar negeri.

Orang-orang Indonesia yang bukan anggota DPR itu yang akhirnya mengkoordinasi para TKW dari bandara ke hotel (untuk menginap sementara) dan dari hotel ke bandara (untuk kemudian melakukan penerbangan ke Jakarta). Semetara itu, masih ditulis oleh media yang sama, beberapa anggota DPR yang selesai mengadakan studi banding tentang rumah susun di Moskow, Rusia itu, justru terkesan menghindar dari rombongan TKW.

Agaknya anggota DPR (kita) masih harus belajar dan (mau) mengembangkan sikap-sikap kemanusiaannya yang selama ini telah hilang. Agar menjadi wakil rakyat yang tidak egois, namun berempati tinggi terhadap penderitaan siapa pun, lebih-lebih rakyat yang memilihnya.

9 komentar:

  1. kenyataan seperti itu bisa jadi lantaran proses rekruitment-nya yang meragukan, pak. sungguh menyedihkan kualitas para wakil rakyat karena dihasilkan melalui proses yang tdk beres, membeli suara atau praktik serangan fajar. akibatnya ya seperti itu. ketika negeri ini ditimpa bencana, mereka malah lebih memilih melancong ketimbang dekat dengan rakyat yang tengah menghadapi musibah.

    BalasHapus
  2. aku mengomentari judulnya...
    memang betul DPR harus bersikap dan mempunyai kemnusian sedikit aja. masak aku dengar di berita, TKI ma org2 DPR itu gk dianggap sama sekali.

    BalasHapus
  3. ilmu yg mereka punya gag tercermin dari sikap mereka.

    BalasHapus
  4. Saya makmum pak sawali dalam hal ini. Semoga mereka yang kini menyandang gelar wakil rakyat yang terhormat semakin amanah, sidiq dan fatonah.

    BalasHapus
  5. kang menarik postnya
    salam hangat dari blue

    BalasHapus
  6. saya sebagai rakyat jelas tidak terima, jika memiliki wakil seperti itu. Lantas mereka itu mewakili rakyat yang mana...?
    belum lagi MPR yang dulu dianggap penjelmaan rakyat...lha sampean apa ya mau menjelma jadi orang yang gak lancar membaca...?

    BalasHapus
  7. DPR pada akhirnya menjadi lembaga yang menyebalkan ya, Pakdhe...

    Gimana kabar nih? Persiapan Natal sudah meriah kah?

    BalasHapus
  8. DV: Kabar baik, Om. Om sendiri dan keluarga, gimana kabar?

    Menjelang Natal kali ini, saya dan putri kami yang pertama telah disibukkan berlatih koor di gereja, Om. Koornya gabungan anak-anak dan dewasa. Dan,ternyata menarik, Om.

    BalasHapus

""