Rabu, 17 November 2010

Mengerikan, Erupsi Krisis Moral



Mengerikan, Erupsi Krisis Moral

Erupsi Merapi (memang) sungguh memrihatinkan. Merenggut ratusan korban jiwa. Membawa ribuan korban luka-luka. Meluluhlantakkan tak terhitung jumlah harta benda. Meninggalkan duka berkepanjangan bagi yang kehilangan keluarga, kerabat, dan saudara.

Akan tetapi, kini, aktivitas dan intensitas Merapi yang boleh dibilang telah berada pada fase antiklimaks, menumbuhkan semangat yang beberapa waktu (terakhir) ini mati. Terbukti, penduduk yang berada di pengungsian, kini, telah ada yang mulai bergegas kembali ke tempat tinggal mereka, di wilayah seputar Merapi. Semangat hidup mereka sekalipun barangkali masih dalam suasana nestapa, mulai tampak merekah.

Oleh karena itu, dukungan moral dan material menjadi modal yang amat penting dibutuhkan. Dukungan rakyat secara spontan terus mengalir, baik tenaga, dana, maupun barang. Pemerintah (meskipun agak sedikit terlambat) mulai menghitung-hitung anggaran untuk pemulihan/perbaikan. Upaya kemanusiaan itu perlu dikawal dan dijaga dengan integritas tinggi, agar peruntukannya tepat pada sasaran.

Sebab, telah menjadi rahasia umum bahwa sejatinya di negeri ini yang sungguh memrihatinkan adalah berlangsungnya erupsi krisis moral yang telah begitu akut. Tak ada henti-hentinya. Jika erupsi Merapi, kini, telah berhenti; tapi erupsi krisis moral, kini, masih terus terjadi. Dan, justru, terkesan semakin menjadi-jadi hingga merambah ke seluruh ranah kehidupan.

Erupsi krisis moral yang aktual yakni ketika Gayus Halomoan Tambunan tertangkap kamera wartawan di Bali dan (kemudian) ia mengakui. Sangat tidak masuk akal bukan orang yang ditahan di Jakarta, dapat menonton pertandingan Commonwealth Bank Tournament of Champions 2010 di Bali? Tentu di balik itu ada banyak pihak yang berperan. Bahkan boleh jadi melibatkan pejabat (tinggi) negeri ini. Itulah fakta yang terjadi. Segala sesuatu bisa dijungkirbalikkan. Karena uang, yang salah bisa dibebaskan, sementara yang benar malah tak sedikit pun merasakan kemerdekaan. Masih melekat di ingatan kita, DPR (wakil rakyat) mengadakan lawatan ke luar negeri dengan biaya yang pasti tidak kecil manakala di negeri ini terjadi bencana menimpa rakyat. Juga tak sedikit warga memanfaatkan suasana tragedi kemanusian akibat bencana (alam) akhir-akhir ini untuk ”mengenyangkan” perut sendiri. Beberapa media, misalnya, memublikasikan sekelompok orang mencuri harta benda pengungsi Merapi. Semua itu menunjukkan bahwa erupsi krisis moral benar-benar telah sampai pada fase yang amat menggetirkan.

Amat menggetirkan karena dampak yang ditimbulkan boleh jadi lebih parah ketimbang akibat erupsi Merapi. Diakui atau tidak, dampaknya dapat ”menyengsarakan” ratusan juta orang (secara turun-temurun) dalam waktu yang tak terdeteksi berakhirnya jika tidak ada kesadaran kolektif untuk berbuat mulia.

5 komentar:

  1. betul, erupsi moral benar-benar telah mengganas, mengikis segala sendi-sendi kehidupan, hingga kita hanya bisa bangga dengan CAP negeri terkorup. Tadi ada pejabat tinggi di sekolah mengeluh bahwa orang-orang pinter di negeri ini tidak diberi posisi dan apresiasi semestinya. Lantas saya nyeletuk, " Apa di sekolah kita juga sudah menghargai orang-orang berprestasi...?"

    BalasHapus
  2. Sepakat, Pak.
    Erupsi Merapi akan menyuburkan tanah disekitarnya.Erupsi moral akan merusak bangsa.

    BalasHapus
  3. pak kalau boleh usul, daftar ke www.gravatar.com ya pak, supaya ketika komen, gambar bapak bisa muncul...biar tambah greng gitu

    BalasHapus
  4. @budiesastro:
    Usul Panjenengan segera ditindaklanjuti. Terima kasih, Pak.

    @Tukang Colong:
    Ya Mas, benar sekali telah menjadi bahaya laten. Semakin lama semakin "menelan" banyak orang secara diam-diam.

    BalasHapus

""